Keluarga Seharusnya Jadi Tempat Aman Anak, Bukan Sumber Luka
- Keluarga idealnya menjadi ruang paling aman bagi setiap anggotanya, terutama anak-anak. Sebab, keluarga adalah tempat untuk pulang, beristirahat, dan menjadi diri sendiri tanpa rasa takut.
Namun, kenyataannya tidak selalu berjalan demikian. Bagi sebagian orang, keluarga justru menjadi sumber luka yang terus terbawa hingga dewasa.
Psikolog Wenny Aidina, M.Psi., mengatakan bahwa fungsi utama keluarga bukan hanya sebagai "tempat tinggal bersama".
“Harusnya keluarga itu menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk menyampaikan pendapat dan emosi, diterima tanpa syarat,” ungkap dia dalam kelas daring KALM Counseling bertajuk "Dysfunctional Family: Ketika Keluarga Bukan Tempat Aman dan Nyaman", Minggu (18/1/2026).
Dalam situasi dunia yang berantakan, keberadaan keluarga yang menerima apa adanya menjadi fondasi penting bagi kesehatan emosional.
Tetap ada aturan yang jelas dan adil
Namun, penerimaan tersebut tidak berarti tanpa batas. Keluarga juga perlu memiliki aturan yang jelas dan konsisten sebagai nilai yang disepakati bersama termasuk keadilan dalam perlakuan pada tiap anak.
Perlakuan yang adil menjadi bagian penting dari rasa aman di dalam keluarga.
Ilustrasi orangtua menerapkan komunikasi dan dialog intens dengan anak.
Ketika rasa aman tidak didapat sejak kecil
Ada banyak orang yang tidak mendapatkan rasa aman dari keluarganya sejak kecil. Akibatnya, anak tumbuh menjadi orang dewasa yang membawa luka emosional lantaran kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi di rumah.
Menurut Wenny, rasa aman termasuk kebutuhan dasar seorang manusia.
“Tapi apakah kita yang sekarang mendapatkan itu dari orang tua kita? Apakah kita yang sekarang mendapatkan itu sebelumnya?,” tutur Wenny.
Menurut dia, luka tersebut kerap diwariskan lintas generasi. Orangtua yang belum pulih dari luka emosionalnya sendiri, berpotensi membesarkan anak dengan luka yang serupa.
“Mungkin orangtua kita dulu adalah orang yang terluka, insecure, menghasilkan kita sekarang yang insecure,” kata Wenny.
Jika pola ini terus berlanjut tanpa disadari, siklus luka dalam keluarga akan terus berulang.
Hubungan keluarga sebagai fondasi relasi
Wenny menekankan bahwa hubungan keluarga merupakan relasi paling krusial dalam kehidupan seseorang. Ketika hubungan ini tidak terbentuk dengan baik, dampaknya dapat meluas ke berbagai aspek relasi lain, termasuk kesulitan dalam membangun kedekatan di kemudian hari.
“Kalau hubungan keluarganya enggak baik, maka menimbulkan masalah pada hubungan interpersonal kita dengan orang lain,” kata Wenny.
"Bahkan, (kita) kesulitan membangun hubungan lekat dengan pasangan kita nantinya, dan anak kita nantinya. Lalu ada masalah di dalam relasi dengan teman kerja misalnya," sambung dia.
Trauma keluarga yang bersifat kompleks
Wenny menjelaskan bahwa luka yang muncul dari relasi keluarga bukan sekadar pengalaman menyakitkan sesaat, karena bisa menimbulkan trauma keluarga (family trauma).
“Trauma yang terjadi di dalam keluarga itu adalah trauma yang lebih kompleks dibandingkan single incident trauma,” terang dia.
Kompleksitas tersebut muncul karena trauma dalam keluarga sering kali berlangsung terus-menerus dan berulang, alias repetitif.
Trauma ini dapat berbentuk kekerasan verbal, fisik, maupun emosional, yang terus dialami dalam jangka panjang. Pengalaman yang berulang inilah yang membuat trauma keluarga menjadi lebih dalam dan sulit dipulihkan.
Memahami perilaku toksik orangtua
Meski demikian, Wenny menekankan pentingnya membedakan antara perilaku toksik dan sosok orangtua secara utuh.
“Yang toksik itu perilaku dari orang tua kita, bukan orangnya,” tegas dia.
Namun, karena luka yang sudah terlanjur ada, seseorang bisa memandang segala hal yang dilakukan orangtuanya, sebagai sesuatu yang sepenuhnya salah.
“Jadinya seakan-akan salah semuanya, padahal yang toksik itu bagian dari perilaku orangtua kita, bukan whole package dari orangtua kita,” sambung Wenny.
Luka tersebut kemudian memicu respons tubuh yang bersifat defensif setiap kali berhadapan dengan orangtua. Respons yang muncul bisa berupa keinginan untuk melawan atau justru menghindar.
Dalam mode melawan, seseorang bisa merasa tegang, waspada, dan siap membantah bahkan sebelum konflik terjadi.
"Orangtua enggak ngapa-ngapain, tapi karena ada trauma yang terjadi terus-menerus dan masih terjadi, kita sulit untuk melihat sisi positifnya," jelas Wenny.
Keluarga merupakan lingkaran terdekat yang membentuk cara seseorang berelasi. Ketika hubungan internal dalam keluarga tidak kokoh, seseorang akan lebih mudah rapuh saat menghadapi masalah di luar.
Ibaratnya seperti sebuah kapal yang terombang-ambing di tengah lautan karena tidak ada tempat yang aman untuk berlabuh. Seiring berjalannya waktu, kapal bakal rusak.
Ketiadaan ruang aman dalam keluarga membuat seseorang tidak memiliki tempat untuk pulih ketika menghadapi tekanan hidup.
Tag: #keluarga #seharusnya #jadi #tempat #aman #anak #bukan #sumber #luka