SBY Peringatkan Ancaman Perang Dunia Ketiga, Dorong Sidang Darurat PBB
Mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). (Istimewa)
11:51
19 Januari 2026

SBY Peringatkan Ancaman Perang Dunia Ketiga, Dorong Sidang Darurat PBB

 

Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyampaikan kekhawatiran serius terhadap arah perkembangan geopolitik global yang dinilainya semakin mendekati skenario terburuk: Perang Dunia Ketiga.

Dalam refleksi panjangnya terhadap dinamika internasional beberapa tahun terakhir, SBY menilai ruang untuk mencegah konflik global berskala besar kian menyempit.

Melalui tulisan panjang di akun X pribadinya, SBY mengungkapkan, selama tiga tahun terakhir ia secara intens mengikuti perkembangan dunia, khususnya eskalasi ketegangan global dalam beberapa bulan terakhir.

Sebagai tokoh yang puluhan tahun mendalami geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, hingga sejarah peperangan lintas abad, ia mengaku cemas melihat pola-pola yang muncul saat ini.

Situasi dunia menjelang Perang Dunia Pertama dan Kedua memiliki banyak kesamaan dengan kondisi sekarang,” ujar SBY.

Ia juga menyoroti kemunculan pemimpin-pemimpin kuat yang cenderung agresif, terbentuknya blok-blok persekutuan negara yang saling berhadapan, serta pembangunan kekuatan militer besar-besaran yang dibarengi penyiapan ekonomi dan mesin perang.

Menurut SBY, sejarah menunjukkan bahwa tanda-tanda perang besar kerap terlihat jauh hari sebelumnya. Namun, kesadaran global untuk mencegahnya sering kali datang terlambat.

Ia mempertanyakan apakah bangsa-bangsa di dunia saat ini benar-benar tidak peduli, tidak berdaya, atau tidak mampu mengambil langkah pencegahan yang nyata.

Dalam pandangannya, ancaman perang dunia bukan sekadar konflik konvensional. SBY mengingatkan, sejumlah studi memperkirakan bahwa jika perang dunia disertai perang nuklir benar-benar terjadi, kehancuran peradaban manusia nyaris tak terelakkan.

Korban jiwa diperkirakan bisa melampaui 5 miliar orang, dengan dampak yang menghapus harapan umat manusia secara menyeluruh.

Meski demikian, SBY menegaskan bahwa skenario mengerikan tersebut masih bisa dicegah. Ia menolak sikap pasrah yang hanya mengandalkan doa tanpa upaya konkret.

“Doa penting, tetapi tidak akan cukup jika manusia dan bangsa-bangsa sedunia tidak bekerja dan berupaya menyelamatkan dunianya sendiri,” tegasnya.

SBY menilai, sekalipun waktu dan ruang untuk bertindak semakin sempit, peluang untuk mencegah krisis global masih ada. Ia mengajak masyarakat dunia untuk tidak diam, mengingatkan kembali pesan pemikir dunia seperti Edmund Burke dan Albert Einstein bahwa kehancuran sering terjadi bukan semata karena kejahatan, melainkan karena orang-orang baik memilih untuk diam.

Sebagai langkah konkret, SBY mengusulkan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif menggelar Sidang Umum Darurat (Emergency UN General Assembly).

Forum tersebut diharapkan menjadi ruang bagi para pemimpin dunia untuk berembuk dan merumuskan langkah nyata dalam mencegah krisis global berskala besar, termasuk potensi perang dunia baru.

Ia mengakui bahwa saat ini PBB kerap dipersepsikan lemah dan tidak berdaya. Namun, SBY mengingatkan agar lembaga internasional tersebut tidak tercatat dalam sejarah sebagai pihak yang melakukan pembiaran atau sekadar berdiam diri di tengah ancaman besar terhadap umat manusia. “Seruan itu mungkin terdengar seperti berseru di padang pasir,” kata SBY.

Namun menurutnya, bisa jadi itulah awal dari tumbuhnya kesadaran kolektif dan kemauan politik global untuk menyelamatkan dunia. Ia menutup pesannya dengan keyakinan bahwa selama masih ada kehendak, jalan keluar selalu mungkin ditemukan. (*)

 

Editor: Dinarsa Kurniawan

Tag:  #peringatkan #ancaman #perang #dunia #ketiga #dorong #sidang #darurat

KOMENTAR