Stres Tak Terhindarkan, Begini Cara Bangkit Lebih Kuat Menurut Pakar
Stres rasanya bukan hal yang asing bagi banyak orang.
Tekanan pekerjaan, masalah keuangan, konflik relasi, hingga tuntutan sosial bisa menjadi sumber stres yang datang silih berganti.
Meski sering dipandang negatif, pakar kesehatan menekankan bahwa stres sebenarnya tidak selalu bisa, atau perlu, dihindari sepenuhnya.
Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang merespons stres dan bangkit kembali setelah mengalaminya.
Mengutip Harvard Health Publishing, stres adalah respons alami tubuh ketika menghadapi tantangan atau ancaman.
Dalam jangka pendek, stres bahkan bisa membantu seseorang menjadi lebih waspada dan fokus.
Namun, jika berlangsung terus-menerus tanpa pengelolaan yang tepat, stres kronis dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental.
Mulai dari gangguan tidur, tekanan darah tinggi, hingga meningkatnya risiko kecemasan dan depresi.
Ahli statistik sekaligus pakar manajemen risiko, Nassim Nicholas Taleb, memperkenalkan konsep “antifragile”.
Dalam bukunya Antifragile: Things That Gain from Disorder, Taleb menjelaskan bahwa kerapuhan merujuk pada kondisi ketika seseorang atau sistem mudah dirugikan oleh ketidakstabilan dan ketidakpastian, faktor yang kerap memicu stres kronis.
Baca juga: 10 Kebiasaan yang Tanpa Disadari Bisa Memperpendek Umur, Termasuk Membiarkan Stres
Resiliensi, kunci bangkit dari stres
Pakar menyebut kemampuan untuk “bangkit kembali” dari stres sebagai resiliensi.
Resiliensi adalah kapasitas mental dan emosional seseorang untuk menghadapi tekanan, beradaptasi dengan situasi sulit, serta pulih setelah mengalami stres atau kegagalan.
Orang yang memiliki resiliensi bukan berarti tidak pernah merasa tertekan.
Mereka tetap bisa merasa lelah, sedih, atau kewalahan.
Bedanya, mereka mampu mengelola respons emosional dengan lebih sehat dan tidak larut terlalu lama dalam kondisi tersebut.
Mengutip dari Harvard Health, resiliensi membuat seseorang tidak hanya bertahan dalam situasi penuh tekanan, tetapi juga belajar dan tumbuh dari pengalaman itu.
Baca juga: 5 Latihan Pernapasan untuk Redakan Stres dan Kecemasan Menurut Psikolog
Ciri orang yang lebih tangguh menghadapi stres
Mengutip dari Harvard Health, ada sejumlah karakteristik yang umumnya dimiliki individu dengan tingkat resiliensi tinggi.
Di antaranya adalah kemampuan untuk tetap tenang dalam tekanan, berpikir jernih, serta mengambil keputusan secara rasional meski berada dalam situasi sulit.
Selain itu, orang yang resilien cenderung memiliki sikap optimis, mampu mengendalikan emosi, serta menjalin hubungan sosial yang baik.
Dukungan dari keluarga, teman, atau lingkungan sekitar berperan penting dalam membantu seseorang pulih dari stres.
Menariknya, resiliensi bukanlah sifat bawaan semata. Taleb menegaskan bahwa ketahanan mental ini bisa dilatih dan dikembangkan seiring waktu.
Baca juga: Ketika Stres Dianggap Wajar, Psikolog Ingatkan Risiko Burnout pada Pekerja
Ilustrasi
Cara melatih resiliensi dalam kehidupan sehari-hari
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat membantu meningkatkan resiliensi.
- Pertama, mengubah cara pandang terhadap stres.
Alih-alih melihat stres sebagai ancaman semata, seseorang dapat memaknainya sebagai tantangan yang bisa dihadapi secara bertahap.
- Kedua, menjaga kesehatan fisik.
Tidur cukup, makan bergizi, dan rutin beraktivitas fisik terbukti membantu tubuh mengelola respons stres dengan lebih baik.
Kondisi fisik yang sehat berpengaruh langsung pada kestabilan emosi.
- Ketiga, membangun koneksi sosial.
Berbagi cerita atau sekadar didengarkan oleh orang lain dapat membantu mengurangi beban emosional.
Dukungan sosial juga membuat seseorang merasa tidak sendirian saat menghadapi masalah.
Keempat, melatih keterampilan mengelola emosi, seperti teknik pernapasan, mindfulness, atau menulis jurnal.
Aktivitas ini membantu menenangkan pikiran dan meningkatkan kesadaran diri terhadap emosi yang muncul.
Tag: #stres #terhindarkan #begini #cara #bangkit #lebih #kuat #menurut #pakar