Berawal dari Hujatan, Topik Sudirman Inisiasi Movement Gendut Berlari
Berawal dari hujatan saat mulai berlari, Topik Sudirman membangun gerakan Gendut Berlari yang inklusi. Ini ceritanya. (dok. Gendut Berlari dan Ida Setya/Kompas.com)
21:05
28 Januari 2026

Berawal dari Hujatan, Topik Sudirman Inisiasi Movement Gendut Berlari

Berawal dari hujatan yang diterimanya saat mulai berlari, musisi sekaligus kreator konten asal Solo, Topik Sudirman (33), menginisiasi movement Gendut Berlari.

Gendut Berlari adalah sebuah gerakan inklusif yang memberi ruang aman bagi siapa pun untuk bergerak tanpa takut dihakimi.

“Kok lari pace-nya besar banget? Itu jalan atau lari?” kenang Topik, menirukan salah satu ejekan yang ia terima di akun Instagram ketika mengunggah foto awal dirinya mulai berlari.

Saat mulai berlari pada April 2025, bobot tubuh Topik masih menyentuh 128 kilogram. Alih-alih mendapat dukungan, ia kerap menerima komentar miring yang mempertanyakan niatnya berolahraga.

“Ada yang bilang pace besar kok diposting. Tapi itu justru jadi bahan bakar. Tak lawan itu semua. Akhirnya saya bikin movement Gendut Berlari,” ungkapnya saat ditemui Kompas.com di kawasan Jalan Slamet Riyadi, Surakarta, Rabu (28/1/2026).

Baca juga: Kisah Irfan Prasatya Aktif Lari Maraton di Usia 60, Saraf Kejepit Jadi Titik Balik

Berawal dari hujatan saat mulai berlari, Topik Sudirman membangun gerakan Gendut Berlari yang inklusi. Ini ceritanya.
Instagram @topiksudirman Berawal dari hujatan saat mulai berlari, Topik Sudirman membangun gerakan Gendut Berlari yang inklusi. Ini ceritanya.

Melawan narasi olahraga hanya untuk pemilik tubuh ideal

Pada Agustus 2025, ia menginisiasi Gendut Berlari bersama beberapa rekannya.

Menurut Topik, Gendut Berlari bukan komunitas, melainkan gerakan yang terbuka bagi siapa saja untuk melawan narasi lama bahwa olahraga lari hanya milik mereka yang bertubuh atletis, cepat, dan serba siap.

“Gendut Berlari adalah simbol perlawanan terhadap anggapan bahwa tubuh besar identik dengan pasrah dan merepotkan. Kami ingin menunjukkan bahwa kami juga punya ruang untuk bergerak tanpa harus merasa malu,” kata Topik.

Mengusung filosofi Whatever Will Be, Will Be, gerakan ini mengajak pesertanya fokus pada proses, bukan hasil instan.

Menurut Topik, berdamai dengan tubuh sendiri adalah langkah awal sebelum berbicara soal target.

Menghadirkan ruang aman bagi pemilik tubuh gemuk

Salah satu alasan Gendut Berlari cepat diterima adalah keberanian Topik menciptakan ruang aman dalam setiap kegiatan.

Dalam event lari dan jalan santai yang digelar di Solo, Sragen, hingga Sukoharjo, atmosfer kompetitif sengaja dikesampingkan.

Topik bahkan menyiapkan tim sweeper untuk mendampingi peserta di barisan paling belakang.

“Kalau mereka hanya sanggup jalan kaki, ya kami temani sampai garis finis. Tidak ada yang ditinggalkan,” tegasnya.

Pendekatan ini penting karena banyak orang dengan obesitas merasa terintimidasi untuk berolahraga di ruang publik.

Melalui Gendut Berlari, mereka menemukan dukungan moral dan keberanian untuk tampil apa adanya.

Berawal dari hujatan saat mulai berlari, Topik Sudirman membangun gerakan Gendut Berlari yang inklusi. Ini ceritanya.
dok. Ida Setya/Kompas.com Berawal dari hujatan saat mulai berlari, Topik Sudirman membangun gerakan Gendut Berlari yang inklusi. Ini ceritanya.

Transformasi yang realistis

Perjalanan Topik tidak berhenti pada gerakan sosial. Ia juga mengalami transformasi pribadi yang terukur. Kini, berat badannya turun menjadi 93 kilogram, hasil dari proses panjang, bukan cara instan.

Topik menolak promosi obat pelangsing yang menjanjikan hasil cepat tanpa usaha.

Sebagai gantinya, ia mengedukasi pengikutnya tentang pendekatan realistis, mulai dari defisit kalori, pemilihan sepatu dengan bantalan yang sesuai, hingga kombinasi lari dan latihan beban untuk mengurangi risiko cedera.

Baca juga: 7 Tren Olahraga Terpopuler Sepanjang 2025, dari Padel hingga Lari

Berawal dari hujatan saat mulai berlari, Topik Sudirman membangun gerakan Gendut Berlari yang inklusi. Ini ceritanya.
Instagram @gendutberlari Berawal dari hujatan saat mulai berlari, Topik Sudirman membangun gerakan Gendut Berlari yang inklusi. Ini ceritanya.

Tentang Gendut Berlari

Seiring waktu, Gendut Berlari bertumbuh menjadi movement yang diikuti ribuan orang.

Di media sosial, akun Instagram @gendutberlari telah diikuti lebih dari 13 ribu pengguna.

Kegiatan Gendut Berlari juga diikuti ratusan peserta dalam lari dan jalan santai di sejumlah kota. Pesertanya datang dari berbagai latar belakang, tanpa batasan usia, berat badan, maupun target jarak.

Bagi Topik, menurunkan berat badan sebanyak 35 kilogram hanyalah bonus. Hadiah sesungguhnya adalah melihat sesama pemilik tubuh besar berani muncul dan bergerak.

“Olahraga itu tentang berdiri dan melangkah. Hari ini, gendut memilih untuk berlari,” ujarnya.

Seiring berkembangnya gerakan ini, Topik juga berpesan agar masyarakat berhenti mengejek orang bertubuh besar yang sedang berlari. Menurutnya, keberanian untuk memulai saja sudah merupakan perjuangan besar.

“Kalau melihat orang gendut berlari, itu artinya dia sedang berjuang. Jangan diejek,” tutup Topik.

Tag:  #berawal #dari #hujatan #topik #sudirman #inisiasi #movement #gendut #berlari

KOMENTAR