Cara Mengatasi Peter Pan Syndrome, Lebih Berani Hadapi Tanggung Jawab
Ilustrasi Peter Pan. Peter Pan Syndrome ialah istilah yang menggambarkan pola perilaku seseorang menolak tumbuh dewasa. Ciri-cirinya terlihat dalam kehidupan sehari-hari.(Wikimedia Commons)
18:05
1 Februari 2026

Cara Mengatasi Peter Pan Syndrome, Lebih Berani Hadapi Tanggung Jawab

- Tidak semua orang dewasa benar-benar siap menjadi "orang dewasa". Bagi sebagian orang, tanggung jawab, komitmen, dan tuntutan hidup, justru terasa sangat berat sampai harus diihndari.

Pola ini kerap dikaitkan dengan Peter Pan Syndrome (PPS), istilah psikologis untuk menggambarkan orang dewasa yang kesulitan tumbuh dewasa secara emosional.

“Ada sifat egosentris pada diri mereka, dan mereka terus-menerus menghindari tanggung jawab serta komitmen, dan tidak mengambil tanggung jawab orang dewasa seperti yang dilakukan kebanyakan orang," terang psikoterapis di Cleveland Clinic Kanada, Natacha Duke, RP, dikutip dari Cleveland Cilnic, Minggu (1/2/2026).

Baca juga: Mengenal Peter Pan Syndrome, Ketika Orang Dewasa Menolak Menjadi Dewasa

Istilah Peter Pan Syndrome berasal dari tokoh fiksi ciptaan J.M. Barrie pada tahun 1902, yang menggambarkan anak laki-laki ajaib yang tidak pernah menua.

Meski bukan diagnosis resmi, Peter Pan Syndrome digunakan untuk menjelaskan pola perilaku seperti menghindari tanggung jawab, sulit berkomitmen dalam hubungan maupun pekerjaan, bergantung pada orang lain, serta cenderung lari dari konflik atau situasi yang tidak nyaman.

Belum lama ini, setelah lepas dari rehabilitasi, Onadio Leonardo atau yang kerap disapa Onad mengakui dirinya memiliki Peter Pan Syndrome.

Dalam jangka panjang, pola ini bisa merusak hubungan, menghambat karier, dan berdampak pada kesehatan mental.

Karena itu, seseorang tidak bisa terus hidup dalam mode kekanak-kanakan selamanya, setidaknya tidak jika itu menimbulkan masalah serius dalam hubungan atau kemampuan berfungsi secara umum.

Cara mengatasi Peter Pan Syndrome

Seperti banyak hal dalam psikologi, Duke mengingatkan bahwa karakteristik Peter Pan Syndrome berada dalam spektrum. Apa yang menjadi masalah bagi sebagian orang, belum tentu menjadi masalah bagi sebagian orang lainnya.

“Kadang perilaku seperti ini bukan masalah jika tidak memengaruhi kehidupan atau fungsi seseorang di setidaknya satu area penting,” kata Duke.

Pola asuh permisif dan terlalu protektif disebut menjadi faktor yang berkontribusi pada PPS, menurut sebuah penelitian berjudul "Overprotecting Parents Can Lead Children to Develop 'Peter Pan Syndrom'", dipublikasi pada tahun 2007.

Baca juga: Tanda dan Gejala Peter Pan Syndrome yang Perlu Diwaspadai, Cenderung Menghindari Tekanan

Pola asuh permisif bisa membuat anak esulitan mempelajari tentang pentingnya batasan yang sehat, sedangkan pola asuh terlalu melindungi atau helicopter parenting bisa membuat anak kesulitan mengurus diri sendiri di beberapa aspek saat dewasa nanti.

Terlepas dari faktor penyebabnya, pada banyak kasus, Peter Pan Syndrome mulai berdampak pada pekerjaan, hubungan romantis, persahabatan, hingga kesehatan mental.

Orang dengan Peter Pan Syndrome sering kesulitan mempertahankan pekerjaan, menghindari konflik, menolak komitmen, dan bergantung pada orang lain untuk menangani tanggung jawab orang dewasa.

Ketika hal-hal ini mulai merusak kualitas hidup, intervensi menjadi penting. Lantas, bagaimana cara mengatasinya?

Jika pengidap Peter Pan Syndrome adalah orang terdekat

Membahas topik ini dan menunjukkan masalah yang ada bisa sangat sulit. Menurut Duke, secara umum, seseorang bisa menjadi sangat defensif karena kurangnya wawasan tentang kesulitan yang mengelilingi perilaku mereka.

Kamu tidak bisa memaksa orang menjalani terapi, tetapi kamu bisa menetapkan batasan pribadi untuk melindungi diri sendiri, dan meminta pertanggungjawaban saat sesuatu tidak berjalan baik.

