Di Tengah Ekspansi Pusat Data Global, Klaim Raksasa Teknologi soal AI sebagai Solusi Iklim Dipersoalkan dan Dinilai ‘Greenwashing’
Ketan Joshi menekankan bahwa diskursus mengenai manfaat AI bagi iklim perlu “melihat realitas”. (Foto: The Guardian)
19:33
18 Februari 2026

Di Tengah Ekspansi Pusat Data Global, Klaim Raksasa Teknologi soal AI sebagai Solusi Iklim Dipersoalkan dan Dinilai ‘Greenwashing’

 

— Di saat raksasa teknologi global mempercepat ekspansi pusat data untuk menopang kecerdasan buatan (AI), klaim bahwa teknologi tersebut dapat membantu menyelamatkan iklim justru menghadapi kritik tajam. Di balik narasi solusi, konsumsi energi yang melonjak dinilai belum diimbangi bukti penurunan emisi yang signifikan.

Perusahaan seperti Google dan Microsoft secara konsisten menyampaikan bahwa AI dapat meningkatkan efisiensi energi, mengoptimalkan sistem listrik, hingga mempercepat transisi hijau. Namun, analisis terbaru menilai industri mencampuradukkan AI tradisional—seperti model prediktif berbasis pembelajaran mesin—dengan AI generatif yang justru sangat intensif energi dan menjadi pendorong utama ledakan pusat data.

Dilansir dari The Guardian, Rabu (18/2/2026), kajian terhadap 154 pernyataan publik menemukan sebagian besar klaim manfaat iklim merujuk pada pembelajaran mesin, bukan chatbot dan generator gambar yang menopang pertumbuhan pusat data berkapasitas besar. Penelitian yang diinisiasi oleh organisasi nirlaba Beyond Fossil Fuels dan Climate Action Against Disinformation itu tidak menemukan satu pun contoh di mana alat populer seperti Gemini milik Google atau Copilot milik Microsoft menghasilkan pengurangan emisi yang “material, terverifikasi, dan substansial.”

Analis energi Ketan Joshi menyebut pendekatan tersebut sebagai taktik “pengalihan” yang menggunakan metode lama yang pada dasarnya merupakan “greenwashing”, yakni praktik membangun citra ramah lingkungan tanpa perubahan mendasar pada model bisnis yang tetap menghasilkan emisi besar. 

Dia membandingkannya dengan strategi perusahaan bahan bakar fosil yang menonjolkan investasi kecil pada panel surya sambil melebih-lebihkan potensi penangkapan karbon. “Teknologi ini hanya menghindari sebagian kecil emisi dibandingkan dengan emisi masif dari bisnis inti mereka,” ujarnya. “Perusahaan teknologi besar mengambil pendekatan itu lalu meningkatkan dan memperluasnya.”

Kritik tersebut merujuk pada sejumlah klaim yang bersumber dari laporan resmi, termasuk publikasi International Energy Agency (IEA) yang ditinjau perusahaan teknologi besar serta laporan keberlanjutan Google dan Microsoft. Analisis menemukan bahwa dalam laporan IEA, klaim manfaat iklim terbagi antara rujukan akademik, situs korporasi, dan pernyataan tanpa bukti kuat. Untuk Google dan Microsoft, sebagian besar klaim dinilai minim verifikasi independen.

Temuan tersebut juga menyoroti lemahnya dasar pembuktian. Hanya 26 persen klaim lingkungan yang merujuk penelitian akademik terbitan, sementara 36 persen tidak menyertakan bukti sama sekali. Salah satu contoh yang disorot adalah klaim bahwa AI dapat membantu mengurangi 5–10 persen emisi gas rumah kaca global pada 2030—angka yang masih diulang Google hingga April tahun lalu. Klaim itu berasal dari laporan yang disusun BCG atas permintaan Google dan merujuk pada blog internal yang mendasarkan proyeksi pada “pengalaman dengan klien”.

Pada saat yang sama, tekanan energi dari ekspansi pusat data terus meningkat. Konsumsi listriknya memang baru sekitar 1 persen dari total global, tetapi menurut BloombergNEF porsinya di Amerika Serikat diproyeksikan melonjak menjadi 8,6 persen pada 2035. IEA bahkan memperkirakan pusat data menyumbang sedikitnya 20 persen pertumbuhan permintaan listrik di negara maju hingga akhir dekade ini. Meski satu permintaan teks sederhana relatif kecil, konsumsi meningkat tajam untuk fungsi kompleks seperti pembuatan video dan riset mendalam.

Sasha Luccioni dari Hugging Face menekankan perlunya membedakan jenis AI. “Ketika kita berbicara tentang AI yang relatif buruk bagi planet ini, itu sebagian besar adalah AI generatif dan model bahasa besar,” ujarnya. “Ketika kita berbicara tentang AI yang ‘baik’ bagi planet ini, sering kali yang dimaksud adalah model prediktif atau AI generasi lama.”

Menanggapi laporan tersebut, juru bicara Google menyatakan, “Perkiraan pengurangan emisi kami didasarkan pada proses pembuktian yang kuat berbasis sains terbaik yang tersedia.” Microsoft menolak berkomentar, sementara IEA tidak merespons permintaan tanggapan.

Pada akhirnya, Joshi menegaskan diskursus mengenai manfaat iklim AI perlu dikembalikan pada realitas. “Pengaitan keliru antara masalah besar dan solusi kecil menjadi pengalih perhatian dari kerugian yang sebenarnya bisa dicegah akibat ekspansi pusat data tanpa pembatasan,” katanya. Pernyataan itu menutup perdebatan yang kini mengemuka: apakah AI benar menjadi bagian dari solusi iklim, atau justru memperbesar jejak energi yang selama ini coba ditekan.

Editor: Setyo Adi Nugroho

Tag:  #tengah #ekspansi #pusat #data #global #klaim #raksasa #teknologi #soal #sebagai #solusi #iklim #dipersoalkan #dinilai #greenwashing

KOMENTAR