Menurut Psikologi, 8 Kebiasaan Sehari-hari Ini Membedakan Orang yang Menua dengan Bahagia dari Orang yang Hanya Semakin Tua
seseorang yang menua dengan bahagia (Freepik/The Yuri Arcurs Collection)
17:34
2 Januari 2026

Menurut Psikologi, 8 Kebiasaan Sehari-hari Ini Membedakan Orang yang Menua dengan Bahagia dari Orang yang Hanya Semakin Tua

Menua adalah sesuatu yang tak bisa dihindari. Setiap hari, waktu bergerak maju tanpa pernah menunggu siapa pun.

Namun, psikologi modern menunjukkan satu hal penting: menjadi tua tidak otomatis berarti menjadi bijaksana, damai, atau bahagia. Ada orang yang semakin bertambah usia justru semakin tenang dan hangat, sementara yang lain tumbuh menjadi pribadi yang pahit, mudah tersinggung, dan penuh penyesalan.

Perbedaannya bukan terletak pada nasib, keberuntungan, atau kondisi hidup semata. Perbedaannya terletak pada kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari, sering kali tanpa disadari. 

Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (2/1), terdapat delapan kebiasaan yang, menurut psikologi, menjadi garis pemisah antara mereka yang menua dengan bahagia dan mereka yang hanya sekadar menua.

1. Mereka Menerima Kenyataan, Bukan Terjebak dalam Penolakan

Orang yang menua dengan bahagia memiliki satu kemampuan penting: menerima realitas apa adanya. Mereka memahami bahwa tubuh berubah, energi tidak lagi sama, dan hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Sebaliknya, orang yang menua dengan pahit sering kali hidup dalam penolakan. Mereka terus membandingkan diri dengan masa lalu, mengutuki usia, dan memusuhi perubahan. Dalam psikologi, penolakan kronis ini memicu frustrasi berkepanjangan yang perlahan menggerogoti kebahagiaan.

Menerima bukan berarti menyerah, melainkan berhenti berperang dengan kenyataan.

2. Mereka Memelihara Rasa Syukur, Bukan Mengumpulkan Keluhan

Psikologi positif menegaskan bahwa rasa syukur adalah fondasi kebahagiaan jangka panjang. Orang yang menua dengan bahagia terbiasa menghargai hal-hal kecil: kesehatan yang masih tersisa, percakapan hangat, pagi yang tenang.

Sementara itu, orang yang semakin pahit cenderung fokus pada apa yang hilang: kesempatan yang terlewat, tubuh yang melemah, atau dunia yang “tidak lagi seperti dulu”. Kebiasaan mengeluh setiap hari membentuk pola pikir negatif yang semakin mengeras seiring waktu.

Apa yang terus kita hitung, itulah yang akan tumbuh dalam pikiran.

3. Mereka Menjaga Hubungan, Bukan Memelihara Dendam

Orang yang menua dengan bahagia memahami bahwa hubungan adalah investasi emosional. Mereka mau meminta maaf, memberi maaf, dan menjaga komunikasi, meski ego harus sedikit diturunkan.

Sebaliknya, orang yang pahit sering membawa luka lama ke usia tua. Dendam yang tidak diselesaikan berubah menjadi sinisme, membuat mereka merasa sendirian meski dikelilingi orang.

Psikologi menunjukkan bahwa kemampuan memaafkan berkaitan erat dengan kesehatan mental dan kepuasan hidup di usia lanjut.

4. Mereka Terus Belajar, Bukan Merasa Sudah Tahu Segalanya

Salah satu tanda penuaan yang sehat secara psikologis adalah rasa ingin tahu yang tetap hidup. Orang yang menua dengan bahagia mau belajar hal baru—teknologi, sudut pandang generasi muda, atau sekadar cara berpikir yang berbeda.

Sebaliknya, orang yang pahit sering terjebak dalam pola “dulu lebih baik” dan menutup diri dari pembaruan. Ketika pikiran berhenti belajar, dunia terasa semakin asing dan mengancam.

Belajar membuat seseorang tetap relevan, bukan hanya secara sosial, tetapi juga secara batin.

5. Mereka Mengelola Emosi, Bukan Melampiaskannya

Psikologi emosi menunjukkan bahwa kebahagiaan di usia lanjut sangat dipengaruhi oleh kemampuan regulasi emosi. Orang yang menua dengan bahagia tidak membiarkan amarah kecil menguasai hari mereka.

Sebaliknya, orang yang pahit sering melampiaskan frustrasi kepada orang terdekat. Setiap masalah kecil terasa seperti serangan pribadi, membuat hidup dipenuhi konflik yang melelahkan.

Bukan peristiwa yang menentukan kebahagiaan, melainkan cara kita meresponsnya.

6. Mereka Menemukan Makna, Bukan Hanya Mengejar Kenangan

Orang yang menua dengan bahagia tidak hidup semata-mata dalam nostalgia. Mereka tetap mencari makna: melalui berbagi pengalaman, membantu orang lain, atau menjalani peran baru dalam hidup.

Sementara itu, orang yang pahit sering hidup terjebak di masa lalu, mengulang-ulang cerita kejayaan lama tanpa menemukan tujuan di masa kini. Psikologi eksistensial menyebut kehilangan makna sebagai salah satu sumber utama kehampaan batin.

Hidup yang bermakna tidak berhenti hanya karena usia bertambah.

7. Mereka Merawat Diri Secara Mental, Bukan Hanya Fisik

Banyak orang fokus pada kesehatan fisik, tetapi melupakan kesehatan mental. Orang yang menua dengan bahagia meluangkan waktu untuk refleksi, ketenangan, dan jeda emosional.

Sebaliknya, orang yang pahit sering mengabaikan kondisi batinnya. Emosi terpendam, stres lama, dan luka psikologis dibiarkan menumpuk tanpa disadari.

Psikologi menegaskan bahwa ketenangan batin sama pentingnya dengan tubuh yang sehat.

8. Mereka Berdamai dengan Waktu, Bukan Memusuhinya

Pada akhirnya, perbedaan paling mendasar terletak pada hubungan seseorang dengan waktu. Orang yang menua dengan bahagia melihat waktu sebagai guru—ada kehilangan, tetapi juga kedewasaan.

Orang yang pahit memandang waktu sebagai musuh yang merampas segalanya. Setiap ulang tahun menjadi pengingat luka, bukan pencapaian hidup.

Berdamai dengan waktu berarti menerima bahwa setiap fase memiliki keindahan dan pelajarannya sendiri.

Kesimpulan: Menua Adalah Proses, Bahagia Adalah Pilihan

Psikologi mengajarkan bahwa usia hanyalah angka, tetapi kebiasaan membentuk kualitas hidup. Menua dengan bahagia bukan hasil keberuntungan semata, melainkan akumulasi dari cara berpikir, bersikap, dan merespons hidup setiap hari.

Delapan kebiasaan ini menunjukkan satu pesan penting: kita tidak bisa menghentikan waktu, tetapi kita bisa memilih bagaimana mengisinya. Pada akhirnya, orang yang menua dengan bahagia bukan mereka yang hidup tanpa masalah, melainkan mereka yang belajar berdamai dengan hidup—apa adanya, sepenuh hati.

 

***

Editor: Novia Tri Astuti

Tag:  #menurut #psikologi #kebiasaan #sehari #hari #membedakan #orang #yang #menua #dengan #bahagia #dari #orang #yang #hanya #semakin

KOMENTAR