Pasangan Muda Tak Lagi Percaya Ungkapan Rejeki Menyusul Setelah Menikah
Ilustrasi menikah(freepik.com)
09:05
7 Februari 2026

Pasangan Muda Tak Lagi Percaya Ungkapan Rejeki Menyusul Setelah Menikah

- Penurunan angka pernikahan di Indonesia dalam satu dekade terakhir bukan sekadar soal berkurangnya pasangan yang menikah, melainkan juga perubahan mendasar dalam cara masyarakat memaknai pernikahan itu sendiri.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada 2014 jumlah pernikahan masih sekitar 2,1 juta peristiwa, sementara pada 2024 turun hingga mendekati 1,4 juta.

Di balik penurunan tersebut, tersimpan pergeseran cara berpikir yang semakin rasional, tidak lagi menggantungkan nasib pada takdir.

“Kalau misalnya dulu, yang penting cinta kemudian disertai dengan kepasrahan. Kalau misalnya sudah menikah, 'nanti kok ada rezekinya'. Itu kepasrahan terhadap takdir atau suratan nasib," tutur sosiolog Dr.Yuanita Aprilandini Siregar M.Si dalam wawancara daring pada Jumat (6/2/2026).

Pernikahan tidak lagi diposisikan sebagai peristiwa yang dijalani dengan kepasrahan penuh terhadap nasib, tetapi sebagai keputusan hidup yang harus direncanakan, dinegosiasikan, dan dipertimbangkan konsekuensinya sejak awal hubungan.

Baca juga: Tren Pernikahan Turun, Cinta Tak Lagi Cukup Jadi Alasan Menikah?

Dari pasrah pada takdir, ke perencanaan hidup

Dosen program studi Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Dr. Yuanita Aprilandini Siregar, M.Si..dok. pribadi Dosen program studi Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Dr. Yuanita Aprilandini Siregar, M.Si..

Yuanita menjelaskan, sebelumnya, pernikahan kerap dilekatkan pada keyakinan bahwa kehidupan rumah tangga akan menemukan jalannya sendiri, alias "nikah saja dulu, ke depannya lihat nanti."

Keyakinan tersebut berakar pada nilai agama, tradisi, dan cara pandang yang menempatkan takdir sebagai penentu utama.

Namun, seiring perubahan sosial dan meningkatnya akses pendidikan, pola pikir tersebut tidak lagi diterima begitu saja. Masyarakat kini cenderung menuntut kepastian, bukan hanya harapan.

Baca juga: Angka Pernikahan Menurun: Ada Apa Gerangan?

"Kalau sekarang bergeser ke rasional yang berbasis untung-rugnya terhadap kita," tutur Yuanita, dosen dari program studi Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini.

Sebagai contoh, banyak pasangan yang menunda pernikahan karena ingin mempersiapkan diri secara mental dan finansial, demi membangun rumah tangga yang stabil.

Mempersiapkan diri secara mental juga dapat membantu seseorang lebih mudah beradaptasi dengan kehidupan setelah menikah, serta menghadapi permasalahan rumah tangga yang akan datang dengan kepala dingin.

Cara berpikir ini membuat individu tidak lagi hanya bertanya “apakah saya mencintai dia” atau "apakah dia mencintai saya", tetapi juga “apakah keputusan ini realistis untuk hidup saya ke depan”.

Baca juga: 8 Tips Memulai Tabungan Pernikahan

Artinya, penurunan angka pernikahan yang tercatat oleh BPS dapat dibaca sebagai cerminan meningkatnya kehati-hatian pasangan sebelum melangkah ke jenjang yang berikutnya, bukan semata penolakan terhadap institusi pernikahan.

Membicarakan masa depan sejak pacaran

Ilustrasi menikah. Lirik dan arti lagu ?Tepuk Sakinah? kini viral di TikTok. Lagu ini jadi cara unik KUA mengedukasi calon pengantin tentang makna sakinah, mawaddah, dan rahmah dalam rumah tangga.PEXELS/DADAN RAMDANI Ilustrasi menikah. Lirik dan arti lagu ?Tepuk Sakinah? kini viral di TikTok. Lagu ini jadi cara unik KUA mengedukasi calon pengantin tentang makna sakinah, mawaddah, dan rahmah dalam rumah tangga.

Konsekuensi paling nyata dari rasionalitas baru ini adalah munculnya kebiasaan membicarakan hal-hal yang dulu dianggap tabu sebelum menikah.

Isu karier, pengelolaan keuangan, sampai pembagian peran dalam rumah tangga, kini disarankan untuk dinegosiasikan sejak masa pacaran.

"Misalnya setelah menikah dan punya anak nanti, istri fokus ke anak dan suami fokus ke pekerjaan. Kalau dari awal dibicarakan, sudah enak. Bukan yang setelah nikah baru dibicarakan. Dari awal sebelum membentuk keluarga sudah diomongin," terang Yuanita.

Menurutnya, pembicaraan semacam ini menjadi penting karena banyak konflik rumah tangga justru berakar dari hal-hal yang tidak pernah dibicarakan sejak awal hubungan.

Baca juga: 8 Cara Menghadapi Mertua Toxic agar Rumah Tangga Tetap Harmonis

Cinta tidak lagi "buta"

Pandangan lama tentang arti cinta ikut bergeser. Cinta tidak lagi dipahami sebagai perasaan yang meniadakan pertimbangan rasional, alias "cinta buta".

Apapun yang terjadi, yang penting menikah dulu dengan calonnya. Kini, logika tersebut semakin jarang dijadikan pegangan. Cinta tetap penting, tetapi tidak lagi berdiri sendiri tanpa dukungan kesiapan ekonomi, psikologis, dan kesepakatan bersama tentang masa depan.

Sikap kritis ini membuat individu merasa perlu memastikan kesiapan sebelum melangkah, alih-alih mengandalkan keyakinan bahwa semuanya akan berjalan dengan sendirinya.

Baca juga: Tren “Rp 10.000 di Tangan Istri”, Ini Cara Hindari Masalah Rumah Tangga Soal Kebutuhan

Rasional bukan berarti anti-pernikahan

Yuanita menegaskan, meningkatnya rasionalitas bukan berarti masyarakat menolak pernikahan. Sebaliknya, keputusan untuk menunda atau bahkan tidak menikah, justru menunjukkan kesadaran terhadap konsekuensi jangka panjang.

“Jadi memang semakin modern seseorang atau semakin tinggi tingkat pendidikannya, kebanyakan rasionalitas yang berbasis nilai itu sudah bergeser ke rasionalitas berbasis instrumental,” ujar dia.

Individu memiliki lebih banyak pertimbangan dan persiapan sebelum memutuskan untuk menikah, guna memastikan bahwa dirinya aman dalam pernikahan tersebut.

"Makanya manusianya kan juga sudah berubah. Enggak cuma pasrah terhadp takdir atau memercayai bahwa banyak anak banyak rezeki, atau rezeki sudah ada yang ngatur," pungkas Yuanita.

Baca juga: Siap Materi tapi Terganjal Restu, Kisah di Balik Angka Pernikahan yang Turun

Tag:  #pasangan #muda #lagi #percaya #ungkapan #rejeki #menyusul #setelah #menikah

KOMENTAR