Transaksi Cicil Emas BSN Melonjak 400 Persen di BTN Expo
PT Bank Syariah Nasional (BSN) mencatat lonjakan signifikan pada produk pembiayaan emas selama keikutsertaannya di ajang BTN Expo.
Dalam waktu kurang lebih satu bulan, pembiayaan emas perseroan meningkat hampir 400 persen, dari sekitar Rp 17 miliar menjadi Rp 50 miliar.
Kinerja tersebut menjadi bagian dari strategi BSN dalam mendorong ekspansi pembiayaan konsumer sepanjang 2026 yang ditargetkan mencapai sekitar Rp 1 triliun.
Baca juga: BSN Perkuat Layanan dan Digitalisasi untuk Tingkatkan Kepuasan Nasabah
Ilustrasi emas. Apa prediksi harga emas untuk tahun 2030?
Direktur Consumer Banking BSN, Mochamad Yut Penta, mengatakan peningkatan pembiayaan emas didorong oleh sejumlah faktor, mulai dari fokus pemasaran kepada nasabah existing hingga penguatan kemitraan dengan supplier emas.
“Kami memang masih baru, sehingga strategi utama kami tetap menjadi pemimpin di sektor perumahan, khususnya pembiayaan KPR syariah. Di saat yang sama, kami juga berupaya meningkatkan kualitas finansial melalui diversifikasi portofolio pembiayaan,” kata Penta dalam keterangan tertulis, Minggu (1/2/2026).
Ekspansi non-KPR
Selain mengandalkan pembiayaan perumahan, BSN memperluas portofolionya ke segmen non-KPR, antara lain pembiayaan emas, cicil emas, pembiayaan multiguna, dan multijasa berbasis payroll.
Menurut Penta, pembiayaan emas saat ini menjadi salah satu produk non-KPR yang diprioritaskan perseroan.
Baca juga: BSN Terlibat Pembiayaan Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang
Strategi tersebut sejalan dengan kebutuhan masyarakat yang semakin beragam terhadap produk pembiayaan berbasis prinsip syariah.
“Karena itu, kami tidak hanya fokus pada KPR, tetapi juga merambah ke pembiayaan non-KPR, seperti pembiayaan emas dan cicil emas, serta pembiayaan multiguna dan multijasa sesuai prinsip syariah,” imbuhnya.
Ilustrasi KPR syariah.
BSN sendiri sejak 22 Desember 2025 resmi beroperasi sebagai bank umum syariah. Seiring status tersebut, perseroan memperkuat lini bisnis konsumer dengan pendekatan diversifikasi produk.
Target pembiayaan Rp 1 triliun
Untuk tahun 2026, BSN menargetkan total pembiayaan konsumer mencapai sekitar Rp1 triliun. Namun, menurut Penta, target tersebut masih dalam proses pengkajian dan review bersama regulator.
Baca juga: BSN Tetap Layani Nasabah Selama Nataru, 36 Kantor Cabang Buka Terbatas
“Untuk pembiayaan non-KPR, kami akan lebih agresif. Namun kami tetap memiliki strategi untuk mempertahankan posisi sebagai pemimpin KPR berbasis prinsip syariah,” katanya.
Di sisi lain, pembiayaan perumahan yang selama ini menjadi core business BSN tetap menunjukkan kinerja positif.
Penta menyebut tren KPR syariah tahun ini masih tumbuh, didorong oleh kinerja KPR subsidi sepanjang tahun lalu yang mencatatkan pertumbuhan terbesar.
Realisasi pembiayaan KPR subsidi tumbuh di atas 20 persen sepanjang tahun lalu. Tingginya minat generasi muda terhadap produk pembiayaan berbasis prinsip syariah disebut turut mendorong pertumbuhan tersebut.
Baca juga: BSN Siap Relaksasi Pembiayaan 8.000 Debitur Terdampak Bencana Sumatera
Kuota rumah subsidi naik
Dari sisi strategi pemasaran, BSN menitikberatkan pada penguatan eksistensi dan peningkatan kapasitas.
Pada 2026, BSN memperoleh kuota sekitar 73.000 unit rumah subsidi, meningkat dibandingkan tahun lalu yang mencapai 59.000 unit rumah.
“Strategi paling mendasar adalah menyampaikan kepada masyarakat bahwa BSN sudah fully operation dan layanan kami sudah bisa dinikmati lebih luas. Kami juga memperkuat marketing communication, kapasitas dan efisiensi,” jelas Penta.
Untuk memperluas akses layanan, BSN juga mengembangkan Bale Syariah by BSN, layanan digital yang berbagi platform dengan BTN Bale milik induk usaha.
Baca juga: BSN Siap Relaksasi Pembiayaan 8.000 Debitur Terdampak Bencana Sumatera
Langkah ini menjadi bagian dari upaya perseroan memperkuat layanan dan menjangkau lebih banyak nasabah di segmen konsumer.