Psikolog Jelaskan Attahcment Style di Balik Keputusan Brooklyn Beckham
Pernyataan Brooklyn Beckham bahwa ia ingin lepas hubungan dengan keluarganya memicu diskusi luas, termasuk soal attachment style atau pola kelekatan emosional yang terbentuk sejak masa kanak-kanak.
Dalam unggahan panjang di Instagram yang dikutip dari Hello Magazine, Brooklyn menyebut dirinya “berdiri untuk pertama kalinya sebagai diri sendiri” dan menolak anggapan bahwa ia dikendalikan pihak lain, sekaligus menegaskan keputusannya untuk tidak melakukan rekonsiliasi keluarga.
Mengutip The Independent, keputusan putus hubungan seperti ini sering dianggap ekstrem, padahal dalam konteks tertentu bisa menjadi respons atas dinamika relasi yang telah berlangsung lama dan kompleks.
Pernikahan dapat menggeser pusat kelekatan emosional
Psikolog Patricia Britto yang menjelaskan bahwa pernikahan sering kali membentuk ikatan utama baru dalam kehidupan seseorang.
“Dalam istilah attachment, pernikahan biasanya mengonsolidasikan ikatan primer yang baru. Pasangan dapat menjadi figur kelekatan utama, sementara keluarga asal perlu menyesuaikan diri dengan batas yang baru,” ujar Britto, seperti dikutip dari Daily Mail.
Ia menambahkan bahwa perubahan ini dapat memicu kecemasan pada keluarga yang terbiasa memiliki keterlibatan tinggi dalam kehidupan anaknya.
“Dalam terapi keluarga struktural, ini adalah proses negosiasi ulang batas relasi, ketika pasangan menjadi unit yang lebih mandiri,” katanya.
Tekanan ketenaran dan pembentukan attachment sejak dini
Brooklyn dan David Beckham. Pola kelekatan emosional kerap memengaruhi relasi keluarga dewasa, termasuk pada kasus Brooklyn Beckham yang memilih menjaga jarak dari orangtuanya.
Psikolog anak dan pendidikan Dr. Emily Crosby menjelaskan mengenai dampak tumbuh besar di bawah sorotan publik, termasuk dalam kasus Brooklyn Beckham.
“Tiga tahun pertama kehidupan adalah fase paling penting dalam pembentukan attachment,” ujar Crosby kepada Hello Magazine.
Menurutnya, ketenaran membawa tekanan tambahan yang dapat memengaruhi kualitas relasi orangtua-anak.
“Tekanan eksternal dan tuntutan keamanan sering membuat orangtua sulit sepenuhnya selaras dengan kebutuhan emosional anak,” kata Crosby.
Ia juga menjelaskan bahwa anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh tekanan berisiko mengembangkan pola bertahan hidup secara emosional.
“Ketenaran dapat meningkatkan kecemasan, sehingga remaja atau dewasa muda cenderung bereaksi cepat untuk melindungi diri sebelum memikirkan dampak jangka panjang,” ujarnya.
Tato dan anxious attachment
Glam menyoroti kebiasaan Brooklyn Beckham yang memiliki puluhan tato yang berkaitan dengan istrinya, Nicola Peltz, yang kemudian dikaitkan publik dengan isu kelekatan emosional.
Psikolog Dr. Raffaello Antonino menjelaskan, pada sebagian orang, perilaku simbolik ekstrem bisa berkaitan dengan anxious attachment.
“Individu dengan anxious attachment terkadang menggunakan simbol permanen seperti tato untuk meredakan ketakutan akan ditinggalkan atau dikhianati,” ujar Antonino.
Namun, ia menegaskan bahwa pola kelekatan tidak bisa ditentukan hanya dari satu perilaku.
“Diagnosis tidak pernah bisa dibuat dari satu tanda saja, apalagi dari informasi publik yang terbatas,” katanya.
Estrangement sebagai fenomena relasional
Estrangement atau keterputusan hubungan keluarga bukanlah fenomena langka, meski kerap tersembunyi karena stigma.
Angel Cassin, pendiri Together Estranged, yang menyebut keputusan menjauh hampir selalu lahir dari proses panjang.
“Banyak orang beranggapan semua keluarga aman, padahal kenyataannya tidak demikian,” kata Cassin.
“Keputusan menjauh biasanya diambil setelah upaya berulang untuk memperbaiki hubungan tidak membuahkan hasil,” ujarnya.
Tag: #psikolog #jelaskan #attahcment #style #balik #keputusan #brooklyn #beckham