Pelaku Child Grooming Sering Terlihat ''Baik'', Ini Ciri-cirinya
- Pelaku child grooming (child groomer) tidak selalu tampil sebagai sosok yang mencurigakan. Justru, pelaku kerap hadir dengan sikap yang sangat baik, perhatian, dan terlihat peduli sehingga sulit dikenali sejak awal.
Psikolog klinis dan Co-Founder KALM, Karina Negara, menjelaskan bahwa salah satu pola paling umum dari child groomer adalah membangun citra sebagai orang dewasa yang aman dan dapat dipercaya.
“Ciri-ciri child groomer itu sering kali kayak baik banget,” ujar Karina dalam sesi live talkshow Edukasi Child Grooming dan Dukungan Mental, Senin (19/1/2026).
Menurut Karina, kebaikan yang ditunjukkan pelaku biasanya tidak muncul sesekali, tetapi konsisten sehingga dianggap wajar oleh korban ataupun lingkungan sekitar.
Terlihat wajar karena bagian dari keluarga
Salah satu ciri yang membuat child groomer sulit dikenali adalah ketika pelaku berasal dari lingkungan keluarga sendiri. Dalam kondisi ini, kedekatan sering dianggap normal dan tidak mencurigakan.
Karina menjelaskan bahwa pelaku bisa saja merupakan paman, saudara jauh, atau anggota keluarga yang selama ini dipercaya.
“Makanya biasanya lebih susah mendeteksi child groomer yang keluarga,” ujar Karina.
Berdasarkan pengalaman praktiknya, Karina menyebut bahwa bahwa kasus seperti ini bukan hal langka. Karena kehadiran pelaku dianggap wajar dalam acara keluarga, perilaku manipulatif sering kali tidak disadari.
Mendekat tanpa alasan yang jelas
Berbeda dengan pelaku dari lingkungan keluarga, child groomer dari luar biasanya lebih mudah dicurigai karena kedekatannya tidak selalu memiliki alasan yang jelas.
Karina menjelaskan bahwa kedekatan yang terlalu intens, terlalu personal, atau terlalu cepat seharusnya menjadi sinyal kewaspadaan.
“Kalau nonkeluarga, kita bisa lebih mikir, ngapain ya orang ini dekat-dekat?” ujar Karina.
Ia menambahkan bahwa kewaspadaan tidak berarti menuduh seseorang sebagai pelaku, melainkan bentuk perlindungan agar anak tidak berada dalam situasi yang berisiko.
Menurut Karina, bersikap kritis terhadap kedekatan yang tidak wajar justru menunjukkan kepedulian, bukan prasangka.
“Kalau enggak ada jawaban yang make sense, boleh deh kita hati-hati. Bukan berarti dia pasti child groomer, tapi hati-hati,” katanya.
Menghindari kehadiran orang dewasa lain
Karina juga menekankan bahwa salah satu pola yang perlu diwaspadai adalah ketika seseorang berusaha membangun kedekatan dengan anak tanpa kehadiran orang dewasa lain.
Menurutnya, situasi tertutup dapat membuka ruang terjadinya manipulasi maupun pelanggaran batas. Maka dari itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga agar anak selalu berada dalam lingkungan yang aman.
“Kalau ada orang yang deketin, jangan pernah (dibiarkan) berdua doang,” ujar Karina.
Ia menilai, pembatasan sederhana ini sudah menjadi bentuk perlindungan yang sangat penting.
Lebih baik protektif daripada lengah
Karina menegaskan bahwa tidak apa-apa jika seseorang belum yakin apakah seseorang adalah child groomer atau bukan. Namun, sikap protektif tetap perlu diutamakan.
Menurutnya, menjaga jarak aman bukan berarti berlebihan, melainkan bentuk tanggung jawab.
“It’s fine kalau kita enggak yakin seseorang ini child groomer atau enggak. Pokoknya lindungi saja. Mendingan agak lebay dikit, daripada lengah,” kata Karina.
Karina menilai, kewaspadaan terhadap pola-pola tersebut penting agar anak tidak terjebak dalam relasi yang terlihat aman, tetapi sebenarnya menyimpan potensi manipulasi dan bahaya.
Tag: #pelaku #child #grooming #sering #terlihat #baik #ciri #cirinya