Menuju 2026, Clara Hsu Soroti 4 Sinyal Penting yang Tak Boleh Diabaikan Para Pemimpin
Clara Hsu, Indonesia Country Manager Synology Inc. (dok. Synology)
06:40
1 Januari 2026

Menuju 2026, Clara Hsu Soroti 4 Sinyal Penting yang Tak Boleh Diabaikan Para Pemimpin

Baca 10 detik
  • Clara Hsu di IndoSec Summit 2025 menekankan bahwa pemulihan data cepat itu krusial meski telah melakukan pencadangan.
  • Risiko data perusahaan mencakup backup tidak lengkap, data tersebar tanpa kontrol, dan keamanan salinan cadangan.
  • Pemimpin perlu mengontrol akses data sensitif serta memastikan sistem terpusat untuk keberlanjutan bisnis pasca insiden.

Di tengah laju transformasi digital yang kian cepat, peran pemimpin tidak lagi sebatas menggerakkan tim atau mengejar target bisnis. Ada satu tanggung jawab penting yang sering luput dari sorotan: menjaga keberlangsungan data sebagai fondasi kepercayaan dan keberlanjutan perusahaan. Di era ketika satu gangguan kecil bisa berdampak besar, kepekaan membaca sinyal risiko menjadi kualitas kepemimpinan yang semakin krusial.

Indonesia, sebagai salah satu pasar yang cukup sering menjadi target serangan, perlu memperhatikan tanda-tanda bahaya yang bisa mengancam keamanan data perusahaan.

Clara Hsu, Country Manager Synology Indonesia, membagikan pengalaman dan pandangannya di IndoSec Summit 2025. Menurutnya, memiliki backup data saja tidak cukup jika proses pemulihan tidak bisa dijamin.

“Transformasi digital berkembang pesat, tapi ketahanan data harus berjalan seiring. Backup saja tidak cukup jika tidak bisa dipulihkan dengan cepat saat dibutuhkan,” jelas Clara.

1. Backup yang Tidak Lengkap

Seringkali, saat perusahaan menambah aplikasi atau sistem baru, data dari sistem tersebut terlewat dari proses backup. Ada juga perusahaan yang hanya menyimpan sebagian data penting demi menghemat kapasitas penyimpanan. Padahal, jika data penting tidak dibackup, risiko kerugian besar bisa terjadi saat dibutuhkan.

“Data yang tidak dibackup pada dasarnya sudah berada dalam kondisi berisiko,” ujar Clara.

2. Data Tersebar Tanpa Terkontrol

Perusahaan modern biasanya menyimpan data di banyak tempat atau platform. Hal ini bisa membuat tim sulit mengetahui data apa saja yang ada dan di mana letaknya. Akibatnya, ada risiko data ganda atau data yang tidak terlindungi, bahkan bisa menimbulkan masalah hukum terkait regulasi.

Clara menekankan pentingnya sistem yang terpusat agar data lebih mudah dipantau dan aman.

3. Backup Tidak Aman

Memiliki backup bukan berarti data sepenuhnya aman. Jika backup bisa diakses atau terkena serangan, seluruh data tetap berisiko hilang.

Banyak perusahaan baru menyadari hal ini setelah serangan ransomware menimpa salinan data mereka. Untuk itu, penting memiliki backup yang aman, disimpan di tempat berbeda, dan rutin diuji untuk memastikan data bisa dipulihkan.

4. Akses Data Tidak Terkontrol

Saat perusahaan berkembang, akses ke data sensitif sering kali meluas tanpa pengaturan yang ketat. Hal ini meningkatkan risiko kebocoran data, baik disengaja maupun tidak.

Clara menekankan pentingnya membatasi akses sesuai kebutuhan dan menerapkan autentikasi serta kontrol berbasis peran untuk meminimalkan risiko internal.

Persiapan Menghadapi 2026

Clara memprediksi, perusahaan akan semakin fokus pada strategi perlindungan data yang terintegrasi dan mudah diverifikasi.

“Keamanan kini bukan hanya soal mencegah serangan, tapi memastikan bisnis bisa kembali beroperasi normal secepat mungkin setelah terjadi insiden,” jelasnya.

Bagi perusahaan, mengenali tanda-tanda bahaya sejak awal bisa membantu memperkuat ketahanan operasional. Dengan langkah proaktif, risiko kehilangan data bisa diminimalkan, dan bisnis siap menghadapi tantangan di 2026.

Editor: Vania Rossa

Tag:  #menuju #2026 #clara #soroti #sinyal #penting #yang #boleh #diabaikan #para #pemimpin

KOMENTAR