China hingga Vietnam, Ini Sumber Defisit Perdagangan AS
Defisit perdagangan Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan setelah data terbaru menunjukkan kesenjangan yang masih sangat besar antara nilai impor dan ekspor negara tersebut.
Di tengah berbagai kebijakan tarif dan upaya memperkuat industri domestik, neraca perdagangan Negeri Paman Sam tetap mencatat angka merah dalam skala triliunan dollar AS.
Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan defisit perdagangan?
Baca juga: Defisit Perdagangan AS Melebar 2,1 Persen, China Justru Cetak Surplus Terbesar
Hingga kini, setidaknya 22 negara, termasuk Indonesia, telah menyetujui dan bergabung dengan Dewan Perdamaian yang diinisiasi Donald Trump tersebut.
Negara mana saja yang paling banyak menyumbang defisit tersebut? Dan mengapa kebijakan tarif belum sepenuhnya mengubah situasi?
Apa itu defisit perdagangan?
Secara sederhana, defisit perdagangan terjadi ketika nilai impor suatu negara lebih besar daripada nilai ekspornya.
Jika sebuah negara mengimpor barang dan jasa senilai 1 triliun dollar AS tetapi hanya mengekspor 800 miliar dollar AS, maka selisih 200 miliar dollar AS itulah yang disebut defisit perdagangan.
Dalam kasus Amerika Serikat, angka tersebut jauh lebih besar.
Baca juga: Gara-gara Shutdwon, Defisit Anggaran AS Tembus Rp 4.732 Triliun
Pada 2025, defisit perdagangan barang Amerika Serikat mencapai sekitar 1,24 triliun dollar AS. Dengan kurs Rp 16.803 per dollar AS, nilainya setara sekitar Rp 20.835 triliun.
Sementara itu, jika digabungkan antara barang dan jasa, total defisit perdagangan AS berada di kisaran 901,5 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 15.148 triliun.
Perbedaan angka ini terjadi karena AS mencatat surplus di sektor jasa, yang membantu mengurangi sebagian defisit barang.
Negara-negara penyumbang defisit perdagangan terbesar AS
Ilustrasi ekspor.
Berdasarkan data yang dirangkum Visual Capitalist dari statistik perdagangan resmi AS, berikut negara-negara dengan defisit perdagangan barang terbesar terhadap Amerika Serikat pada 2025.
Baca juga: AS Cabut Pasal Non-Ekonomi, Airlangga: ART Indonesia Murni untuk Perdagangan
1. China
Defisit perdagangan AS dan China tercatat sekitar 202 miliar dollar AS, setara dengan sekitar Rp 3.394 triliun.
China masih menjadi penyumbang defisit terbesar, meskipun angkanya lebih rendah dibanding puncak beberapa tahun sebelumnya.
Barang yang banyak diimpor dari China antara lain produk elektronik, mesin, peralatan rumah tangga, hingga berbagai barang konsumsi.
2. Meksiko
Defisit perdagangan AS dengan Meksiko mencapai sekitar 196,9 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 3.308 triliun.
Baca juga: Desember 2025, Neraca Perdagangan Surplus 2,51 Miliar Dollar AS
Meksiko kini menjadi salah satu mitra dagang terbesar Amerika Serikat. Banyak produk otomotif, suku cadang kendaraan, dan barang manufaktur diproduksi di Meksiko untuk pasar AS.
3. Vietnam
Vietnam mencatat defisit terhadap AS sekitar 178 miliar dollar AS, setara sekitar Rp 2.991 triliun.
Kenaikan defisit perdagangan AS dengan Vietnam dalam beberapa tahun terakhir berkaitan dengan pergeseran basis produksi global dari China ke Asia Tenggara.
Banyak perusahaan multinasional memindahkan fasilitas produksinya ke Vietnam untuk menghindari tarif tinggi terhadap China.
Baca juga: Amerika, Trump dan Uni Eropa: Pagar Baru Perdagangan dan Tantangan Indonesia
4. Taiwan
Taiwan sepakat menginvestasikan 250 miliar dollar AS untuk membangun industri chip di Amerika Serikat. Kesepakatan ini juga mengatur tarif timbal balik dan insentif bagi perusahaan semikonduktor.
Defisit perdagangan AS dengan Taiwan mencapai 147 miliar dollar AS, atau setara sekitar Rp 2.470 triliun.
Sebagian besar berasal dari impor komponen teknologi dan semikonduktor. Taiwan merupakan salah satu pusat produksi chip terbesar di dunia, yang sangat dibutuhkan industri teknologi Amerika.
5. Uni Eropa (Agregat)
Jika dihitung secara keseluruhan sebagai blok perdagangan, defisit AS terhadap Uni Eropa mencapai sekitar 219 miliar dollar AS, setara dengan Rp 3.680 triliun.
Beberapa negara seperti Jerman dan Irlandia menjadi penyumbang utama dalam hubungan perdagangan ini, terutama pada sektor otomotif, farmasi, dan mesin industri.
Baca juga: Wamendag: Pakistan Mitra Penting Perdagangan Sawit
Mengapa defisit perdagangan AS tetap besar?
