Ekonom Nilai Pos Indonesia Layak Jadi Induk Holding BUMN Logistik
Bangunan Pos Indonesia Cilaki, Bandung ini dibangun sejak tahun 1920. Bangunan ini menyimpan banyak kisah sejarah dan heroik masyarakat Indonesia. (Dok POS INDONESIA)
20:04
3 Februari 2026

Ekonom Nilai Pos Indonesia Layak Jadi Induk Holding BUMN Logistik

– Ekonom Piter Abdullah menilai keputusan Danantara menempatkan PT Pos Indonesia (Persero) sebagai induk holding BUMN logistik merupakan langkah strategis yang rasional dan tepat waktu.

Penilaian ini disampaikan Piter merespons pernyataan Direktur Utama Danantara Aset Management Dony Oskaria mengenai rencana konsolidasi BUMN logistik dengan PT Pos Indonesia sebagai entitas induk.

"Langkah Danantara membentuk Holding Logistik Nasional dengan PT Pos Indonesia sebagai induk adalah keputusan yang sangat strategis dan tepat waktu," ujar Piter Abdullah yang juga sebagai Direktur Program dan Kebijakan Center for Policy Studies Prasasti, Selasa (3/2/2026).

Baca juga: PT Pos Jadi Induk, Penggabungan BUMN Logistik Rampung Tahun Ini

Ilustrasi logistik, pengiriman barang. PEXELS/TIMA MIROSHNICHENKO Ilustrasi logistik, pengiriman barang.

Menurut dia, selama ini BUMN logistik beroperasi secara terpisah dan kurang terkoordinasi. Bahkan, dalam beberapa kasus, perusahaan-perusahaan pelat merah tersebut dinilai saling berkompetisi di segmen pasar yang sama.

"BUMN logistik kita berjalan sendiri-sendiri, overlap dalam coverage, bahkan berkompetisi satu sama lain, ini jelas tidak efisien. Konsolidasi adalah keniscayaan jika kita ingin punya national champion yang bisa bersaing dengan pemain global seperti DHL," jelasnya.

Piter menilai pembentukan holding logistik nasional menjadi bagian dari upaya penataan ulang sektor logistik BUMN agar lebih terintegrasi dan memiliki skala ekonomi yang lebih kuat.

Dengan model holding, koordinasi strategi, efisiensi operasional, serta optimalisasi aset dinilai dapat berjalan lebih terarah.

Baca juga: Pelni Dukung Konsolidasi Seluruh BUMN Logistik

Tiga alasan rasional

Piter memaparkan tiga alasan mengapa pemilihan PT Pos Indonesia sebagai induk holding dinilai rasional dari perspektif manajemen strategis.

Piter Abdullah, Direktur Eksekutif Segara Research Institute.KOMPAS.COM/MURTI ALI LINGGA Piter Abdullah, Direktur Eksekutif Segara Research Institute.

Pertama, PT Pos Indonesia dinilai memiliki aset jaringan distribusi terluas di Indonesia dibandingkan BUMN logistik lainnya.

"PT Pos punya aset jaringan terluas, 4.800 lebih titik layanan yang tidak dimiliki BUMN logistik lainnya. Ini infrastruktur yang tidak bisa dibangun dalam waktu singkat," katanya.

Menurut Piter, keberadaan lebih dari 4.800 titik layanan tersebut menjadi modal penting dalam membangun sistem logistik nasional yang terintegrasi, terutama dalam menjangkau wilayah-wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan akses.

Baca juga: Danantara Mau Gabung BUMN Logistik Jadi Satu Perusahaan

Kedua, momentum transformasi yang telah dijalankan PT Pos dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kesiapan perusahaan untuk memimpin konsolidasi.

"Transformasi yang dilakukan PT Pos dalam tiga tahun terakhir menunjukkan readiness mereka. Lihat saja launching kargo internasional mereka bulan ini, itu bukan langkah inkremental, tapi leap yang signifikan," ujarnya.

Ia menilai peluncuran layanan kargo internasional tersebut mencerminkan perubahan strategi bisnis yang lebih agresif dan adaptif terhadap dinamika industri logistik global.

Langkah tersebut, menurutnya, bukan sekadar ekspansi layanan, melainkan sinyal kesiapan perusahaan dalam memainkan peran yang lebih besar di tingkat nasional maupun internasional.

Baca juga: BUMN Logistik Terapkan Nilai Ini dalam Operasional

Ketiga, PT Pos Indonesia dinilai memiliki brand equity dan tingkat kepercayaan publik yang telah terbangun selama puluhan tahun.

Aset tidak berwujud tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam membangun legitimasi dan kepercayaan pemangku kepentingan terhadap holding yang baru terbentuk.

Menurut Piter, kepercayaan publik merupakan fondasi penting dalam sektor jasa logistik yang mengandalkan ketepatan, keamanan, dan keandalan distribusi barang.

Ilustrasi pajak ekonomi digital. SHUTTERSTOCK Ilustrasi pajak ekonomi digital.

Potensi multiplier effect bagi ekonomi digital

Dari perspektif ekonomi makro, Piter melihat potensi besar konsolidasi BUMN logistik ini terhadap pertumbuhan ekonomi digital dan peningkatan inklusivitas ekonomi nasional.

Baca juga: RUU Larangan Monopoli, Pakar Pertanyakan Pengawasan KPPU Ke BUMN

"Dari perspektif ekonomi makro, konsolidasi ini punya multiplier effect yang besar. Logistik adalah backbone ekonomi digital," tegasnya.

Ia menjelaskan, efisiensi dan integrasi sistem logistik akan berdampak langsung terhadap biaya distribusi, kecepatan pengiriman, serta akses pasar bagi pelaku usaha, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Piter mencontohkan, ketika pelaku UMKM di daerah terpencil seperti Papua atau Maluku dapat mengirim produk mereka ke Jakarta atau bahkan untuk ekspor dengan mudah dan terjangkau, hal tersebut akan menjadi perubahan signifikan dalam peta inklusivitas ekonomi nasional.

"Ketika UMKM di Papua atau Maluku bisa mengirim produknya ke Jakarta atau bahkan ekspor dengan mudah dan terjangkau, itu game changer untuk inklusivitas ekonomi. PT Pos dengan jaringannya yang masuk hingga ke kecamatan-kecamatan terpencil, plus kapabilitas kargo internasional yang baru diluncurkan, bisa jadi enabler bagi jutaan UMKM yang selama ini kesulitan akses logistik," tutup Piter.

Baca juga: Holding BUMN Farmasi Mau Dirombak, Kimia Farma Lepas dari Bio Farma

Rencana pembentukan holding logistik nasional dengan PT Pos Indonesia sebagai induk dinilai menjadi bagian dari strategi konsolidasi BUMN di sektor logistik.

Menurut Piter, langkah tersebut tidak hanya berorientasi pada efisiensi internal perusahaan, tetapi juga memiliki implikasi yang lebih luas terhadap struktur dan daya saing sistem logistik nasional.

Tag:  #ekonom #nilai #indonesia #layak #jadi #induk #holding #bumn #logistik

KOMENTAR