Menjaga Momentum Emas Ekspor Perkebunan
Ilustrasi Petani Kakao di Sulawesi sedang mengangkut hasil panen.(Shutterstock/Zakariya AF)
15:48
27 Februari 2026

Menjaga Momentum Emas Ekspor Perkebunan

DI TENGAH ketidakpastian ekonomi global, sektor perkebunan Indonesia justru menunjukkan daya tahan sekaligus daya dorong yang mengesankan.

Ketika banyak negara menghadapi perlambatan pertumbuhan dan tekanan geopolitik, kinerja perdagangan luar negeri Indonesia sepanjang 2025 menghadirkan optimisme.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total ekspor nonmigas mencapai 269,84 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 4.542 triliun, dengan surplus neraca perdagangan sebesar 41,05 miliar dollar AS (sekitar Rp 689,64 triliun).

Di balik angka-angka tersebut, komoditas perkebunan, terutama kelapa sawit, kakao, kopi, dan kelapa menjadi penopang penting ekspor nonmigas untuk devisa nasional.

Capaian ini tidak datang begitu saja. Penguatan nilai ekspor didorong oleh kombinasi kenaikan harga komoditas di pasar global dan upaya hilirisasi di dalam negeri.

Namun, keberhasilan ini tidak boleh hanya dipahami sebagai efek sementara dari siklus harga yang sedang naik.

Momentum ini seharusnya menjadi kesempatan untuk memperkuat struktur industri perkebunan agar lebih tangguh, berdaya saing, dan mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri.

Memasuki awal 2026, tren harga memberikan sinyal positif. Harga referensi minyak sawit mentah (CPO) pada Januari 2026 tercatat 915,64 dollar AS per ton dan naik menjadi 918,47 dollar AS per ton pada Februari 2026, atau meningkat sekitar 0,31 persen.

Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya permintaan global, di tengah pasokan yang menurun akibat musim panen.

Pemerintah menetapkan harga tersebut dengan merujuk pada tiga pasar internasional, yaitu Bursa Indonesia, Bursa Malaysia, dan Rotterdam, untuk menjaga harga tetap wajar dan stabil.

Hal serupa terjadi pada kakao. Pada Februari 2026, harga referensi biji kakao ditetapkan sebesar 5.717,45 dollar AS per ton, naik hampir 1 persen dibanding bulan sebelumnya.

Harga patokan ekspornya pun meningkat menjadi 5.350 dollar AS per ton. Salah satu faktor pendorongnya adalah tercatatnya kakao Indonesia di bursa internasional Bloomberg, yang membuat komoditas ini semakin dikenal dan mudah diperdagangkan.

Dari sisi kebijakan, pemerintah menetapkan bea keluar CPO sebesar 10 persen, sekitar 91 dollar AS per ton berdasarkan harga Januari, sementara untuk kakao, bea keluar dan pungutan ekspor masing-masing sebesar 7,5 persen.

Penguatan harga tersebut berdampak nyata pada nilai ekspor. Sepanjang 2025, ekspor kakao Indonesia mencapai 2,65 miliar dollar AS, sedangkan ekspor kopi (baik dalam bentuk biji maupun olahan) sekitar 1,63 miliar dollar AS.

Angka ini menegaskan bahwa sektor perkebunan tetap menjadi salah satu tulang punggung perekonomian nasional.

Tantangannya kini adalah menjaga agar tren positif ini berkelanjutan, bukan hanya karena harga sedang baik, tetapi karena industri perkebunan Indonesia semakin kuat, efisien, dan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi negara dan petani.

Hilirisasi dan Diversifikasi Pasar

Kenaikan nilai ekspor Indonesia tidak semata-mata dipicu oleh perbaikan harga komoditas global, tetapi juga oleh perubahan struktur ekspor yang semakin bernilai tambah. Program hilirisasi mulai menunjukkan hasil nyata.

Pada komoditas kakao, misalnya, ekspor tidak lagi didominasi biji mentah, melainkan produk olahan seperti cocoa butter, pasta kakao, dan cokelat jadi.

Pergeseran ini menghadirkan nilai tambah signifikan, sehingga mendorong capaian ekspor kakao menembus 2,65 miliar dollar AS pada 2025.

Tren serupa terlihat pada komoditas kopi. Selain biji mentah, ekspor kopi olahan kini semakin berperan dalam menopang total nilai ekspor yang mencapai 1,63 miliar dollar AS.

