Lamanya Berpacaran Tak Jamin Punya Kesiapan Menikah yang Sama
Ilustrasi pasangan. Setelah hampir enam tahun bersama, Elsa dan Kevin menyadari bahwa kesiapan menikah tidak selalu dimaknai dengan cara yang sama.(freepik.com)
14:10
7 Februari 2026

Lamanya Berpacaran Tak Jamin Punya Kesiapan Menikah yang Sama

Hubungan yang telah berjalan lama sering kali dianggap sebagai tanda bahwa dua orang sudah siap melangkah ke jenjang pernikahan. Namun dalam praktiknya, durasi berpacaran tidak selalu berjalan seiring dengan kesiapan emosional, mental, maupun tujuan hidup kedua belah pihak.

Pasangan Elsa (34) dan Kevin (30), yang sudah berpacaran hampir enam tahun juga punya jawaban yang sama tentang kesiapan menikah

Bagi Elsa, kesiapan menikah bukan hanya soal sudah lama saling mengenal atau sudah saling mencintai.

Ia memaknai kesiapan sebagai kondisi ketika seseorang telah stabil secara emosi dan benar-benar siap berkomitmen.

Siap menikah itu saat seseorang sudah stabil secara emosi dan siap untuk tumbuh bersama pasangan,” ujar Elsa saat diwawancarai Kompas.com, Kamis (5/2/2026).

Baca juga: Tren Pernikahan Turun, Cinta Tak Lagi Cukup Jadi Alasan Menikah?

Menurutnya, pernikahan menuntut kedewasaan dalam berpikir, kemampuan berkomunikasi dengan baik, serta kesiapan menghadapi perubahan dan masalah secara dewasa.

Elsa juga menekankan pentingnya memiliki visi hidup yang sejalan, termasuk kesiapan finansial, menjadi bagian yang tidak bisa diabaikan dalam membangun rumah tangga.

Kevin: Saling mengerti dan melengkapi

Setelah hampir enam tahun bersama, Elsa dan Kevin menyadari bahwa kesiapan menikah tidak selalu dimaknai dengan cara yang sama.Dok. Elsa Setelah hampir enam tahun bersama, Elsa dan Kevin menyadari bahwa kesiapan menikah tidak selalu dimaknai dengan cara yang sama.

Sementara itu, Kevin memiliki definisi kesiapan menikah yang lebih ringkas. Baginya, kesiapan muncul ketika dua orang sudah mampu saling memahami dan melengkapi.

“Menurut saya, siap menikah itu saat bisa saling mengerti dan melengkapi satu sama lain,” kata Kevin.

Ia melihat hubungan sebagai proses belajar memahami pasangan, bukan sekadar memenuhi daftar persiapan tertentu.

Meski terdengar sederhana, pandangan ini tumbuh dari perjalanan hubungan yang tidak selalu mulus.

Kevin mengakui hubungan mereka diwarnai perjuangan dan penyesuaian, tetapi justru dari situ muncul pemahaman satu sama lain.

Baca juga: Angka Pernikahan Menurun: Ada Apa Gerangan?

Dua pandangan, satu tujuan

Perbedaan cara memaknai kesiapan menikah tidak membuat Elsa dan Kevin berjalan ke arah yang berlawanan. Sebaliknya, perbedaan itu menjadi ruang diskusi dan refleksi bersama.

Elsa yang lebih detail dalam memandang kesiapan, dan Kevin yang melihatnya secara lebih praktis, saling melengkapi dalam mengambil keputusan.

Keduanya sepakat bahwa kesiapan menikah bukan sesuatu yang bisa dipaksakan oleh usia atau tekanan lingkungan.

Proses memahami diri sendiri dan pasangan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kesiapan tersebut.

Baca juga: Cerita Elsa dan Kevin Memilih Tak Buru-buru Menikah meski Telah Pacaran Hampir 6 Tahun

Ketika kesiapan tidak bisa diseragamkan

Cerita Elsa dan Kevin menggambarkan realitas banyak pasangan usia 30-an saat ini. Tidak semua orang memiliki definisi kesiapan menikah yang sama.

Ada yang memulainya dari kesiapan emosi dan mental, ada pula yang menekankan rasa saling mengerti dan kebersamaan.

Perbedaan ini bukan hambatan, selama dibicarakan secara terbuka. Bagi Elsa dan Kevin, kesiapan menikah bukan tentang siapa yang lebih siap lebih dulu.

Kesiapan justru tumbuh dari proses saling memahami, berdiskusi, dan berjalan bersama menuju tujuan yang sama.

Baca juga: Angka Pernikahan Menurun, Kesiapan Finansial Jadi Tolak Ukur Menikah

Sosiolog Dr.Yuanita Apriliandi Siregar M.Psi, menilai banyak pasangan muda yang memiliki pola pikir lebih rasional sebelum memutuskan menikah.

"Kalau sekarang bergeser ke rasional yang berbasis untung-rugnya terhadap kita," tutur Yuanita, dosen dari program studi Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini.

Ia menjelaskan, sebelumnya, pernikahan kerap dilekatkan pada keyakinan bahwa kehidupan rumah tangga akan menemukan jalannya sendiri, alias "nikah saja dulu, ke depannya lihat nanti."

Keyakinan tersebut berakar pada nilai agama, tradisi, dan cara pandang yang menempatkan takdir sebagai penentu utama. Namun, seiring perubahan sosial dan meningkatnya akses pendidikan, pola pikir tersebut tidak lagi diterima begitu saja.

Baca juga: 5 Tanda Seseorang Belum Siap Menikah meski Telah Lama Pacaran Menurut Psikolog

Tag:  #lamanya #berpacaran #jamin #punya #kesiapan #menikah #yang #sama

KOMENTAR