Tak Cukup Sekedar Mengasuh, Tumbuh Kembang Anak Butuh Asih dan Asah
- Fungsi orangtua dalam keluarga tidak hanya sebatas mengasuh anak, tetapi juga mengasihi dan mengasah sang buah hati. Ketiga peran tersebut dikenal sebagai asih, asah, dan asuh, yang idealnya berjalan beriringan dalam proses tumbuh kembang anak.
Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit orangtua yang menghabiskan sebagian besar energi pengasuhan pada tahap asuh. Meski menjadi tahap paling mendasar, tapi pemenuhan kebutuhan fisik saja tidak cukup untuk mendukung perkembangan anak secara utuh.
“Banyaknya, orangtua kita menghabiskan banyak energi pada tahap asuh, yang mana memang itu adalah tahap paling mendasar,” kata Wenny Aidina, M.Psi., Psikolog, dalam kelas daring KALM Counseling bertajuk "Dysfunctional Family: Ketika Keluarga Bukan Tempat Aman dan Nyaman", Minggu (18/1/2026).
Kebutuhan anak lebih dari sekadar aspek fisik
Asuh merupakan tahap paling mendasar dalam pengasuhan anak, yakni pemenuhan kebutuhan fisiologis. Di dalamnya mencakup makanan, minuman, tempat tinggal, waktu tidur, serta kebutuhan dasar lainnya.
Namun, berdasarkan hierarki kebutuhan Maslow, teori psikologi yang diperkenalkan oleh Abraham Maslow, kebutuhan manusia tidak berhenti pada aspek fisiologis. Setelah itu, terdapat kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan sosial, penghargaan, hingga aktualisasi diri.
Asih berkaitan dengan rasa aman dan sosial. Rasa aman mencakup keamanan, keteraturan, dan stabilitas, sementara kebutuhan sosial meliputi afeksi, relasi, serta keberadaan keluarga.
“Asih adalah bagaimana orangtua kita mengasihi, memberikan keamanan, memberikan aturan, memberikan kestabilan dalam hubungan,” kata Wenny.
Sementara itu, asah merujuk pada penghargaan. Di dalamnya termasuk pencapaian, status, tanggung jawab, reputasi, serta pengakuan terhadap kemampuan anak.
ilustrasi ibu dan anak. Ucapan, twibbon, dan poster Selamat Hari Ibu 22 Desember 2025.
Ketika orangtua terlalu fokus mengasuh
Dalam banyak keluarga, keberhasilan orangtua kerap diukur dari sejauh mana mereka mampu menyediakan fasilitas terbaik secara materi. Anak yang mendapatkan makanan bergizi, pakaian layak, dan tempat tinggal nyaman sering dianggap sudah diasuh dengan baik.
“Itu memang kebutuhan dasar, tapi kebutuhan di atasnya, rasa aman, sosial, itu adalah asih,” kata Wenny.
Ia menegaskan bahwa kebutuhan anak tidak berhenti pada aspek fisik. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, anak membutuhkan rasa aman, kedekatan emosional, serta stabilitas relasi di dalam keluarga.
Menurut Wenny, fokus berlebihan pada pemenuhan kebutuhan dasar membuat fungsi pengasuhan lainnya menjadi timpang.
“Jadi sebenarnya bukan hanya fisiologis yang terlalu banyak dihabiskan energinya, tapi semua tahap ini, fisiologis, rasa aman, sosial, sampai penghargaan, karena aktualisasi diri bisa tercapai ketika semuanya sudah,” ucap dia.
Penghargaan bukan hanya pada hasil yang diperoleh
Penghargaan atau pujian dari orangtua sangat dibutuhkan anak. Namun, sebaiknya tidak cuma terbatas pada hasil yang dicapai anak tapi juga ketika mereka sedang berproses.
“Sering enggak, kita disayang itu dengan syarat? ‘Wah, mama senang banget kamu akhirnya ranking satu.’ Jadi, kita disayang ketika kita sudah mencapai sesuatu. Bukan, ‘mama senang banget kamu sudah berusaha untuk mencapai tahap ini’,” ujar Wenny.
Ketika usaha tidak dihargai, anak berisiko kehilangan arah setelah mencapai batas tertentu. Mereka menjadi terbiasa menilai diri dari hasil akhir, bukan dari proses belajar dan berkembang yang dijalani.
Mengapa semua tahap kebutuhan anak sama pentingnya
Menurut Wenny, setiap tahap kebutuhan anak seharusnya dipenuhi secara utuh, bukan dibagi-bagi porsinya.
“Semuanya itu harusnya 100 persen. Fisiologis 100 persen, rasa aman 100 persen, sosial 100 persen, dan penghargaan 100 persen,” jelas dia.
Ia mencontohkan sudut pandang orangtua yang merasa telah menjalankan perannya dengan baik karena mampu memenuhi kebutuhan fisik anak.
“Misalnya, ‘aku sudah kasih anaknya pakaian yang bagus, makanan yang enak, tempat tidur yang nyaman’, tapi lupa bahwa selanjutnya anak ini butuh juga 100 persen diberikan rasa aman,” ujar Wenny.
Selain itu, anak juga perlu diberi ruang untuk menunjukkan perasaannya serta membangun relasi di dalam keluarga, baik dengan orangtua maupun saudara kandung.
Menurut Wenny, kemampuan afektif juga perlu diasah sejak dini. Kemampuan afektif mencakup regulasi emosi, kemampuan beradaptasi, serta keterampilan menghadapi masalah.
“Lupa mengasah anak bagaimana dia bisa beradaptasi ketika ada masalah, diberi izin untuk memilih, sehingga anak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri dengan didampingi, bukan hanya dibiarkan,” kata Wenny.
Tag: #cukup #sekedar #mengasuh #tumbuh #kembang #anak #butuh #asih #asah