



Orang-orang yang Menyadari bahwa Selebriti dan Influencer hanya Berbagi Gaya Hidup Palsu di Media Sosial Biasanya Memiliki Ciri-ciri Karakter Ini
- Selebriti dan influencer mungkin akan selalu tampil keren di seluruh media sosial yang kita punya. Kita bahkan sering kali iri dengan kehidupan mereka yang sempurna dan berharap bisa menjadi seperti mereka.
Sementara banyak orang tertipu oleh ilusi gaya hidup sempurna seorang influencer, tipe orang tertentu justru melihatnya hanya sebagai adanya sebuah penampakan luar saja.
Jika Anda mulai mempertanyakan keaslian selebriti atau tokoh media sosial favorit Anda, menurut sebuah artikel dari laman Ideapod yang dilansir JawaPos.com, Jumat (22/11), kemungkinan besar Anda memiliki beberapa ciri karakter berikut.
1. Dewasa secara emosional
Penelitian menemukan bahwa tokoh-tokoh media sosial memiliki pengaruh lebih besar pada orang yang lebih muda (remaja dan orang-orang di awal usia 20-an) dibandingkan mereka yang berusia akhir 20-an dan di atasnya.
Alasannya adalah kematangan emosional mereka. Sebuah studi tahun 2023 yang diterbitkan dalam Current Psychology menemukan bahwa otak remaja secara signifikan lebih peka terhadap kesan orang lain, terutama pendapat teman sebayanya.
Karena perubahan mental yang terjadi selama masa remaja, remaja memiliki keinginan yang lebih kuat untuk merasa diterima dan menjadi bagian dari suatu kelompok.
Oleh karena itu, mereka yang paling mungkin tertipu oleh ilusi perfeksionisme yang diposting para influencer secara online adalah kaum muda dan mereka yang belum matang secara emosional.
2. Berpikir bebas
Remaja bukan satu-satunya target audiens para influencer dan selebriti. Siapa saja yang mempercayai perkataan orang lain tanpa berpikir panjang atau mengikuti kata orang tanpa bertanya akan jatuh ke dalam kepalsuan mereka.
Karena itulah sebagian besar populasi dunia, selebriti dan influencer sangat sukses dalam membuat orang mendengarkan mereka, mengikuti mereka, dan melakukan apa yang mereka katakan.
Tetapi jika seseorang dapat berpikir sendiri, mereka akan mempertanyakan apa yang mereka lihat secara daring. Alih-alih melakukan apa yang diperintahkan, mereka melakukan penelitian sendiri dan membentuk opini berdasarkan temuan mereka.
3. Skeptisisme
Menjadi seorang skeptis berarti memiliki kecenderungan meragukan kebenaran dalam segala hal. Orang yang skeptis secara alami cenderung mempertanyakan keaslian apa yang mereka lihat di media sosial.
Misalnya, jika mereka melihat seseorang di Instagram yang mengaku mengalami 'hari terbaik yang pernah ada' setiap hari, mereka akan segera mulai mempertanyakannya.
Karena kaum skeptis mendekati media sosial dengan pandangan kritis, mereka juga dapat melihat hal-hal yang tampaknya mustahil atau tidak praktis, yang menandakan kepalsuan.
4. Mencari kebenaran
Seseorang yang memiliki sifat kepribadian mencari kebenaran akan mengevaluasi apa pun yang mereka temui. Mereka mencoba memperoleh informasi sebanyak mungkin tentang suatu topik untuk memperdalam pemahaman mereka tentang dunia.
Satu subjek yang banyak diminati para pencari kebenaran untuk diungkap adalah media. Misalnya, mereka akan meneliti pengaruh teknik manipulasi seperti alat pengeditan, filter, dan penceritaan strategis di media sosial.
Dengan mempelajari bagaimana influencer menciptakan ilusi kemewahan dan kesuksesan, mereka dapat menguraikan pesan yang disampaikan melalui gambar, keterangan, dan narasi mereka.
5. Keaslian
Keaslian adalah salah satu sifat umum di antara orang-orang yang menyadari kepalsuan para influencer. Keaslian merupakan sifat yang langka di dunia tempat setiap orang mencari validasi eksternal dan status sosial.
Orang yang autentik tidak peduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentang mereka atau bagaimana mereka dipandang masyarakat. Jadi, mereka tidak membentuk diri mereka menjadi seperti yang diinginkan orang lain.
Sebaliknya, mereka hanyalah diri mereka sendiri. Ketika Anda menjadi autentik, Anda akan segera menyadari betapa langkanya sifat ini, Anda merasa berbeda dari orang lain karena Anda tidak peduli atau menginginkan hal yang sama seperti mereka.
6. Harga diri yang tinggi
Kita sering kali tidak percaya bahwa kita cukup baik dengan apa adanya. Dan berkat adanya influencer, mereka terus menghidupkan kembali rasa percaya diri mereka dengan mengikuti style para influencer.
Para influencer mengetahui hal ini, jadi mereka menciptakan ilusi bahwa audiens mereka adalah teman-teman mereka untuk mendapatkan kepercayaan diri. Namun bila Anda memiliki citra diri yang sehat, Anda cukup aman untuk tidak tertipu oleh kepalsuan mereka.
7. Individualisme
Orang-orang meniru fashion dan gaya hidup para influencer melihatnya sebagai sesuatu yang trendi. Tetapi mereka tidak menyadari bahwa para influencer dan selebriti dibayar untuk mengunggah sesuatu di media sosial mereka.
Gaun yang dipamerkan seseorang di Instagram storynya kemungkinan besar bukan gaun yang mereka beli sendiri atau pilih sendiri. Sebaliknya, gaun itu dikirimkan oleh merek yang telah membayar mereka untuk mempromosikannya.
Orang-orang yang mengikuti trend percaya bahwa mereka memiliki gaya yang sama dengan para influencer. Namun pada kenyataannya, mereka hanyalah korban dari pemasaran merek.
Sementara orang yang menganut individualisme tidak mengikuti trens. Mereka melakukan pembelian berdasarkan apa yang mereka sukai, bukan apa yang mereka lihat telah dipromosikan para influencer di media sosial.
8. Membumi
Agar tidak terpengaruh oleh perubahan konstan para influencer, Anda harus membumi. Mengapa? Orang yang membumi berakar kuat dalam realitas, karena mereka tidak terpaku pada pikiran atau berkhayal, mereka menjelajahi dunia digital dengan rasa realisme.
Dengan tetap membumi, mereka tidak hanyut dalam penggambaran kesempurnaan dan kesuksesan yang tiada henti di dunia maya. Mereka ingat bahwa gambar dan narasi yang ditampilkan selebriti dan influencer telah dikurasi.
Tag: #orang #orang #yang #menyadari #bahwa #selebriti #influencer #hanya #berbagi #gaya #hidup #palsu #media #sosial #biasanya #memiliki #ciri #ciri #karakter