Geser Keseimbangan Kekuatan Energi Global, Emisi Nasional Tiongkok Turun meski Permintaan Listrik Melonjak
Proyek tenaga surya terapung di lepas pantai milik Sinopec Qingdao Refining & Chemical Co., Ltd, menunjukkan ekspansi energi bersih Tiongkok di tengah lonjakan permintaan listrik. (Foto: Forbes)
20:03
3 Februari 2026

Geser Keseimbangan Kekuatan Energi Global, Emisi Nasional Tiongkok Turun meski Permintaan Listrik Melonjak

 

— Untuk pertama kalinya dalam sejarah ekonomi modern Tiongkok, emisi karbon nasional menunjukkan tren penurunan sementara permintaan listrik justru meningkat. 

Perkembangan ini bukan sekadar anomali data jangka pendek, melainkan indikasi perubahan struktural dalam cara Beijing mengelola pertumbuhan ekonomi, kebijakan energi, dan daya saing industrinya, yang berpotensi memengaruhi keseimbangan kekuatan energi global.

Sejalan dengan itu, sejumlah lembaga pemantau independen mencatat bahwa sejak awal 2024 emisi Tiongkok cenderung stabil hingga menurun, bahkan ketika konsumsi listrik terus meningkat seiring ekspansi industri berteknologi tinggi, digitalisasi manufaktur, dan elektrifikasi transportasi. Pola ini menantang asumsi lama dalam ekonomi energi bahwa pertumbuhan hampir selalu diikuti kenaikan emisi.

Dilansir dari Forbes, Selasa (3/2/2026), tren tersebut terutama didorong oleh lonjakan kapasitas energi terbarukan serta percepatan adopsi kendaraan listrik. Pada 2024, Tiongkok menambah kapasitas pembangkit tenaga surya dan angin lebih banyak daripada gabungan seluruh negara lain—sebuah peningkatan yang mulai mengurangi ketergantungan pada batu bara untuk memenuhi permintaan listrik baru.

Dalam konteks ini, Glen Peters, ilmuwan iklim terkemuka, menegaskan skala perubahan yang terjadi. “Tiongkok dan banyak negara berkembang tengah mengembangkan tenaga surya, tenaga angin, serta kendaraan listrik dengan kecepatan yang sangat tinggi,” katanya kepada Science, menandai pergeseran yang lebih cepat daripada perkiraan banyak analis Barat.

Selain itu, perubahan ini bersifat struktural, bukan semata-mata dipicu perlambatan ekonomi sementara. Dabo Guan, profesor perubahan iklim di Universitas Tsinghua, menilai bahwa sistem energi Tiongkok kini sudah cukup besar sehingga pertumbuhan energi bersih mampu menekan penggunaan pembangkit berbahan bakar fosil secara nyata, bahkan saat permintaan listrik meningkat. Kondisi ini berbeda dengan satu dekade lalu, ketika kapasitas energi terbarukan masih terlalu kecil untuk memberi dampak nasional yang berarti.

Transformasi serupa terlihat di sektor transportasi. Kendaraan listrik kini menyumbang mayoritas penjualan mobil baru di Tiongkok, sehingga menahan laju kenaikan konsumsi bahan bakar minyak dalam jangka panjang, bukan hanya akibat perlambatan ekonomi sesaat. Badan Energi Internasional mencatat bahwa Tiongkok menyumbang 60 persen penjualan mobil listrik global pada 2023, menjadikannya pemain kunci dalam pasar kendaraan listrik dunia.

Tak berhenti di situ, transisi ini berlangsung lintas sektor. Jiang Kejun dari Lembaga Riset Energi Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional Tiongkok menegaskan pendekatan tersebut. “Kami mempelajari dan mempercepat kemajuan teknologi pada panel surya, tenaga angin darat dan lepas pantai, energi panas surya, serta energi nuklir secara terpadu,” ujarnya kepada RFI. Menurutnya, kebijakan Beijing dirancang menyeluruh dan sistematis, bukan sekadar eksperimen kebijakan.

Meski demikian, risiko pembalikan tren tetap ada. Tiongkok masih mengizinkan pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara baru dengan alasan menjaga stabilitas jaringan saat cuaca ekstrem. Di sisi lain, lemahnya sektor properti dan tertundanya proyek infrastruktur besar turut menahan emisi saat ini. Kondisi ini berpotensi berubah jika stimulus ekonomi kembali diperluas.

Centre for Research on Energy and Clean Air memperingatkan potensi kenaikan kembali emisi, tetapi tetap mengakui momentum kuat di sektor energi bersih. “Akselerasi pesat pengembangan energi bersih di Tiongkok kini memiliki bobot ekonomi yang tinggi di tingkat nasional maupun provinsi, sehingga lebih mungkin berlanjut dan menjaga emisi tetap turun menuju target netralitas karbon,” demikian pernyataan lembaga tersebut.

Pada akhirnya, ujian sesungguhnya bersifat strategis, yaitu apakah tren ini bertahan ketika pertumbuhan ekonomi kembali menguat. Jika terbukti berkelanjutan, keseimbangan kekuatan energi global berpotensi bergeser dari dominasi bahan bakar fosil menuju ekosistem industri energi bersih yang semakin dipimpin Beijing, dengan implikasi luas bagi perdagangan, rantai pasok, dan diplomasi energi dunia.

Editor: Setyo Adi Nugroho

Tag:  #geser #keseimbangan #kekuatan #energi #global #emisi #nasional #tiongkok #turun #meski #permintaan #listrik #melonjak

KOMENTAR