Penjualan Obat Asam Lambung Melonjak di Awal Puasa
- Awal bulan puasa sering kali menjadi masa adaptasi bagi tubuh. Perubahan pola makan, tidur, dan aktivitas membuat sebagian orang mengalami berbagai keluhan kesehatan, bukan hanya rasa lapar dan haus.
Berdasarkan data Indonesia Health Insights Report 2026 Q1 dari Halodoc, terdapat peningkatan signifikan pada sejumlah keluhan kesehatan masyarakat Indonesia di minggu pertama Ramadan.
Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria, menjelaskan bahwa perubahan tersebut terjadi karena tubuh belum sepenuhnya siap beradaptasi dengan ritme baru selama puasa.
“Keluhan kesehatan itu bergerak sesuai momennya. Bahkan sejak seminggu sebelum Ramadan, sudah terlihat perubahan kebiasaan dan peningkatan pembelian obat-obatan tertentu,” ujar Fibriyani atau yang akrab disapa Fibri dalam acara Halodoc Talks di Jakarta Pusat, Rabu (21/1/2026).
5 keluhan yang sering muncul di awal puasa
1. Maag dan GERD meningkat di minggu pertama
Keluhan lambung menjadi yang paling menonjol. Fibri menyampaikan, konsultasi terkait maag dan GERD meningkat sekitar 21 persen di minggu pertama Ramadan, dengan puncak keluhan terjadi pada hari ketiga puasa.
Selain itu, pembelian obat lambung tanpa konsultasi dokter bahkan melonjak hingga 65 persen.
Board of Medical Excellence Halodoc, dr. Irwan Heriyanto, MARS, menjelaskan, kondisi ini dipicu oleh perubahan pola makan yang drastis saat baru memasuki bulan puasa.
“Begitu buka, semua ingin dimakan. Yang manis dulu, lalu makan berat. Ini langsung memicu asam lambung,” tutur dr. Irwan dalam kesempatan yang sama.
2. Vertigo ikut melonjak
Board of Medical Excellence Halodoc, dr. Irwan Heriyanto, MARS dan Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria dalam acara Halodoc Talks di Jakarta Pusat, Rabu (21/1/2026).
Selain keluhan lambung, Fibri juga mengatakan bahwa vertigo menjadi keluhan yang banyak dialami di awal Ramadan. Bahkan, kasus vertigo meningkat hingga dua kali lipat di minggu pertama puasa.
Menariknya, sebanyak 68 persen pasien mengalami vertigo bersamaan dengan keluhan maag atau GERD.
Dokter Irwan menilai, kondisi ini berkaitan erat dengan dehidrasi, perubahan pola tidur, serta ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh.
“Di awal puasa, tubuh masih beradaptasi. Lambung menjadi lebih sensitif karena jam makan berubah, sementara kurang tidur dan hidrasi juga mempengaruhi sistem keseimbangan tubuh. Itulah mengapa keluhan seperti maag, GERD, dan vertigo sering muncul di waktu yang bersamaan,” jelas dr. Irwan.
3. Sembelit makin sering terjadi
Tidak hanya keluhan lambung dan keseimbangan tubuh, gangguan pencernaan lain juga meningkat, salah satunya sembelit yang melonjak sekitar 20 persen di minggu pertama Ramadan.
Bahkan, Fibri menuturkan, keluhan terkait sembelit terus naik hingga mencapai 32 persen menjelang akhir bulan puasa.
Menurut dr. Irwan, sembelit tidak hanya dipicu oleh kurang cairan, tetapi juga faktor psikologis serta rendahnya konsumsi serat. Kondisi ini membuat pergerakan usus melambat sehingga buang air besar menjadi lebih sulit.
“Karena lapar mata, semua makanan enak disiapkan. Tapi sayur dan serat jarang ada,” ujarnya.
4. Keluhan tenggorokan dan kulit ikut naik
Masalah tenggorokan juga mengalami peningkatan sekitar 13 persen di minggu pertama Ramadan.
Tenggorokan yang kering akibat kurang cairan membuat mukosa atau jaringan lembap yang melapisi rongga dan saluran di dalam tubuh, menjadi lebih sensitif dan mudah mengalami iritasi.
“Mengenai tenggorokan juga, ternyata yang kita lihat ada peningkatannya 13 persen yang mengalami keluhan terkait radang tenggorokan,” ungkap Fibri.
Sementara itu, keluhan kulit seperti jerawat, beruntusan, dan iritasi meningkat sekitar 22 persen, terutama karena dehidrasi dan perubahan hormon.
5. Gangguan menstruasi
Selain itu, Fibri juga menuturkan bahwa gangguan siklus menstruasi meningkat hingga 44 persen selama Ramadan.
Faktor stres, kurang tidur, serta tekanan mental untuk berpuasa penuh menjadi pemicu utama. Menurut dr. Irwan, kondisi ini sering diperparah oleh stres berlebihan.
“Stres bisa mengganggu siklus menstruasi. Kalau sudah stres, siklus makin terganggu dan kacau,” ujarnya.
Menurut dr. Irwan, seluruh keluhan tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari proses adaptasi tubuh. Dengan menjaga asupan cairan, pola makan seimbang, serta tidur cukup, risiko gangguan kesehatan di awal puasa dapat ditekan.
Ia menilai, memahami sinyal tubuh sejak awal Ramadan menjadi kunci agar puasa tetap bisa dijalani dengan nyaman dan sehat.