Permintaan global terhadap kopi spesialti dan produk premium terus meningkat, terutama di kawasan Asia Tenggara dan Timur Tengah.

Momentum ini memperkuat posisi Indonesia bukan hanya sebagai produsen bahan baku, tetapi juga sebagai pemain penting dalam rantai pasok produk olahan berkualitas.

Dari sisi pasar tujuan, ekspor sawit Indonesia masih didominasi oleh India, China, Pakistan, dan Bangladesh, dengan India sebagai pembeli terbesar.

Sementara itu, produk olahan kopi dan teh banyak mengalir ke Filipina, Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Irak.

Untuk kakao olahan, Amerika Serikat dan negara-negara Eropa tetap menjadi pasar utama berkat daya beli yang tinggi dan sistem perdagangan yang likuid. Diversifikasi pasar ini menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas ekspor nasional.

Pemerintah turut memastikan keseimbangan antara kepentingan ekspor dan kebutuhan domestik.

Salah satu kebijakan strategis adalah mempertahankan bea keluar 0 persen untuk produk RBD palm olein kemasan bermerek ukuran ≤25 kilogram.

Kebijakan yang berlaku bagi 43 merek minyak goreng kemasan sesuai regulasi terbaru ini bertujuan menjaga stabilitas harga eceran di dalam negeri sekaligus mendorong ekspor produk hilir.

Pendekatan ini mencerminkan strategi ganda, memperkuat industri pengolahan domestik dan memperluas penetrasi pasar global.

Meski prospek 2026 terlihat positif, tantangan tetap perlu diantisipasi. Harga komoditas domestik masih mengikuti dinamika pasar global.

Pada Februari 2026, harga kopi robusta di tingkat petani Subang tercatat sekitar Rp 87.000 per kilogram.

Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit untuk golongan tertinggi bertahan di atas Rp 2.000 per kilogram, meski sempat melemah saat musim panen. Sementara harga kakao lokal tetap tinggi seiring tren global.

Stabilitas ini memberi optimisme, tapi kewaspadaan tetap diperlukan untuk menjaga daya saing dan keberlanjutan ekspor ke depan.

Kondisi dan Tantangan Kedepan

Kenaikan harga komoditas tentu membawa angin segar bagi petani. Pendapatan meningkat dan daya beli membaik.

Namun, di balik peluang tersebut, akses ke pasar global kini semakin selektif dan menuntut standar yang lebih tinggi. Uni Eropa dan Amerika Serikat, misalnya, mewajibkan sertifikasi keberlanjutan seperti ISPO, RSPO, Fair Trade, dan Rainforest Alliance.

Tanpa sertifikasi dan sistem ketertelusuran (traceability) yang kuat, produk Indonesia berisiko tersingkir dari rantai pasok global.

Selain standar keberlanjutan, tantangan juga datang dari sisi logistik. Fluktuasi tarif angkutan laut (freight rate) masih dipengaruhi dinamika geopolitik dan ketersediaan kontainer global.

Memang, pelabuhan utama seperti Belawan, Dumai, Pontianak, dan Tanjung Perak kini beroperasi lebih stabil dibanding masa pandemi.

Namun, persoalan antrean, efisiensi bongkar muat, dan biaya logistik tetap menjadi pekerjaan rumah yang memengaruhi daya saing ekspor.

Karena itu, menjaga momentum ekspor tidak cukup dengan mengandalkan harga komoditas yang sedang tinggi. Kepastian kebijakan menjadi kunci.

Stabilitas tarif, seperti bea keluar 10 persen untuk CPO dan 7,5 persen untuk kakao, perlu dijaga agar pelaku usaha dapat menyusun perencanaan bisnis secara lebih pasti.

Pada saat yang sama, percepatan hilirisasi, penguatan kelembagaan koperasi petani, serta perluasan akses sertifikasi harus berjalan beriringan sebagai fondasi daya saing jangka panjang.

Momentum emas ini tidak boleh terlewatkan. Jika dikelola dengan strategi yang tepat, maka sektor perkebunan bukan hanya menjadi penyumbang devisa, melainkan juga motor transformasi ekonomi.

Transformasi menuju industri bernilai tambah yang lebih tinggi, sistem perdagangan yang lebih adil bagi petani, serta praktik usaha yang berkelanjutan akan menentukan posisi Indonesia di peta perdagangan dunia ke depan.

Tag:  #menjaga #momentum #emas #ekspor #perkebunan

KOMENTAR