Tren Florist 2026, Eksplorasi Warna dan Bunga Segar Masih Jadi Favorit
– Industri florist Indonesia terus bergerak menuju fase baru. Tak lagi sekadar berbicara soal jenis bunga, tren 2026 kini bergeser ke eksplorasi warna, sensasi visual, hingga pengalaman emosional yang dihadirkan melalui rangkaian floral.
Pergeseran tren tersebut diangkat dalam seminar dan pameran bertajuk “The Sensory Bloom: Five Sense Floral Trends 2026” yang digelar di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (28/1/2026).
Kegiatan ini diinisiasi oleh Wahana Kharisma Flora Grup bersama Ikatan Perangkai Bunga Indonesia (IPBI) Jawa Timur, dan diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai daerah, termasuk Makassar dan Kalimantan.
Mayoritas pesertanya merupakan florist muda yang tengah berkembang di berbagai kota di Indonesia.
Baca juga: Mengubah Bunga Menjadi Kenangan dengan Dry Flower
Vice Director Wahana Kharisma Flora, Lana Yudhistira, mengatakan bahwa acara ini dirancang sebagai ruang edukasi untuk memperkenalkan arah baru tren florist global yang kini lebih menekankan eksplorasi sensorik.
Seminar ini menghadirkan dua narasumber, yakni Andy Djati Utomo, Director at Intuition Floral Art Studio, serta Harijanto Setiawan, International Master Florist asal Singapura.
Keduanya membahas perkembangan tren global, teknik perangkaian, hingga pemanfaatan bunga lokal agar mampu bersaing dengan produk impor.
“Kegiatan ini sebagai ajang membuka mata Indonesia bahwa bunga-bunga lokal bisa setara dengan impor kalau dirangkai menjadi sebuah karya,” ujar Lana kepada jurnalis, termasuk Kompas.com.
Bunga Segar Tetap Unggul, Jadi ‘Napas Hidup’ Rangkaian
Di tengah maraknya penggunaan bunga artifisial, ia menegaskan bahwa bunga segar masih menjadi pilihan utama pasar, terutama untuk kebutuhan dekorasi berbagai acara.
“Karena kita ini produsen dan suplier bunga segar. Memang penggunaan bunga asli ini masih cukup banyak, pasarnya besar dibandingkan bunga artifisial atau palsu. Karena dari sisi keindahan pasti jauh berbeda, secara visual lebih bagus,” tuturnya.
Menurutnya, Indonesia kini tidak lagi tertinggal dalam hal ketersediaan bunga potong segar. Banyak jenis bunga yang sebelumnya hanya bisa diperoleh melalui impor, kini sudah dapat dibudidayakan di dalam negeri.
Baca juga: 4 Ide Dekorasi Bunga untuk Pernikahan yang Cantik dan Romantis
“Semakin ke sini jenis bunga potong segar itu lebih banyak, yang dulunya harus mendapatkan dari luar negeri dengan import, sekarang sudah bisa kita budidaya dengan suhu Indonesia,” ujar Lana.
Sejumlah rangkaian bunga karya florist peserta seminar dan pameran ?The Sensory Bloom: Five Sense Floral Trends 2026? yang telah digelar di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (28/1/2026) siang.
Ia juga menilai bunga segar memiliki keunggulan emosional yang tidak dapat tergantikan oleh bunga artifisial.
“Penggunaan bunga segar ini ada napas hidupnya, sedangkan penggunaan bunga palsu itu setelah dipakai berulang-ulang sudah tidak kelihatan hidup. Seperti di wedding kalau pakai bunga asli kan lebih segar,” imbuhnya.
Sejalan dengan itu, ratusan jenis bunga kini telah berhasil dikembangkan di Indonesia, meski berasal dari bibit luar negeri.
“Jadi untuk bunga-bunga yang dulu kita import ini, saat ini kita sudah mulai menanam sendiri. Dari bibit-bibit luar dan sudah ada ratusan jenis,” ujarnya lagi.
Baca juga: Inspirasi Dekorasi Pertunangan ala Hailee Steinfeld, Bertabur Bunga
Tren Warna Lebih Dinamis, Inovasi Jadi Kunci
Dalam perkembangan tren florist terkini, perubahan warna dinilai jauh lebih dinamis dibandingkan perubahan jenis bunga. Tema warna bahkan bisa berganti hanya dalam hitungan bulan, menyesuaikan kebutuhan pasar.
Karena itu, inovasi warna menjadi salah satu kunci agar bunga potong tetap relevan dan diminati. Berbagai teknik diterapkan, agar bunga dapat tampil sesuai permintaan klien.
“Kadang-kadang hasil dari inovasi itu sendiri orang awam melihatnya bunga palsu, karena warna-warnanya unik karena by request,” kata Lana Yudhistira.
“Jadi kita itu cukup bisa menginstitusikan warna yang tidak ada, dengan cara dip dyeing atau pencelupan warna, disemprot, dan sebagainya.”
“Misal bunga anggrek warna Pink, nah sebenarnya ada hidup, tapi tidak ada warna itu, ya kita bikin warna itu sesuai permintaan,” sambungnya.
Vice Director Wahana Kharisma Flora, Lana Yudhistira saat seminar dan pameran ?The Sensory Bloom: Five Sense Floral Trends 2026? yang telah digelar di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (28/1/2026) siang.
Meski bunga lokal terus berkembang, beberapa jenis bunga impor masih memiliki kesan eksklusif tersendiri. Yaitu bunga Lily yang paling wangi meskipun harganya lebih mahal daripada bunga-bunga lain.
“Apalagi bunga gerbra itu macem-macem bisa sampai 80 jenis nama berbeda. Jadi kita bisa melihat kreasi Tuhan yang luarbiasa,” ujar perempuan pecinta seni tersebut.
Florist Muda Tumbuh Pesat, Cuaca Jadi Tantangan
Kini seiring berjalannya waktu, perkembangan industri florist di Jawa Timur juga dinilai sangat signifikan. Termasuk dengan bermunculannya florist muda yang belajar secara mandiri.
“Tiba-tiba buka Florist yang sangat banyak, jadi pertumbuhannya sangat luar biasa,” kata Lana Yudhistira.
Namun di balik pesatnya pertumbuhan tersebut, faktor cuaca masih menjadi tantangan nyata bagi industri florist di Indonesia. Perubahan iklim berdampak langsung pada proses budidaya, meski dilakukan di dalam greenhouse.
“Sangat berpengaruh jadi kadang-kadang menyulitkan, jadi berbunganya molor atau kecepetan,” pungkasnya.
Baca juga: Mengubah Bunga Menjadi Kenangan dengan Dry Flower
Tag: #tren #florist #2026 #eksplorasi #warna #bunga #segar #masih #jadi #favorit