Ada beberapa faktor utama yang menjelaskan mengapa defisit perdagangan AS tetap tinggi.
1. Konsumsi domestik yang sangat kuat
Amerika Serikat memiliki tingkat konsumsi rumah tangga yang tinggi. Permintaan terhadap barang impor, mulai dari elektronik hingga pakaian, sangat besar.
Ketika masyarakat membeli lebih banyak produk luar negeri daripada produk dalam negeri, defisit perdagangan akan melebar.
2. Peran dollar AS
Dollar AS adalah mata uang cadangan utama dunia. Permintaan global terhadap dollar AS membuat nilai tukarnya relatif kuat.
Baca juga: Meski Dihantam Tarif Trump, Neraca Perdagangan China Surplus 1,2 Triliun Dollar
Mata uang yang kuat membuat barang impor lebih murah bagi konsumen domestik, tetapi sekaligus membuat ekspor menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
3. Struktur rantai pasok global
Ilustrasi ekspor.
Dalam era globalisasi, produksi barang sering melibatkan banyak negara.
Sebagai contoh, sebuah produk elektronik bisa dirancang di AS, komponennya dibuat di Taiwan, dirakit di Vietnam, lalu diimpor kembali ke AS sebagai barang jadi.
Secara statistik, nilai penuh barang tersebut tercatat sebagai impor dari negara perakitan akhir, meskipun rantai produksinya tersebar di berbagai negara.
Baca juga: Januari-November 2025, Volume Perdagangan China di RI 138 Miliar Dollar AS
Apakah tarif mengurangi defisit?
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump menerapkan berbagai tarif impor, terutama terhadap China.
Tujuan kebijakan ini adalah mengurangi ketergantungan pada barang impor dan mendorong produksi dalam negeri.
Namun data menunjukkan bahwa meskipun defisit dengan China menurun, defisit dengan negara lain seperti Vietnam dan Taiwan justru meningkat.
Fenomena ini sering disebut sebagai “trade diversion” atau pengalihan perdagangan, di mana impor berpindah dari satu negara ke negara lain tanpa benar-benar menurunkan total impor secara keseluruhan.
Baca juga: Perdagangan Global Kian Berisiko, Penjaminan Ekspor Makin Dibutuhkan
Artinya, struktur defisit berubah, tetapi jumlah totalnya tidak banyak berkurang.
Surplus neraca jasa: penyeimbang yang belum cukup
Meskipun defisit barang sangat besar, Amerika Serikat memiliki kekuatan di sektor jasa. Surplus neraca perdagangan jasa AS mencapai sekitar 339 miliar dollar AS, atau setara sekitar Rp 5.696 triliun.
Sektor jasa yang dominan meliputi:
- Jasa keuangan
- Teknologi informasi
- Konsultasi bisnis
- Pendidikan dan pariwisata
Ilustrasi ekspor Indonesia, kegiatan ekspor impor.
Surplus ini membantu mengurangi total defisit, tetapi nilainya belum cukup untuk menutup sepenuhnya defisit barang yang sangat besar.
Fluktuasi bulanan
Defisit perdagangan juga berfluktuasi setiap bulan. Pada November 2025, misalnya, defisit neraca perdagangan AS tercatat sekitar 56,8 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 954 miliar.
Baca juga: Neraca Perdagangan Masih Surplus 67 Bulan, Capai 2,66 Miliar Dollar AS
Aebulan sebelumnya, yakni pada Oktober 2025, defisit sempat menyempit menjadi sekitar 29,4 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 494 miliar.
Fluktuasi ini dipengaruhi oleh:
- Perubahan permintaan impor
- Pergerakan ekspor
- Respons terhadap kebijakan tarif
- Kondisi ekonomi global
Mengapa angka ini penting?
Defisit perdagangan sering menjadi isu politik dan ekonomi karena berkaitan dengan:
- Lapangan kerja di sektor manufaktur
- Ketahanan industri domestik
- Stabilitas hubungan dagang internasional
- Nilai tukar dan arus investasi
Namun demikian, para ekonom juga menekankan bahwa defisit perdagangan tidak selalu berarti ekonomi dalam kondisi lemah. Dalam kasus Amerika Serikat, defisit besar juga mencerminkan daya beli domestik yang kuat serta posisi dolar sebagai mata uang global.
Baca juga: RI Komitmen Dorong Sistem Perdagangan Internasional Adil dan Inklusif
Gambaran besarnya
Jika dijumlahkan, defisit perdagangan barang Amerika Serikat yang mencapai sekitar Rp 20.835 triliun pada 2025 menunjukkan betapa besarnya skala perdagangan global yang terlibat.
China, Meksiko, Vietnam, Taiwan, dan Uni Eropa menjadi mitra dagang dengan kontribusi defisit terbesar.
Sementara itu, surplus di sektor jasa, yakni sekitar Rp 5.696 triliun, menjadi penyeimbang parsial dalam neraca keseluruhan.
Data tersebut menggambarkan hubungan perdagangan yang kompleks, dengan pergeseran rantai pasok, kebijakan tarif, dan dinamika ekonomi global yang terus berubah dari waktu ke waktu.