



Benarkah Netanyahu & Yoav Gallant Tak Tahu Soal Tewasnya Anak Haniyeh? IDF Bergerak di Luar Komando?
Lebih jauh, media Israel juga menyatakan Netanyahu tidak menyetujui operasi tersebut,
Menurut pejabat tersebut, operasi tersebut dianggap oleh militer Israel atau IDF dan Shin Bet (badan intelijen)sebagai tindakan taktis dan dilakukan karena peran putra Haniyeh di sayap militer Hamas.
Dampak pada serangan itu juga disebut belum dibahas dalam kabinet perang.
Pun demikian dengan Menteri Pertahanan Yoav Gallant yang mengaku juga tidak diberitahu tentang keputusan untuk membunuh putra-putra Haniyeh.
N12, media Israel mengklaim, baik dia maupun Netanyahu dilaporkan terkejut dengan serangan tersebut.
Para pengambil keputusan IDF dilaporkan percaya bahwa karena Israel belum mencapai kesepakatan dengan Hamas, tindakan seperti itu tidak akan mempengaruhi negosiasi penyanderaan.
IDF menjelaskan langkah tersebut sejalan dengan prosedur dan kebijakan kebakaran sebagaimana ditetapkan oleh Kepala Staf Gabungan; serangan itu didasarkan pada informasi terkait secara real-time.
Sebuah sumber di militer mengatakan kepada N12 bahwa waktu serangan itu penting dan oleh karena itu, terserah pada komandan di lapangan untuk menyetujuinya.
IDF menambahkan, ketiganya terlibat kegiatan teroris, bahkan salah satunya terlibat penyanderaan.
Pejabat Israel mengatakan kepada Walla bahwa IDF dan Shin Bet, yang melakukan serangan bersama-sama, menganggap serangan itu sebagai peristiwa taktis.
Hal itu dilakukan karena aktivitas ketiga bersaudara di sayap militer Hamas dan bukan karena mereka adalah putra Ismail Haniyeh.
Reaksi Ismail Haniyeh
Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh mengkonfirmasi dan bereaksi atas serangan udara yang menewaskan tiga putranya.
Berikut poin-poin reaksi Ismail Haniyeh:
- Haniyeh mengkonfirmasi kematian tersebut pada hari Rabu dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera.
- Dia mengatakan bahwa putra-putranya menjadi syahid dalam perjalanan menuju pembebasan Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa.
- Dia mengakatakan, musuh kriminal didorong oleh semangat balas dendam dan pembunuhan dan tidak menghargai standar atau hukum apa pun
- Saat ini Ismail Haniyeh tinggal di pengasingannya di Qatar, tempat Al Jazeera bermarkas.
- Dia mengatakan pembunuhan tersebut tidak akan menekan Hamas untuk melunakkan posisinya terhadap Israel.
- Kedua belah pihak telah terlibat dalam perundingan gencatan senjata selama berbulan-bulan.
- “Musuh percaya bahwa dengan menargetkan keluarga para pemimpin, hal itu akan mendorong mereka untuk mengabaikan tuntutan rakyat kami,” katanya.
- “Siapa pun yang percaya bahwa menargetkan anak-anak saya akan mendorong Hamas mengubah posisinya adalah delusi.”
Ketegangan Israel dan Iran menuju puncak
Sementara, ketegangan negeri zionis Israel dengan Iran kian memuncak.
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengatakan Israel “harus dihukum dan harus dihukum” atas serangan terhadap kedutaan Iran di Suriah yang menewaskan tujuh anggota Korps Garda Revolusi Iran.
Berbicara pada Salat Jenazah komandan Garda evolusi yang tewas di Suriah, Khamenei mengatakan bahwa serangan udara yang menghancurkan konsulat Iran di Suriah awal bulan ini adalah “kesalahan” terhadap pos diplomatik yang dianggap sebagai wilayah Iran.
“Rezim jahat harus dihukum, dan mereka akan dihukum,” katanya.
Israel yang diduga kuat berada di balik serangan itu namun hingga kini belum mengakui keterlibatannya.
Presiden AS Joe Biden di sisi lain, menegaskan komitmen AS untuk membela Israel melawan Iran sangat kuat karena Washington meyakini serangan Iran yang signifikan dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Gedung Putih memprediksi dalam waktu dekat serangan itu bisa berupa peluncuran rudal langsung dari Iran, dibandingkan serangan melalui proksi seperti Hizbullah di Lebanon.
Tag: #benarkah #netanyahu #yoav #gallant #tahu #soal #tewasnya #anak #haniyeh #bergerak #luar #komando