18 Tahun Partai Gerindra: Refleksi Perjuangan dan Janji Kerakyatan
Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Sugiono menyampaikan sambutan saat peringatan HUT ke-18 Partai Gerindra di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (6/2/2026). Fraksi Gerindra di DPR menggelar doa lintas agama dan syukuran dalam rangka memperingati HUT ke-18 Partai Gerindra dengan tema Kompak, Bergerak, dan Berdampak. (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha)
10:50
7 Februari 2026

18 Tahun Partai Gerindra: Refleksi Perjuangan dan Janji Kerakyatan

PARTAI Gerakan Indonesia Raya atau yang populer dengan Partai Gerindra pada 6 Februari 2026, genap berusia 18 tahun.

Perjalanan panjang partai politik yang lahir dari semangat mewujudkan kemandirian ekonomi, kedaulatan politik, serta pembangunan karakter bangsa sebagai mana yang dicatatkan dalam manifesto perjuangan Partai Gerindra.

Eksistensi Partai Gerindra seiring dengan perjalanan politik Prabowo Subianto yang tampil sebagai seorang pemimpin nasionalis-populis dalam lanskap politik nasional.

Sifat kepemimpinan yang merepresentasikan semangat kerakyatan yang konsisten dari waktu ke waktu.

Prabowo adalah putra dari begawan ekonomi Indonesia Soemitro Djojohadikoesoemo dan menantu dari Soeharto memang mewarisi nama besar keluarga. Namun, ia sekaligus juga memikul beban sejarah dan tanggung jawab ideologis.

Prabowo menjalani proses politik yang tidak mudah, bertahap dan terlibat langsung dalam setiap dinamika kerakyatan tanpa meloncat melalui jalur istimewa.

Visi teknokratiknya yang menekankan penguatan sektor pertanian sebelum menuju industrialisasi sebagaimana gagasan ekonomi kerakyatan dari ayahnya Soemitro Djojohadikoesoemo nyatanya tidak bisa diterima oleh para pemegang hak suara di Konvensi Capres Partai Golkar 2004.

Baca juga: Potret Bekerja tapi Tetap Miskin di Indonesia

Prabowo tidak terpilih dan harus mengakui kekalahannya karena yang dicalonkan Partai Golkar di Pilpres 2004 adalah Wiranto.

Kekalahan Prabowo di Konvensi Partai Golkar menjadi bukti tersahih bahwa perjalanan politik Prabowo tidak mulai dari bentangan karpet merah kekuasaan, tapi ia merintisnya dengan penuh perjuangan.

Pilihannya ketika keluar dari Partai Golkar kemudian mendirikan Partai Gerindra di tahun 2008 kala itu dianggap banyak orang sebagai sesuatu yang irasional.

Prabowo banyak mendapat suara sumbang bernada meremehkan dan skeptis. Pasalnya, Prabowo harus meninggalkan kenyamanannya berada di status quo Partai Golkar sebagai institusi partai besar yang sarat sejarah demi merintis jalan politiknya sendiri.

Namun, bagi Prabowo, keyakinan mendirikan partai baru bukan hanya soal persepsi rasional atau irasional, tetapi bagian dari ketetapan hati dalam memperjuangan idealisme demi mewujudkan program kerakyatan yang diyakininya.

Pada perjalannya sifat kepemimpinan Prabowo yang patriotik, nasionalis, tegas, disiplin, dan rekonsiliatif berhasil diterima oleh rakyat Indonesia dengan indikator keberhasilan Partai Gerindra selalu lolos parliamentary threshold dan mengusung Capres/Cawapres dari pemilu ke pemilu sejak 2009.

Ketahanan Partai

Keberhasilan Partai Gerindra yang konsisten menaikkan persentasi perolehan suara dan kursinya dalam empat Pemilu terakhir, yaitu Pemilu 2009 meraih 4,46 persen (26 Kursi), Pemilu 2014 dengan raihan 11,81 persen (73 Kursi), Pemilu 2019 dengan raihan 12,57 persen (78 Kursi) dan Pemilu 2024 dengan raihan 13,22 persen (86 Kursi) adalah bukti betapa sentralnya sosok Prabowo di partai berlambang kepala burung garuda tersebut.

Personifikasi sosok Prabowo di Partai Gerindra melampaui kapasitasnya sebagai ketua dewan pembina atau ketua umum.

Prabowo adalah simbol perjuangan ideologis yang memandu partai dalam menanamkan semangat pada pikiran dan hati setiap kader.

Baca juga: Saatnya Negara Berpihak pada Gig Economy

Para kader Partai Gerindra tidak sekadar diajarkan Prabowo bagaimana cara untuk menang, tapi diberikan pemahaman komprehensif tentang apa tujuan kemenangan yang hendak dicapai.

