Mengapa Anak Bisa Melakukan Kekerasan Ekstrem? Ini Penjelasan Psikolog
ilustrasi kekerasan pada anak. (iStock/Serghei Turcanu )
16:05
1 Januari 2026

Mengapa Anak Bisa Melakukan Kekerasan Ekstrem? Ini Penjelasan Psikolog

Kasus kekerasan ekstrem yang melibatkan anak di bawah umur kerap memicu keprihatinan sekaligus pertanyaan publik

Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang anak bisa melakukan tindakan kekerasan serius, bahkan terhadap orang terdekatnya sendiri?

Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana, S.Psi, Psikolog menjelaskan, dalam banyak kasus, kekerasan berat yang dilakukan anak bukanlah peristiwa yang muncul secara tiba-tiba.

Perilaku tersebut umumnya merupakan puncak dari rangkaian masalah emosional dan lingkungan yang tidak tertangani sejak dini.

“Pada banyak kasus, kekerasan ekstrem yang dilakukan anak merupakan puncak dari masalah regulasi emosi, paparan kekerasan, relasi yang tidak aman, serta kurangnya dukungan atau penanganan dini,” jelas Vera saat dihubungi Kompas.com, baru-baru ini.

Regulasi emosi anak belum matang

Secara perkembangan, anak masih berada dalam proses belajar mengelola emosi.

Vera menyebut, kontrol impuls dan fungsi eksekutif anak belum sepenuhnya matang, sehingga kemampuan untuk menahan dorongan emosi, berpikir jernih, dan mempertimbangkan konsekuensi masih terbatas.

Dalam kondisi tertekan, anak bisa bereaksi secara impulsif, terutama bila tidak memiliki keterampilan mengelola emosi yang memadai.

Situasi ini dapat diperburuk ketika anak tidak memiliki ruang aman untuk mengekspresikan perasaan marah, takut, atau sedih.

Anak belajar dari lingkungan terdekat

Vera menekankan bahwa anak adalah peniru yang sangat baik. Cara anak menyelesaikan konflik sering kali dipelajari dari lingkungan terdekat, terutama keluarga.

“Jika di rumah kekerasan dianggap sebagai cara menyelesaikan masalah atau meluapkan emosi, anak bisa menganggap itu sebagai respons yang efektif,” ujar Vera.

Paparan kekerasan yang berulang, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat membentuk cara pandang anak terhadap konflik dan hubungan antarindividu.

Akumulasi stres dan trauma

Selain faktor perkembangan dan lingkungan, akumulasi stres dan trauma juga berperan besar.

Vera menjelaskan bahwa perasaan tidak berdaya, dipermalukan, marah yang lama dipendam, atau pengalaman trauma yang tidak tertangani dapat meningkatkan risiko ledakan agresi.

“Tekanan psikologis yang terus menumpuk tanpa dukungan emosional dapat mendorong anak pada perilaku berbahaya,” katanya.

Faktor keluarga yang berpengaruh

Dalam praktiknya, Vera sering menemukan sejumlah faktor keluarga yang berkaitan dengan kekerasan pada anak, seperti konflik keluarga yang berlangsung kronis, pola komunikasi kasar, serta disiplin yang keras atau tidak konsisten.

Pengawasan yang lemah, batasan yang tidak jelas, riwayat kekerasan atau penelantaran, masalah kesehatan mental orangtua, hingga tekanan ekonomi juga dapat memperburuk kondisi emosional anak.

“Anak yang tidak merasa aman secara emosional dan tidak merasa diterima akan lebih rentan memilih kekerasan sebagai jalan keluar,” jelas Vera.

Tidak selalu karena gangguan kejiwaan

Vera menegaskan, anak yang melakukan kekerasan tidak selalu memiliki gangguan kejiwaan.

Memang ada kondisi klinis tertentu, seperti gangguan perilaku atau gangguan regulasi emosi, yang dapat meningkatkan risiko agresi.

Namun, dalam banyak kasus, kekerasan justru dipicu oleh akumulasi emosi dan tekanan psikologis, bukan gangguan mental berat.

Tanda-tanda yang perlu diwaspadai

Orangtua dan guru perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak.

Vera menyebut beberapa tanda peringatan, seperti ledakan marah yang semakin sering dan berat, merusak barang, mengancam orang lain, serta penurunan empati yang drastis.

Obsesi terhadap tema kekerasan, fantasi balas dendam, menarik diri secara ekstrem, sulit fokus di sekolah, hingga membenarkan kekerasan melalui ucapan atau unggahan di media sosial juga patut diwaspadai.

Riwayat kekerasan dalam rumah yang tidak tertangani menjadi faktor risiko tambahan yang serius.

Paparan konten kekerasan sebagai faktor penguat

Terkait pengaruh gim, tontonan, dan media sosial, Vera menilai bahwa paparan konten kekerasan bukanlah penyebab tunggal, tetapi dapat memperkuat risiko bila anak sudah memiliki faktor kerentanan lain.

“Konten kekerasan bisa menjadi penguat ketika anak impulsif, memiliki masalah emosi, trauma, konflik keluarga, dan kurang pengawasan,” ujarnya.

Penanganan dan pencegahan sejak dini

Jika anak mulai menunjukkan perilaku agresif, Vera menyarankan agar orangtua mengamankan situasi terlebih dahulu, dengan memisahkan anak dari target kekerasan, menyingkirkan benda berbahaya, serta menurunkan stimulus pemicu emosi.

Saat emosi memuncak, orangtua disarankan tidak merespons dengan teriakan atau adu kuasa.

“Tujuannya bukan menang, tetapi meredakan emosi anak,” kata Vera.

Setelah kondisi lebih tenang, orangtua dapat mengajak anak berbicara dengan lebih banyak mendengar, lalu bersama-sama mencari solusi.

Untuk pencegahan jangka panjang, anak perlu dilatih mengenali emosinya, memiliki alternatif respons yang sehat, serta tumbuh dalam lingkungan yang hangat dengan batasan yang konsisten.

Tag:  #mengapa #anak #bisa #melakukan #kekerasan #ekstrem #penjelasan #psikolog

KOMENTAR