Moody’s Turunkan Outlook RI Jadi Negatif, Ini Respons Purbaya
Lembaga pemeringkat Moody?s Investors Service menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski demikian, sovereign credit rating Indonesia tetap dipertahankan di level Baa2.(KOMPAS.com/ISNA RIFKA SRI RAHAYU)
12:48
7 Februari 2026

Moody’s Turunkan Outlook RI Jadi Negatif, Ini Respons Purbaya

– Lembaga pemeringkat Moody’s Investors Service menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski demikian, sovereign credit rating Indonesia tetap dipertahankan di level Baa2.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai perubahan outlook tersebut tidak perlu dikhawatirkan. Ia menyebut perekonomian Indonesia telah berbalik arah dan diproyeksikan tumbuh lebih cepat.

“Ya biar aja seperti itu, yang menjelaskan ekonomi kita sudah berbalik arah, lebih cepat daripada sebelumnya. Kedepan akan membaik juga, lebih bagus lagi saya pikir, pertumbuhan akan lebih cepat,” jelasnya kepada awak media di Kementerian Keuangan pada Jumat (6/2/2026).

Baca juga: Purbaya: Temuan Safe House Bukti Kemenkeu Belum Bersih

Rating Tetap Baa2, Masih Layak Investasi

Moody’s mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di level Baa2. Peringkat senior unsecured jangka panjang mata uang lokal dan asing juga tetap berada di Baa2.

Program medium term note senior secured mata uang asing serta program shelf senior unsecured dipertahankan pada level yang sama.

Dengan level Baa2, Indonesia masih berada dalam kategori investment grade atau layak investasi. Level ini menunjukkan kapasitas yang memadai dalam memenuhi kewajiban keuangan.

Outlook negatif mencerminkan peningkatan risiko terhadap profil kredit dalam 12 hingga 18 bulan ke depan. Namun, outlook negatif tidak serta-merta berarti penurunan peringkat (downgrade).

Baca juga: Purbaya Tanggapi Aduan Pertamina Soal Cukai Etanol, Pangkas Aturan Ribet

Alasan Moody’s: Prediktabilitas kebijakan menurun

Dalam pernyataannya pada Kamis (5/2/2026), Moody’s menyebut penurunan outlook dipicu oleh menurunnya prediktabilitas dan koherensi perumusan kebijakan. Komunikasi kebijakan juga dinilai kurang efektif sepanjang setahun terakhir.

Moody’s menilai kondisi tersebut berisiko melemahkan kredibilitas kebijakan di mata investor serta mencerminkan pelemahan tata kelola pemerintahan.

“Ini tercermin dalam peningkatan volatilitas pasar saham dan valuta asing,” tulis Moody’s.

Keputusan itu turut menekan pasar keuangan domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun signifikan dan rupiah melemah terhadap dollar AS setelah pengumuman penurunan outlook.

Selain itu, Moody’s juga menyoroti pembentukan sovereign wealth fund (SWF) baru, yakni Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara).

Lembaga tersebut dinilai berpotensi menimbulkan kewajiban kontinjensi serta memunculkan pertanyaan terkait prioritas investasi dan kerangka tata kelola jika tidak diimbangi koordinasi yang kuat.

Sejumlah analis memperingatkan outlook negatif dapat meningkatkan risk premium aset Indonesia, terutama obligasi jangka panjang dan saham perusahaan milik negara besar.

Baca juga: Anak Buahnya Kena OTT, Purbaya Rombak Pegawai Pajak hingga Bea Cukai

Menkeu: Tidak Ada Masalah Kemampuan Bayar Utang

Menanggapi hal itu, Purbaya menegaskan lembaga pemeringkat pada dasarnya menilai dua aspek utama, yakni kemampuan dan kemauan pemerintah dalam membayar utang. Ia menyatakan Indonesia memenuhi keduanya.

Menurut dia, kekhawatiran yang muncul lebih bersifat jangka pendek. Selama fondasi ekonomi terus membaik, terutama tercermin dari kinerja ekonomi kuartal IV yang dinilai kuat, tidak ada alasan meragukan komitmen Indonesia dalam memenuhi kewajiban utangnya.

“Nanti saya pikir pelan-pelan Moody’s akan melihat apa yang terjadi di sini dengan lebih fair (adil),” ujarnya.

Dari sisi fundamental, ia menilai kondisi ekonomi Indonesia relatif lebih baik dibandingkan banyak negara lain, dengan tingkat utang yang masih terkendali.

Ia bahkan membuka peluang peningkatan peringkat kredit apabila pertumbuhan ekonomi mampu mencapai 6 persen atau lebih.

Baca juga: BI dan OJK: Penurunan Outlook Moodys Tidak Cerminkan Fundamental RI

MBG dan Danantara disorot

Purbaya menyebut Moody’s juga menyoroti kurangnya penjelasan pemerintah terkait Danantara dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia memastikan seluruh program berjalan efektif, efisien, dan tepat sasaran.

“Ya, pasti kita akan memastikan ekonomi berjalan lebih cepat dari sebelumnya. Program MBG kita pastikan berjalan tepat sasaran, efektif dan efisien,” jelasnya.

Ia menambahkan, pemerintah akan mencermati penggunaan anggaran agar tidak terjadi pemborosan yang tidak terkontrol. DPR telah memberi ruang bagi Kementerian Keuangan untuk melihat anggaran kementerian dan lembaga secara menyeluruh.

Evaluasi dilakukan satu per satu, termasuk terhadap MBG, untuk memastikan belanja pemerintah tepat sasaran, tepat waktu, serta meminimalkan kebocoran hingga tingkat pemerintah daerah.

“Mereka takut defisit melebar, tapi mereka tahu saya bisa kendalikan dengan baik,” jelasnya.

Ia menegaskan pemerintah memiliki kemampuan mengendalikan defisit dan menyebut arah kebijakan fiskal berada di jalur yang tepat.

Baca juga: Harga Emas Dunia Menguat Usai Moodys Turunkan Peringkat Utang AS

OJK: Fundamental Ekonomi RI tetap solid

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai keputusan Moody’s tetap mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang solid di tengah dinamika global.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia tumbuh 5,11 persen pada tahun 2025, lebih tinggi dibandingkan capaian tahun sebelumnya.

Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyatakan OJK akan konsisten menjalankan Program Prioritas 2026 dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian, penguatan ketahanan sektor jasa keuangan, serta pendalaman pasar keuangan secara terukur.

Ke depan, kata Friderica, OJK akan secara konsisten menjalankan Program Prioritas 2026 dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian, penguatan ketahanan sektor jasa keuangan, serta pendalaman pasar keuangan secara terukur.

"Seluruh agenda tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, mendukung pembiayaan Program Prioritas Pemerintah, serta memperkuat kepercayaan pelaku pasar dan investor,” ujar Friderica.

(Tim Redaksi: Debrinata Rizky, Erlangga Djumena)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul:

Moodys dari Stabil ke Negatif, Purbaya: Ya Biar Aja, Ekonomi Kita Sudah Berbalik Arah

Menkeu Purbaya Tetap Genjot Pertumbuhan Ekonomi Meski Outlook Moody’s Negatif

Tag:  #moodys #turunkan #outlook #jadi #negatif #respons #purbaya

KOMENTAR