Dalam setiap proses kaderisasi di Partai Gerindra, Prabowo selalu membangun bonding atau ikatan emosional yang melekat dengan misi memperjuangkan partai dengan mendorong ekonomi kerakyatan dan penegakan supremasi hukum yang adil.

Ketika bonding terbentuk menjadi satu kesatuan utuh di antara para kader, maka secara otomatis akan melahirkan loyalitas.

Pada titik ini, kunci ketahanan Partai Gerindra bersumber pada ketokohan serta kepemimpinan Prabowo, konsistensi menjalankan ideologi, militansi kader dan sikap dinamis dalam memandang politik.

Itu sebabnya, ketika Partai Gerindra berada di luar pemerintahan, sikap partai terhadap pemerintah yang berkuasa sifatnya rasional dengan mendukung segala kebijakan pro-rakyat dan aktif mengkritisi kebijakan yang jauh dari kepentingan rakyat.

Selain itu, rentetan kekalahan pada tiga edisi Pilpres, yaitu Pilpres 2009, Pilpres 2014 dan Pilpres 2019 selalu menjadi ruang refleksi bagi Partai Gerindra.

Evaluasi menyeluruh dilakukan dengan pelbagai perbaikan demi tetap berkobarnya api semangat pantang menyerah pada setiap kader.

Kekalahan yang pada akhirnya mampu dimaknai sebagai pembelajaran, kemudian ditransformasikan menjadi satu kekuatan kolektif bahwa perjuangan politik Prabowo adalah bentuk tanggungjawab moral.

Hal ini pada akhirnya menginspirasi seluruh elemen partai dalam menjaga api semangat untuk terus berjuang bersama Prabowo terlepas hasil akhirnya akan menang atau kalah.

Pun pada akhirnya setiap pertarungan elektoral Prabowo mampu menginspirasi banyak orang, baik pengurus partai, kader hingga konstituen pemilih untuk tetap setia pada Partai Gerindra.

Agenda kerakyatan

Satu semangat yang tidak pernah berubah dari Partai Gerindra sejak berdiri hingga berhasil mengantarkan Prabowo Subianto terpilih menjadi Presiden ke-8 Republik Indonesia adalah konsistensinya dalam memperjuangkan agenda-agenda kerakyatan.

Baca juga: Rp 10.000, Hak Anak, dan Runtuhnya Negara Kesejahteraan

Pelbagai program kerakyatan dari Pemerintahan Presiden Prabowo mulai dari Makan Bergizi Gratis (MBG), sekolah rakyat, pemeriksaan kesehatan gratis, kenaikan gaji guru hingga penertiban kawasan hutan seutuhnya adalah terjemahan langsung dari manifesto perjuangan Partai Gerindra yang digagas 18 tahun lalu.

Pada prinsipnya, di mana pun posisi Partai Gerindra, di dalam atau di luar pemerintahan, konsistensi partai dalam mendorong agar negara hadir dalam setiap denyut nadi agenda kerakyatan menjadi harga mati yang selalu diperjuangkan.

Bagi Partai Gerindra, kekuasaan itu bukan sekadar tujuan, tapi sebagai langkah strategis dalam mendorong terciptanya kesejahteran bagi seluruh rakyat melalui kebijakan yang berpihak.

Itu sebabnya, pada banyak pidato politik dari Prabowo, ia selalu menegaskan berkali-kali kepada seluruh pengurus partainya di semua tingkatan dari pusat hingga daerah bahwa loyalitas perjuangan terhadap agenda kerakyatan jauh lebih penting dari ambisi personal kader.

Selain itu, sebagai Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo tidak hanya aktif menyuarakan narasi-narasi kebangsaan, tapi ia juga secara rutin mengadvokasi kadernya yang saat ini menduduki jabatan anggota legislatif maupun eksekutif untuk bekerja sungguh-sungguh dan sepenuh hati.

Pun pengetahuan Prabowo tentang kondisi rakyat sifatnya imparsial karena menyatu dengan pengalaman hidupnya yang telah berkeliling ke banyak di Indonesia dari wilayah perkotaan hingga pelosok-pelosok negeri.

Bagi Prabowo, agenda-agenda kerakyatan yang selama ini diperjuangkan oleh Partai Gerindra bukan sekadar dijadikan sebagai narasi indah, tapi bagian dari tanggungjawab dan janji yang harus jalankan sebagaimana amanat konstitusi Pancasila dan UUD 1945.

Tag:  #tahun #partai #gerindra #refleksi #perjuangan #janji #kerakyatan

KOMENTAR