Cegah Child Grooming dari Rumah, Kedekatan Orangtua dan Anak Jadi Benteng Utama
Upaya mencegah child grooming tidak dimulai dari pengawasan ketat, melainkan dari relasi yang aman antara orangtua dan anak.
Isu ini kembali disorot melalui buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans, yang mengingatkan bahwa banyak luka masa kecil berawal dari hubungan yang tampak “baik-baik saja”.
Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP PDSKJI), dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menegaskan bahwa parenting menjadi benteng pertama dalam melindungi anak dari manipulasi psikologis yang berlangsung perlahan.
Pencegahan child grooming
Menurut Lahargo, berikut adalah beberapa cara melindungi anak dari child grooming.
-
Bangun ruang aman, bukan ruang takut
Langkah paling mendasar dalam pencegahan child grooming adalah membangun ruang aman di rumah.
Anak perlu merasa bahwa ia bisa bercerita tanpa takut dimarahi, dihakimi, atau disalahkan.
Lahargo menjelaskan, anak yang merasa aman untuk berbicara akan lebih sulit dimanipulasi oleh pihak luar.
“Anak yang aman bercerita, lebih sulit dimanipulasi,” ujar Lahargo dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Sabtu (17/1/2026).
Ketika rumah menjadi tempat yang menenangkan, anak tidak perlu mencari rasa aman di luar yang belum tentu sehat.
-
Ajarkan bahasa emosi sejak dini
Ilustrasi anak. Psikiater menegaskan bahwa kedekatan dan ruang aman di rumah menjadi kunci utama mencegah child grooming pada anak.
Pencegahan child grooming juga berkaitan erat dengan kemampuan anak mengenali perasaannya sendiri.
Orangtua perlu membantu anak membedakan rasa nyaman dan tidak nyaman, serta mengajarkan bahwa kedua perasaan itu valid untuk dibicarakan.
Lahargo menekankan pentingnya bahasa emosi agar anak mampu menamai apa yang ia rasakan.
“Anak yang bisa menamai perasaannya, lebih kuat melindungi dirinya,” kata Lahargo.
Dengan pemahaman emosi yang baik, anak lebih peka terhadap situasi yang terasa janggal.
-
Normalisasi pembicaraan tentang batasan
Batasan tubuh dan relasi perlu dibicarakan secara terbuka di dalam keluarga.
Anak perlu memahami bahwa tubuh adalah miliknya dan ia berhak berkata tidak, bahkan kepada orang dewasa.
Lahargo mengingatkan bahwa tidak semua orang dewasa selalu benar, dan kepatuhan tanpa batas justru berisiko.
“Menghormati anak bukan membuatnya manja, tapi membuatnya aman,” ujarnya.
Pembicaraan tentang batasan membantu anak mengenali ketika sebuah relasi mulai melanggar kenyamanan.
-
Terlibat, bukan mengintai
Keterlibatan orangtua tidak sama dengan mengontrol secara berlebihan. Orangtua perlu mengenal lingkar pertemanan anak, aktivitas daring, serta figur-figur penting dalam hidupnya.
Lahargo menekankan bahwa kehadiran yang konsisten jauh lebih efektif dibanding pengawasan ketat.
“Kedekatan orangtua adalah benteng pertama, bukan pengawasan ketat,” katanya.
Pendekatan ini membuat anak merasa didampingi, bukan diawasi.
-
Peka terhadap perubahan perilaku anak
Perubahan perilaku sering menjadi sinyal awal bahwa anak sedang mengalami tekanan emosional.
Anak yang tiba-tiba menjadi tertutup, mudah cemas, atau menunjukkan ketergantungan emosional pada satu figur perlu mendapatkan perhatian lebih.
Kesadaran orangtua terhadap perubahan ini dapat mencegah proses grooming berkembang lebih jauh. Respons yang cepat dan empatik membantu anak merasa tidak sendirian.
Pencegahan sebagai tanggung jawab bersama
Child grooming bukan hanya isu kriminal, tetapi juga isu relasional dan psikologis. Broken Strings mengingatkan bahwa luka masa kecil sering kali tumbuh dalam keheningan.
Dengan pola parenting yang hadir, terbuka, dan empatik, orangtua dapat membantu memutus siklus luka yang diwariskan.
Pencegahan dimulai dari rumah, dari relasi yang membuat anak merasa aman menjadi dirinya sendiri.
Tag: #cegah #child #grooming #dari #rumah #kedekatan #orangtua #anak #jadi #benteng #utama