“Jika ada perilaku yang ditunjukkan orang tersebut dan kamu merasa tidak nyaman, atau mereka terus meluapkan kemarahan padamu atau memperlakukanmu dengan tidak hormat, hal terbaik yang bisa kamu lakukan adalah mulai dengan memberi label pada perilaku itu sebagai ‘tidak OK’, lalu mendorong mereka ke terapi,” tutur Duke.

Jika orang dengan Peter Pan Syndrome tidak ingin pergi ke terapi dan tidak ingin membuat perubahan apa pun, maka kamu perlu menentukan ukuran toleransimu sendiri terhadap perilaku itu, serta apa yang bisa dan tidak bisa kamu terima.

Jika kamu yang memiliki Peter Pan Syndrome

Ketika kamu yang memiliki Peter Pan Syndrome, dan kamu tidak masalah mengikuti terapi, biasanya terapis akan mulai dengan menanyakan riwayat keluarga, dan melakukan skrining terhadap kemungkinan gangguan kesehatan mental atau trauma masa kecil.

Jika kamu menunjukkan karakteristik Peter Pan Syndrome, terapis dapat membantumu fokus pada satu area kehidupan, di mana kamu merasa cukup nyaman mengambil tanggung jawab lebih.

Baca juga: Depleted Mother Syndrome, Saat Ibu Terlihat Kuat tapi Sebenarnya Kelelahan

Misalnya, jika kamu cemas soal lamaran kerja, terapis bisa membantumu mengeksplorasi perasaan itu dan menetapkan tujuan untuk membuat resume-mu sendiri.

Jika kamu kesulitan mempertahankan hubungan, terapis dapat membantumu memahami alasannya dan mendefinisikan apa yang kamu cari dalam hubungan.

“Sering kali, di inti perilaku merasa berhak dan berpusat pada diri sendiri, adalah harga diri yang sangat rendah. Terapi bisa membantu orang meningkatkan harga diri, kepercayaan diri, dan welas kasih pada diri sendiri," terang Duke.

Inti sesi terapi sering berfokus pada peningkatan toleransi terhadap tekanan, memberi ruang pada perasaan, serta melatih kemampuan untuk mengenali, mengekspresikan, dan menantang perasaan tersebut secara bertahap.

“Yang sering terjadi pada orang dengan toleransi tekanan rendah adalah begitu sesuatu yang tidak nyaman muncul, mereka langsung menekannya. Mereka bahkan tidak benar-benar tahu apa yang mereka rasakan, dan tidak ada koneksi dengan perasaan itu,” kata Duke.

“Jadi, kami mulai dengan menamai perasaan itu dan mulai memberi ruang untuk perasaan itu, bahkan jika hanya selama satu menit," sambung dia.

Memberi ruang pada perasaan berarti mengizinkan emosi hadir dan menanyakan hal-hal seperti:

  • Apa yang kamu rasakan sekarang?
  • Di bagian tubuh mana perasaan itu terasa di tubuh?
  • Jika harus memberi warna pada perasaan itu, apa warnanya?
  • Seperti apa bentuk atau rasa perasaan itu?
  • Apakah kamu ingat pernah merasakan perasaan ini sebelumnya dalam hidupmu?
  • Dengan menerima dan terhubung dengan emosi dengan cara yang berbeda, seseorang bisa memiliki pengalaman yang lebih autentik dengan diri sendiri dan orang lain, serta menjadi kurang bergantung pada mekanisme koping yang tidak sehat.

“Ini tentang bertahan dengan perasaan itu dan mencoba memberinya lebih banyak ruang, bukan melarikan diri atau menghindarinya. Dengan melakukan ini, kamu membangun toleransi terhadap tekanan,” kata Duke.

Ia melanjutkan, semakin kamu tetap bertahan dengan perasaan itu dan semakin kamu mampu menoleransinya, semakin sedikit kamu akan takut pada perasaan itu, dan kamu tidak akan bergantung pada mekanisme koping yang negatif.

Baca juga: Fenomena From Zero to Hero Syndrome, Cerita Mereka yang Dijanjikan Manis tapi Berujung Dikhianati

Kapan perlu mencari bantuan

Jika kamu diberi tahu bahwa kamu kesulitan tumbuh dewasa atau memikul tanggung jawab, atau kamu merasa hubunganmu meregang, mungkin sudah waktunya berbicara dengan terapis.

Terapis dapat membantumu menavigasi area kehidupan ini, serta meningkatkan pemahaman diri, keterampilan interpersonal, dan kemampuan berpikir kritis.

Tag:  #cara #mengatasi #peter #syndrome #lebih #berani #hadapi #tanggung #jawab

KOMENTAR