Tips Pemberian Susu untuk Bayi yang Alami Gumoh Berlebih
Ilustrasi bayi.(FREEPIK/JCOMP)
12:35
7 Februari 2026

Tips Pemberian Susu untuk Bayi yang Alami Gumoh Berlebih

- Gumoh merupakan kondisi yang sering dialami bayi, terutama pada bulan bulan awal kehidupan. Biasanya, gumoh tidak berbahaya dan akan berkurang seiring bertambahnya usia.

Namun, ketika gumoh terjadi terlalu sering atau dalam jumlah banyak, kondisi ini perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan aliran balik isi lambung yang berlebihan. 

Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut berisiko menimbulkan gangguan pada saluran cerna bayi. Untuk membantu mengurangi gumoh berlebih, salah satu metode yang dapat dipertimbangkan adalah thickening milk atau penebalan susu.

Baca juga: Tanda Menyusui Efektif, Berat Badan Bayi Bertambah

“Artinya memang ada modifikasi, itu berarti kita menambahkan sesuatu ke dalam susu formula standar. Tujuannya untuk membuat susu lebih tebal,” ujar Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A(K) saat Media Gathering & Health Talk di Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Rabu (4/2/2026).

Thickening Milk untuk Mengurangi Gumoh

Dalam penjelasannya, dr. Hegar mengatakan, thickening milk dilakukan dengan membuat susu menjadi lebih kental sehingga aliran balik isi lambung ke kerongkongan dapat berkurang.

Bahan yang dapat digunakan untuk penebalan susu dan telah melalui penelitian adalah tepung beras.

Adapun dr. Hegar menegaskan bahwa tepung beras yang digunakan harus sudah matang agar aman dikonsumsi bayi.

“Yang bisa kita anjurkan, yang sudah penelitian, itu adalah tepung beras, sebanyak 5 gram. Jadi, 100 mililiter susu normal ditambah 5 gram tepung beras,” jelasnya.

Baca juga: 7 Cara Menumbuhkan Empati pada Anak, Bisa Dimulai Sejak Bayi

Tidak untuk Semua Bayi

Meski dapat membantu mengurangi gumoh, thickening milk tidak bisa diberikan pada semua bayi. Dr. Hegar menekankan bahwa metode ini hanya boleh diterapkan pada kondisi tertentu.

“Hanya kita berikan pada anak di atas satu bulan. Dan juga pada bayi yang sudah tidak ASI eksklusif tentunya,” ujarnya.

Pada bayi yang masih mendapat ASI eksklusif, intervensi ini tidak dianjurkan. Mengatur posisi bayi setelah menyusu menjadi langkah utama yang disarankan untuk membantu mengurangi gumoh dan refluks.

Sementara itu, pada bayi yang sudah menggunakan susu formula, thickening milk dapat dilakukan bersamaan dengan pengaturan posisi setelah menyusu.

“Kalau dengan susu formula, bisa dengan ini dan positioning, itu dibolehkan,” tambahnya.

Baca juga: Bayi Sering Gumoh? Dokter Jelaskan Perbedaan Regurgitasi, GER, dan GERD

Bedanya Thickening Milk dan Pengentalan Susu

Dr. Hegar juga meluruskan perbedaan istilah thickening milk dengan pengentalan susu yang kerap disalahartikan.

Ia menjelaskan bahwa pengentalan susu dilakukan dengan menambah jumlah takaran susu formula dalam volume yang sama, sehingga seluruh kandungan gizi ikut meningkat.

“Saya tetap menggunakan istilah penebalan. Karena kalau pengentalan, 100 mililiter misalnya dari tiga takar jadi empat takar,” jelasnya.

Menurut dr. Hegar, cara tersebut membuat semua zat gizi ikut bertambah, mulai dari karbohidrat, lemak, protein, hingga vitamin dan mineral, yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan bayi pada usianya.

Sebaliknya, thickening milk dilakukan dengan menambahkan bahan dari luar susu formula standar, tanpa mengubah komposisi nutrisi lainnya.

“Kalau thickening, 100 mililiter kita tambah dari luar, tepung beras. Jadi hanya satu jenis yang ditambahkan,” ujarnya.

Baca juga: Ilmuwan Kembangkan Rahim Buatan untuk Bayi Prematur

Mengapa Gumoh Berlebih Perlu Dikurangi?

Pada bayi, katup antara kerongkongan dan lambung belum bekerja sempurna sehingga isi lambung mudah naik kembali dan tampak sebagai gumoh. Kondisi ini sebenarnya umum dan sering kali tidak berbahaya.

Namun, dr. Hegar menjelaskan bahwa gumoh yang terjadi terlalu sering atau dalam jumlah banyak perlu diperhatikan karena menunjukkan aliran balik isi lambung yang berlebihan.

“Kalau refluks itu isinya terlalu lama atau terlalu sering berada di kerongkongan, asamnya bisa merusak dinding esofagus,” jelas dr. Hegar.

Paparan asam lambung yang berulang dapat mengiritasi dinding kerongkongan. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, iritasi tersebut dapat berkembang menjadi peradangan hingga kerusakan saluran cerna yang dikenal sebagai gastroesophageal reflux disease (GERD).

Maka dari itu, upaya mengurangi gumoh berlebih bukan untuk menghentikan gumoh sepenuhnya, melainkan untuk menurunkan frekuensi dan jumlah aliran balik agar tidak menimbulkan gangguan lebih lanjut.

Namun, orangtua tidak perlu khawatir berlebihan. Sebagian besar bayi dengan gumoh berlebih tetap akan membaik seiring pertambahan usia dan matangnya anatomi tubuh.

Baca juga: Bayi Sering Gumoh Tak Selalu Gejala GERD, Ini yang Perlu Diketahui

Tag:  #tips #pemberian #susu #untuk #bayi #yang #alami #gumoh #berlebih

KOMENTAR