



Iran Serang Pusat Spionase Israel di Iraq dan Pusat Pelatihan ISIS di Syria, 5 Tewas
– Konflik di Timur Tengah semakin panas. Iraq menarik duta besarnya dari Iran kemarin (16/1). Itu adalah respons atas serangan Iran ke Erbil, wilayah otonomi Kurdi, pada Senin (15/1).
Lima orang dilaporkan tewas dan enam terluka dalam serangan tersebut. Pemerintah Iraq juga memanggil diplomat Iran di Baghdad untuk dimintai keterangan.
"Kami akan mengajukan keluhan pada Dewan Keamanan (DK) PBB atas serangan Iran terhadap kedaulatan kami," bunyi pernyataan pemerintah Iraq. Mereka juga mengumumkan pembentukan komite investigasi untuk membuktikan kepalsuan klaim Iran atas serangan tersebut.
Wakil Ketua Parlemen Kurdistan Hemn Hawrami mengatakan bahwa serangan yang tidak dapat dibenarkan tersebut menargetkan rumah warga sipil milik Peshraw Dizayee. Konglomerat itu akhirnya tewas bersama empat anggota keluarganya. Salah satunya adalah bayi 11 bulan. Dizayee adalah seorang maestro bisnis dan kepala Falcon Investment Group. Di masa lalu, Iran beberapa kali menuduh sejumlah warga Kurdi Iraq berkolaborasi dengan Israel.
Dewan Keamanan Wilayah Kurdistan mengatakan, beberapa rudal balistik yang diluncurkan oleh Garda Revolusi Iran (IRGC) menghantam daerah berpenduduk sipil di Erbil sekitar pukul 23.30 waktu setempat. Outlet berita lokal Rudaw melaporkan bahwa ledakan keras mengguncang kota. Beberapa bangunan dan permukiman di jalanan antara Erbil dan pinggiran timur laut Pirmam rusak berat.
Satu roket dilaporkan jatuh di rumah seorang pejabat senior intelijen Kurdi dan satu lagi mengenai pusat intelijen Kurdi. Ada laporan yang menyebutkan bahwa beberapa rudal mendarat di dekat Markas Besar Koalisi Internasional pimpinan AS dan Konsulat AS di Erbil. Namun, tidak ada fasilitas AS yang terkena dampak serangan rudal tersebut. Iraq juga dilaporkan meluncurkan serangan misil ke Syria.
DAMPAK SERANGAN: Petugas keamanan dan pemadam kebakaran di lokasi bangunan yang jadi sasaran tembak misil Iran di Arbil. (AFP)
Serangan menjelang tengah malam tersebut diklaim Iran sebagai aksi pembalasan atas kejahatan kelompok teroris baru-baru ini. Iran menyebut kelompok teroris itu membunuh rekan senegaranya yang tidak bersalah di Kerman dan Rask. Mereka juga menyalahkan Israel karena membunuh para perwira tinggi IRGC dan pasukan proksi dalam serangan udara di Syria.
Pernyataan IRGC itu mengacu pada pengeboman ganda pada 3 Januari di dekat makam salah seorang komandan utamanya Qasem Soleimani di Kerman yang menewaskan sekitar 100 orang. Serangan tersebut terjadi pada peringatan empat tahun pembunuhan Soleimani akibat serangan AS di Baghdad. ISIS cabang Afghanistan mengaku bertanggung jawab atas serangan yang sangat mempermalukan pasukan keamanan Iran tersebut.
Sedangkan serangan di Rask terjadi pada Desember tahun lalu di kantor pusat kepolisian Iran dan menewaskan sekitar 12 orang.
Menurut IRGC, serangan di Erbil menargetkan pusat spionase Israel. Iran telah lama mengklaim bahwa Israel memiliki pusat spionase di Erbil dan menembakkan rudal ke sebuah gedung di sana pada Maret 2022. "Rudal tersebut menghancurkan salah satu markas utama agen mata-mata Israel Mossad di wilayah Kurdistan Iraq yang telah digunakan untuk mengembangkan operasi spionase dan merencanakan aksi terorisme," bunyi pernyataan IRGC.
Tidak dijelaskan mengapa serangan pembalasan dilakukan terhadap ISIS di Syria dan bukan di Afghanistan. Namun, jaringan media Al Mayadeen yang berafiliasi dengan rezim Iran mengatakan bahwa serangan IRGC itu menargetkan pusat pelatihan di Syria, tempat pasukan ISIS Afghanistan dilatih.
Kantor berita resmi Iran IRNA mengatakan bahwa serangan di Syria adalah peluncuran rudal terpanjang oleh Iran dengan jangkauan 1.200 kilometer yang dapat diartikan sebagai pesan langsung ke Israel. Iran telah menjadikan dukungan terhadap perjuangan Palestina sebagai inti kebijakan luar negerinya sejak revolusi Islam pada 1979.
"Iran terus secara proaktif dan dinamis mendukung kampanye anti-Israel," ujar Tohid Asadi, profesor di Universitas Teheran. Meski begitu, menurut Asadi, Iran sadar bahwa intervensi langsung apa pun akan berisiko menyeret kawasan ini ke dalam konfrontasi habis-habisan. ’’Ini adalah skenario yang paling tidak disukai Iran,” tambahnya.
Di pihak lain, AS mengecam serangan rudal balistik Iran tersebut. Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Matthew Miller mengatakan, serangan Iran tersebut merusak stabilitas Iraq. ’’Kami menentang serangan rudal Iran yang sembrono. AS mendukung upaya pemerintah Iraq dan Pemerintah Daerah Kurdistan untuk memenuhi aspirasi rakyat Iraq,’’ ujarnya.
Perdana Menteri Kurdi Iraq Masrour Barzani menuduh Iran membunuh warga sipil tak berdosa dalam serangannya di ibu kota wilayah semiotonom Kurdistan. Berbicara di sela Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos setelah serangan itu, Barzani mengatakan tuduhan Iran tidak berdasar dan menambahkan bahwa sekarang bukan waktunya bagi pasukan AS untuk menarik diri dari negara tersebut.
Israel, di pihak lain, masih bungkam. Mereka tidak mengiyakan ataupun menampik tudingan Iran bahwa yang diserang adalah markas mata-mata Israel alias Mossad di Iraq.
Serangan Iran terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah sejak perang di Jalur Gaza antara Israel dan Hamas yang didukung Iran pada 7 Oktober tahun lalu. (sha/c6/c19/oni)
Tag: #iran #serang #pusat #spionase #israel #iraq #pusat #pelatihan #isis #syria #tewas