9 Barang yang Tidak Pernah Dimiliki Orang Kaya Turun-temurun di Rumah Mereka, tetapi Terus Dibeli oleh Orang Kaya Baru Menurut Psikologi
Ada perbedaan mencolok antara orang kaya turun-temurun (old money) dan orang kaya baru (new money).
Perbedaannya bukan hanya soal jumlah kekayaan, tetapi soal mindset, rasa aman finansial, serta cara memandang status sosial.
Dalam psikologi sosial, ada konsep status signaling — dorongan untuk menunjukkan posisi sosial melalui simbol eksternal.
Orang kaya baru cenderung memiliki kebutuhan signaling yang lebih tinggi karena status mereka masih “baru” dan belum terinternalisasi sepenuhnya sebagai identitas diri.
Sementara itu, orang kaya turun-temurun biasanya memiliki rasa aman yang lebih stabil terhadap statusnya.
Dilansir dari Silicon Canals, terdapat 9 barang yang jarang (atau hampir tidak pernah) menjadi fokus orang kaya lama, tetapi sering dibeli oleh orang kaya baru.
1. Logo Mewah yang Terlalu Besar dan Mencolok
Orang kaya baru sering membeli barang dengan logo besar dari brand seperti:
Louis Vuitton
Gucci
Balenciaga
Logo besar berfungsi sebagai alat komunikasi sosial: “Saya mampu membeli ini.”
Sebaliknya, orang kaya turun-temurun lebih memilih desain minimalis tanpa logo mencolok. Bagi mereka, kualitas dan siluet lebih penting daripada pengakuan publik.
Psikologi di baliknya:
Orang kaya baru cenderung mengalami status anxiety (kecemasan status). Barang berlogo menjadi “tameng sosial” untuk mengurangi kecemasan tersebut.
2. Supercar yang Terlalu Mencolok untuk Lingkungan Rumah
Mobil seperti:
Lamborghini
Ferrari
sering menjadi simbol keberhasilan cepat.
Orang kaya lama memang mampu membeli mobil tersebut, tetapi sering memilih kendaraan yang lebih understated seperti sedan klasik atau SUV elegan tanpa warna mencolok.
Psikologi:
Orang kaya baru cenderung ingin validasi eksternal. Kendaraan ekstrem adalah simbol “lonjakan kelas sosial”.
3. Interior Rumah yang Berlebihan dan “Ramai”
Orang kaya baru sering:
Menggunakan marmer berlebihan
Lampu kristal raksasa
Ornamen emas di banyak sudut
Orang kaya lama lebih memilih interior klasik, tenang, dan timeless. Rumah mereka sering terlihat “biasa” dari luar.
Psikologi:
Ketika seseorang baru memperoleh kekayaan, ada dorongan untuk “menunjukkan transformasi”. Rumah menjadi panggung demonstrasi kesuksesan.
4. Perhiasan yang Terlalu Besar untuk Dipakai Sehari-hari
Perhiasan mencolok dengan berlian besar sering diasosiasikan dengan perayaan kesuksesan baru.
Sebaliknya, keluarga kaya lama sering menyimpan perhiasan sebagai warisan keluarga dan memakainya hanya di acara tertentu.
Psikologi:
Orang kaya baru menggunakan perhiasan sebagai simbol “naik level”. Orang kaya lama melihatnya sebagai aset lintas generasi.
5. Jam Tangan dengan Fungsi “Pamer”
Brand seperti:
Rolex
Richard Mille
sering menjadi target pembelian pertama orang kaya baru.
Namun orang kaya turun-temurun lebih tertarik pada craftsmanship, sejarah, dan koleksi pribadi — bukan sekadar harga.
Psikologi:
Barang mahal memberi sensasi pencapaian instan. Tetapi rasa aman jangka panjang tidak berasal dari simbol eksternal.
6. Perabotan yang Seluruhnya Baru dan Seragam
Orang kaya baru sering membeli satu set furnitur lengkap dari showroom mewah agar terlihat serasi.
Sebaliknya, orang kaya lama sering memiliki campuran furnitur lama, barang antik, dan warisan keluarga.
Psikologi:
Orang kaya lama memiliki hubungan emosional dengan benda. Orang kaya baru lebih fokus pada impresi visual.
7. Sistem Hiburan Rumah yang Terlalu Megah
Home theater berlebihan dengan kursi seperti bioskop pribadi sering menjadi simbol keberhasilan baru.
Sementara itu, orang kaya lama lebih banyak menginvestasikan uang pada pendidikan, pengalaman, atau properti jangka panjang.
Psikologi:
Orang kaya baru sering berada pada fase rewarding phase — ingin menikmati hasil kerja keras secara nyata dan terlihat.
8. Koleksi Barang Mahal yang Tidak Relevan dengan Gaya Hidup
Misalnya:
Mengoleksi wine mahal tanpa memahami dunia wine
Membeli lukisan mahal hanya karena nama besar
Orang kaya lama biasanya memiliki ketertarikan autentik terhadap koleksi mereka.
Psikologi:
Perbedaan antara ownership for identity dan ownership for signaling.
9. Renovasi Rumah Berulang untuk Mencerminkan Tren
Orang kaya baru cenderung mengikuti tren desain terkini agar rumah terlihat “up to date”.
Orang kaya turun-temurun lebih memilih desain klasik yang tidak lekang waktu.
Psikologi:
Keamanan identitas membuat seseorang tidak perlu terus-menerus memperbarui citra diri.
Kesimpulan Psikologis
Perbedaan utama bukan pada jumlah uang, melainkan pada:
Rasa aman terhadap status sosial
Identitas diri
Hubungan dengan kekayaan
Orang kaya lama tumbuh dalam lingkungan yang membuat kekayaan terasa normal. Mereka tidak perlu membuktikan apa-apa.
Orang kaya baru, di sisi lain, sering berada dalam fase transisi identitas. Pembelian simbolik menjadi cara untuk mengukuhkan posisi sosial mereka.
Pada akhirnya, psikologi menunjukkan bahwa semakin seseorang merasa aman dengan statusnya, semakin sedikit ia perlu menunjukkannya.***
Tag: #barang #yang #tidak #pernah #dimiliki #orang #kaya #turun #temurun #rumah #mereka #tetapi #terus #dibeli #oleh #orang #kaya #baru #menurut #psikologi