Kenapa Korban Grooming Seperti Aurelie Moeremans Cenderung Diam? Waspadai Ciri-cirinya!
-
Aktris Aurelie Moeremans mengaku pernah menjadi korban Child Grooming saat remaja.
-
Kenali ciri Child Grooming seperti perubahan perilaku drastis dan hadiah mencurigakan.
-
Orang tua wajib membangun komunikasi terbuka guna mencegah manipulasi predator anak.
Istilah child grooming mendadak jadi perbincangan, setelah aktris Aurelie Moeremans melalui bukunya "Broken Strings" mengaku pernah menjadi korban grooming di usia 15 tahun.
Sebagai informasi, child grooming adalah kondisi di mana seorang anak dalam manipulasi atau kontrol orang yang lebih dewasa darinya.
Teknik ini sering kali digunakan predator untuk mengeksploitasi atau melalkukan pelecehan seksual pada anak.
Bahkan, tindakan ini bisa dialami anak secara langsung maupun online ketika menjalin hubungan dengan orang yang lebih dewasa.
Karena dampaknya yang begitu besar pada masa depan anak, orang tua perlu mengenali ciri-ciri anak menjadi korban child grooming.
PerbesarAurelie Moeremans (Instagram.com/aurelie)Tanda-tanda Anak Jadi Korban Grooming
Berikut ini, tanda-tanda yang biasa terlihat pada anak-anak korban manipulasi atau kontrol dari orang dewasa.
1. Perubahan Perilaku yang Drastis
Salah satu tanda paling nyata adalah perubahan sikap anak secara tiba-tiba. Anak yang biasanya terbuka mungkin berubah menjadi berikut ini.
- Tertutup dan Menarik Diri: Anak sering mengurung diri dan menjauh dari keluarga serta teman sebaya.
- Perilaku Regresif: Menunjukkan perilaku yang tidak sesuai usianya, misalnya kembali mengompol padahal sudah remaja.
- Mood Swings: Sering terlihat murung, cemas, mudah marah, atau merasa gelisah tanpa alasan yang jelas.
2. Hubungan Mencurigakan dengan Orang Dewasa
Pelaku grooming biasanya akan memposisikan diri sebagai sahabat terbaik anak. Karena itu, Anda sebagai orangtua harus mewaspadai hal berikut ini.
- Anak memiliki teman dekat pria atau wanita dewasa yang usianya terpaut jauh.
- Anak terus-menerus membicarakan sosok orang dewasa tersebut dengan nada kagum.
- Anak menghabiskan waktu terlalu banyak dengan orang dewasa itu hingga mengabaikan sekolah atau hobi lamanya.
3. Hadiah dan Uang Tanpa Asal-usul
Waspadalah jika anak tiba-tiba memiliki gadget baru, uang jajan berlebih, atau hadiah mewah yang tidak diketahui sumbernya.
Pelaku sering menggunakan materi untuk mengikat anak agar merasa berhutang budi atau merasa istimewa.
4. Obsesi Tersembunyi pada Gadget
Di era digital, grooming marak terjadi lewat media sosial. Tanda-tandanya meliputi:
- Anak sangat protektif terhadap ponselnya dan ketakutan jika orang tua melihat layarnya.
- Meningkatnya durasi penggunaan gadget, terutama di jam-jam tidur.
- Anak terlihat menutupi aktivitas daringnya secara rahasia.
5. Penurunan Prestasi dan Masalah Kesehatan
Dampak psikologis dari manipulasi pelaku bisa mengganggu fungsi keseharian anak, seperti:
- Nilai sekolah yang merosot tajam atau sering bolos.
- Gangguan pola tidur (insomnia atau mimpi buruk) dan nafsu makan.
Dalam kondisi parah, munculnya penyakit infeksi menular seksual (IMS) atau penggunaan bahasa serta perilaku seksual yang tidak pantas untuk usianya.
Mengapa Korban Grooming Cenderung Diam?
Seringkali orang tua bertanya-tanya mengapa anak yang menjadi korban grooming tidak mengadu atau hanya diam.
Perlu dipahami bahwa pelaku grooming adalah ahli manipulasi dan anak cenderung diam ketika menjadi korban karena hal-hal berikut ini.
- Bingung: Mereka merasa memiliki ikatan khusus atau cinta yang tulus dari pelaku.
- Merasa Bersalah: Pelaku sering membuat anak merasa bahwa mereka juga menginginkan hubungan tersebut.
- Ancaman: Pelaku mengancam akan menyakiti keluarga, hewan peliharaan korban atau lainnya jika rahasia terbongkar.
- Takut Tidak Dipercaya: Anak merasa malu dan takut disalahkan oleh orang tua jika melapor.
Langkah Pencegahan bagi Orang Tua
Jika Anda melihat tanda-tanda anak menjadi korban grooming seperti di atas, maka segera lakukan langkah pencegahan berikut ini.
- Bangun Komunikasi Terbuka: Pastikan anak merasa nyaman bercerita apa pun tanpa takut dihakimi.
- Edukasi Seksual Sejak Dini: Ajarkan anak tentang batasan tubuh dan keberanian untuk berkata "TIDAK" pada sentuhan yang tidak nyaman.
- Pantau Internet: Awasi dengan siapa anak berkomunikasi di dunia maya secara bijak.
- Kenali Lingkungan: Jangan mudah percaya pada orang dewasa yang menunjukkan perhatian berlebihan pada anak Anda, meskipun mereka adalah orang dekat.
Ingat, perlindungan terbaik bagi anak adalah kepekaan dan kehadiran orang tua.
Karena itu, perhatian lebih jeli setiap perubahan kecil pada anak.
Tag: #kenapa #korban #grooming #seperti #aurelie #moeremans #cenderung #diam #waspadai #ciri #cirinya