7 Tanda Seseorang Sangat Kesepian tetapi Sangat Pandai Menyembunyikannya Menurut Psikologi
seseorang yang sebenarnya sangat kesepian. (Freepik/freepik)
10:22
28 Februari 2026

7 Tanda Seseorang Sangat Kesepian tetapi Sangat Pandai Menyembunyikannya Menurut Psikologi

Kesepian tidak selalu terlihat jelas. Tidak semua orang yang merasa hampa tampak murung, menarik diri, atau tidak punya teman. Justru, menurut berbagai penelitian psikologi sosial dan klinis, banyak orang yang paling merasa kesepian adalah mereka yang terlihat paling “baik-baik saja”.

Psikolog seperti John T. Cacioppo—yang dikenal lewat risetnya tentang kesepian—menjelaskan bahwa kesepian bukan soal jumlah teman, melainkan persepsi keterhubungan emosional. Seseorang bisa dikelilingi banyak orang, aktif di media sosial, bahkan menjadi pusat perhatian—namun tetap merasa sendirian secara mendalam.

Dilansir dari Silicon Canals, terdapat 7 tanda seseorang sangat kesepian tetapi sangat pandai menyembunyikannya, sehingga bahkan teman terdekatnya pun tidak menyadarinya.

1. Selalu Tampak Ceria dan Menjadi “Penghibur”

Ironisnya, orang yang paling sering membuat orang lain tertawa justru bisa menjadi orang yang paling merasa kosong di dalam. Mereka menggunakan humor sebagai mekanisme pertahanan (defense mechanism).

Dalam psikologi, ini sering disebut sebagai masking—menutupi emosi asli dengan ekspresi yang berlawanan. Mereka takut jika menunjukkan kesedihan, mereka akan menjadi beban.

Ciri khasnya:

Selalu bercanda, bahkan saat situasi serius.

Mengalihkan topik saat pembicaraan mulai menyentuh hal pribadi.

Jarang sekali terlihat benar-benar rentan.

2. Sangat Mandiri dan Terlihat “Tidak Butuh Siapa-Siapa”

Orang yang kesepian kronis sering membangun identitas sebagai sosok yang sangat mandiri. Mereka terbiasa mengandalkan diri sendiri karena merasa tidak ada yang benar-benar memahami mereka.

Menurut teori keterikatan dari John Bowlby, individu dengan gaya avoidant attachment cenderung menekan kebutuhan emosional mereka dan menghindari ketergantungan pada orang lain.

Tandanya:

Jarang meminta bantuan.

Tidak suka membicarakan masalah pribadi.

Menghindari percakapan emosional yang terlalu dalam.

Padahal di balik itu, ada kebutuhan besar untuk dipahami.

3. Sangat Aktif di Media Sosial, tetapi Merasa Hampa

Mereka terlihat aktif, update, berinteraksi, dan tampak memiliki kehidupan sosial yang menyenangkan. Namun aktivitas itu sering menjadi kompensasi atas kurangnya koneksi emosional yang nyata.

Penelitian dari University of Pennsylvania menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat meningkatkan perasaan kesepian dan perbandingan sosial negatif.

Ciri yang sering muncul:

Mengunggah momen bahagia secara konsisten.

Sangat peduli dengan respons (like, komentar).

Merasa gelisah jika tidak mendapatkan validasi.

4. Selalu Menjadi Pendengar, tetapi Jarang Didengarkan

Orang yang sangat kesepian sering menjadi tempat curhat bagi banyak orang. Mereka empatik, hangat, dan suportif.

Namun:

Ketika mereka ingin berbicara tentang diri sendiri, mereka merasa tidak nyaman.

Mereka takut dianggap lemah.

Mereka merasa masalahnya tidak sepenting orang lain.

Secara psikologis, ini bisa menjadi bentuk self-silencing—kebiasaan menekan kebutuhan emosional demi menjaga hubungan tetap stabil.

5. Terlalu Sibuk dan Produktif Secara Ekstrem

Sebagian orang mengisi kekosongan emosional dengan kesibukan. Karier, proyek, organisasi, olahraga, atau belajar tanpa henti menjadi pelarian.

Psikolog eksistensial seperti Viktor Frankl menjelaskan bahwa manusia membutuhkan makna dan koneksi. Ketika koneksi tidak terpenuhi, orang bisa mencoba menggantinya dengan pencapaian.

Tanda yang terlihat:

Tidak tahan sendirian tanpa distraksi.

Jadwal selalu penuh.

Merasa gelisah saat tidak melakukan apa-apa.

Kesibukan menjadi cara untuk tidak berhadapan dengan rasa sepi.

6. Sangat Sensitif terhadap Penolakan, tetapi Tidak Menunjukkannya

Mereka mungkin terlihat santai ketika dibatalkan janjinya atau tidak diajak berkumpul. Namun di dalam, mereka sangat terpukul.

Penelitian tentang sensitivitas penolakan (rejection sensitivity) menunjukkan bahwa individu yang pernah merasa tidak cukup diterima cenderung:

Menganalisis ulang percakapan.

Overthinking respons orang lain.

Menganggap hal kecil sebagai tanda tidak diinginkan.

Namun karena tidak ingin terlihat “dramatis”, mereka menyimpannya sendiri.

7. Merasa Tidak Pernah Benar-Benar Dipahami

Ini adalah tanda paling dalam.

Mereka mungkin punya sahabat, pasangan, atau keluarga. Tetapi ada perasaan samar bahwa:

“Tidak ada yang benar-benar mengenal diriku yang sebenarnya.”

Menurut Carl Rogers, manusia memiliki kebutuhan mendasar untuk diterima secara autentik (unconditional positive regard). Jika seseorang terus merasa harus memakai “topeng”, maka koneksi yang terbentuk terasa dangkal—meski secara sosial terlihat dekat.

Mengapa Mereka Pandai Menyembunyikannya?

Beberapa alasan psikologis yang umum:

Takut menjadi beban.

Pernah dikecewakan saat mencoba terbuka.

Terbiasa mengurus orang lain.

Merasa emosinya tidak valid.

Takut kehilangan hubungan jika menunjukkan sisi rapuh.

Sering kali, mereka sendiri tidak sepenuhnya sadar bahwa yang mereka rasakan adalah kesepian kronis. Mereka hanya merasa “ada yang kosong”, tanpa tahu harus menyebutnya apa.

Penutup: Kesepian Tidak Selalu Berwajah Murung

Kesepian modern sering tersembunyi di balik:

Senyuman.

Kesibukan.

Produktivitas.

Popularitas.

Bahkan hubungan romantis.

Karena itu, penting untuk lebih peka—bukan hanya pada orang lain, tetapi juga pada diri sendiri.

Kadang, orang yang paling terlihat kuat adalah orang yang paling membutuhkan ruang aman untuk berkata:

“Aku sebenarnya lelah merasa sendirian.”***

 

Editor: Novia Tri Astuti

Tag:  #tanda #seseorang #sangat #kesepian #tetapi #sangat #pandai #menyembunyikannya #menurut #psikologi

KOMENTAR