Mossad-IDF Tuding Hamas Hanya Peduli Kelangsungan Hidup Mereka, Bukan Penderitaan Warga Gaza
Anak-anak membawa peralatan dapur saat mereka berjalan menuju titik distribusi makanan di Khan Yunis di Jalur Gaza selatan pada 7 Maret 2024, di tengah pertempuran yang sedang berlangsung antara Israel dan kelompok militan Palestina Hamas. (Photo by AFP) 
13:20
10 Maret 2024

Mossad-IDF Tuding Hamas Hanya Peduli Kelangsungan Hidup Mereka, Bukan Penderitaan Warga Gaza

Para mediator, Mesir dan Qatar, dengan bantuan Amerika Serikat, berharap sebelum Ramadan, tercapai kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas.

Namun, Hamas sepertinya tak tertarik dengan tawaran kesepakatan pembebasan 40 sandera dengan imbalan jeda perang selama enam pekan.

Hamas berharap tawaran kesepakatan dinaikkan menjadi genjacatan senjata permanen yang kemudian ditolak oleh Israel.

Dasar itulah yang membuat Mossad, lembaga intelijen Israel, menuduh Hamas berusaha meningkatkan ketegangan menjelang Ramadan, dengan mengorbankan warga Palestina di Jalur Gaza serta memperpanjang penderitaan mereka.

Menurut Mossad, Hamas lebih tertarik untuk mengobarkan Timur Tengah selama Ramadan daripada menghentikan perang Gaza.

“Pada tahap ini, Hamas mempertahankan posisinya seolah-olah tak tertarik pada kesepakatan dan tetap berusaha mengobarkan (perang) di wilayah tersebut selama Ramadan dengan mengorbankan penduduk Palestina di Jalur Gaza,” demikian pernyataan Direktur Mossad David Barnea usai bertemu Direktur CIA William Burns seperi dikutip Jerusalem Post.

Israel, Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat khawatir tanpa kesepakatan, Hamas akan memanfaatkan semangat keagamaan di bulan Ramadan untuk memicu kekerasan, khususnya di Yerusalem.

Tentu saja jika hal itu terjadi akan menghambat upaya mencapai kesepakatan.

Juru bicara IDF Daniel Hagari juga mengatakan Hamas menghalangi tercapainya kesepakatan dan menilai para pemimpinnya hanya tertarik pada “kelangsungan hidup mereka dan kondisi yang akan mereka terima”. Sementara penderitaan warga Palestina di Gaza terus berlanjut.

Namun, tuduhan itu dibantah oleh Hamas.

The Wall Street Journal menerbitkan wawancara dengan pejabat senior Hamas Husam Badran pada Sabtu kemarin.

Wawancara itu membahas sikap keras Hamas yang hanya menyetujui gencatan senjata permanen dan menjelaskan rincian proses negosiasi yang kurang diketahui publik.

Badran memulai wawancara dengan menyatakan bahwa Hamas masih bersedia untuk menegosiasikan perjanjian gencatan senjata.

Dikatakannya bahwa klaim ketidaktertarikan Hamas terhadap kesepakatan, datang dari Israel dan Amerika.

“Kami tidak menyatakan negosiasi telah dihentikan. Kami adalah pihak yang paling ingin menghentikan perang ini,” kata Badran.

Badran juga membantah klaim yang menyebut Qatar mengancam akan mengusir Hamas secara resmi dari basis mereka di Doha jika mereka tidak mencapai kesepakatan.

Editor: Willem Jonata

Tag:  #mossad #tuding #hamas #hanya #peduli #kelangsungan #hidup #mereka #bukan #penderitaan #warga #gaza

KOMENTAR