Perang Cip Memasuki Fase Baru, Nvidia Perkuat Strategi CPU untuk Tantang Dominasi Intel dan AMD di Era AI Global
Jensen Huang, CEO Nvidia. (Foto: The News International)
15:09
27 Februari 2026

Perang Cip Memasuki Fase Baru, Nvidia Perkuat Strategi CPU untuk Tantang Dominasi Intel dan AMD di Era AI Global

 

— Persaingan industri semikonduktor global memasuki babak baru ketika Nvidia secara terbuka memperkuat strategi unit pemrosesan pusat atau central processing unit (CPU) untuk menantang dominasi lama Intel dan AMD. 

Pergeseran ini terjadi di tengah perubahan lanskap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dari fase pelatihan model menuju penerapan sistem AI yang lebih otonom dan berbasis agen.

Selama bertahun-tahun, Nvidia dikenal sebagai raksasa unit pemrosesan grafis atau graphics processing unit (GPU) yang mendominasi pelatihan model AI. 

Namun kini, perusahaan tersebut secara agresif menyiapkan investor untuk kompetisi baru di ranah CPU pusat data. CEO Nvidia, Jensen Huang, menekankan bahwa keseimbangan komputasi kembali berubah seiring meningkatnya kebutuhan terhadap pemrosesan data yang berurutan dan akses memori berkapasitas besar.

Menurut laporan The News International, Huang menjelaskan bahwa Nvidia tidak sepenuhnya mengandalkan pendekatan chiplet, yaitu strategi memecah cip menjadi bagian-bagian kecil seperti yang digunakan Intel dan AMD. Dia menegaskan bahwa CPU Nvidia dirancang untuk menjalankan tugas berurutan secara cepat dengan akses memori sangat besar, sehingga cocok untuk beban kerja AI modern yang sangat bergantung pada data.

Dalam paparan kepada analis, Huang menegaskan, “Kami menaruh perhatian yang sama besar pada CPU seperti pada GPU.” Pernyataan tersebut menandai perubahan strategis Nvidia yang tidak lagi hanya bertumpu pada akselerator grafis. Dia juga menyampaikan bahwa penggunaan CPU berkinerja tinggi di pusat data akan meningkat tajam, bahkan tidak menutup kemungkinan Nvidia menjadi salah satu produsen CPU terbesar di dunia.

Secara historis, CPU merupakan cip serbaguna yang menangani berbagai tugas komputasi kompleks, sementara GPU dirancang untuk memproses ribuan perhitungan sederhana secara paralel. Ketika pelatihan AI mendominasi, GPU mengambil porsi terbesar. Namun kini, dengan munculnya agen AI yang mampu menulis kode, menelusuri dokumen, dan menghasilkan laporan riset secara mandiri, kebutuhan terhadap CPU kembali menguat.

Analis Creative Strategies, Ben Bajarin, mengatakan bahwa “perusahaan AI semakin banyak menerapkan agen yang dapat menjalankan tugas secara mandiri seperti menulis kode, menelusuri dokumen, dan laporan riset.” Pernyataan ini memperkuat argumen bahwa CPU kembali menjadi komponen penting dalam infrastruktur AI.

Langkah Nvidia juga diperkuat melalui kesepakatan strategis dengan Meta Platforms, yang akan mengimplementasikan CPU Grace dan Vera secara mandiri dalam skala besar. Berbeda dengan server AI Nvidia sebelumnya yang memasangkan satu CPU dengan beberapa GPU, pendekatan ini menandai fokus baru pada kekuatan CPU sebagai tulang punggung pemrosesan data.

Pengamat industri Dave Altavilla dari HotTech Vision and Analysis menilai bahwa Nvidia sedang berupaya membuktikan bahwa tipe CPU yang sebelumnya dipasok terutama oleh Intel “tidak lagi secara otomatis menjadi fondasi default infrastruktur komputer modern.” Artinya, struktur arsitektur komputasi kini semakin terbuka terhadap alternatif baru.

Dengan demikian, perang cip global tidak lagi semata soal akselerasi grafis. Pertarungan memasuki fase redefinisi fondasi infrastruktur AI itu sendiri. Nvidia, Intel, dan AMD kini bersaing bukan hanya dalam kapasitas teknis, tetapi dalam menentukan arah standar komputasi dunia di era kecerdasan buatan.

Editor: Setyo Adi Nugroho

Tag:  #perang #memasuki #fase #baru #nvidia #perkuat #strategi #untuk #tantang #dominasi #intel #global

KOMENTAR