Sedihnya Warga Singapura Saat Warung Nasi Padang Tertua Tutup, Teringat Sejuta Kenangan
Warung Nasi Pariaman di Jalan Kandahar, Singapura, tutup mulai 31 Januari 2026. Ini adalah warung nasi padang tertua di Singapura, berdiri sejak 1948.(INSTAGRAM @muhammadfaishalibrahim)
12:12
25 Januari 2026

Sedihnya Warga Singapura Saat Warung Nasi Padang Tertua Tutup, Teringat Sejuta Kenangan

- Sejak Kamis (22/1/2026) pagi, antrean panjang terlihat di Warung Nasi Pariaman di Jalan Kandahar, Kampong Glam. Lebih dari seratus orang datang sejak pukul 09.00 untuk menikmati sepiring nasi padang otentik—mungkin untuk terakhir kalinya.

Warung yang telah berdiri sejak 1948 itu akan menutup usahanya secara permanen pada 31 Januari 2026. Pengumuman penutupan yang disampaikan pada Selasa (20/1/2026) mengejutkan banyak pelanggan setia.

Dikenal luas sebagai rumah makan nasi padang tertua di Singapura, Warung Pariaman telah menjadi bagian dari tradisi kuliner lintas generasi di kawasan Kampong Glam. Warung ini dirintis oleh Haji Isrin asal Kota Pariaman, Sumatera Barat.

Penutupan Warung Pariaman disambut rasa kehilangan oleh pelanggan. Namun, tak sedikit pula yang menyampaikan rasa syukur atas kontribusi warung ini dalam menjaga kuliner Melayu tetap hidup di Singapura.

Beberapa warga bahkan berharap warung tersebut dapat terus beroperasi di lokasi lain.

Pelaksana Tugas Menteri Urusan Muslim Singapura, Faishal Ibrahim, juga menanggapi kabar ini melalui unggahan di media sosial pada Rabu (21/1/2026).

“Bagi banyak keluarga, termasuk keluarga saya, kunjungan ke Kampong Glam sudah sejak lama termasuk makan di sini. Nilai toko-toko seperti Pariaman benar-benar tak terukur dalam masyarakat kita,” tulis Faishal, dikutip dari Channel News Asia.

Ia berharap keluarga pemilik warung tahu bahwa mereka sangat dihargai oleh masyarakat, dan meminta instansi terkait untuk mencari cara agar usaha ini bisa terus dilanjutkan.

Pelanggan kenang kisah dan cita rasa

Ilustrasi nasi padang.KOMPAS.com/DEVI RAMADHANY Ilustrasi nasi padang.Meskipun diminta komentar oleh media, Abdul Munaf Isrin, salah satu pemilik Warung Pariaman, memilih tidak memberikan pernyataan lebih lanjut.

Ia juga tidak mengungkap alasan di balik rencana penutupan, menurut laporan Berita Harian.

Namun, anggota keluarga lainnya turut menyuarakan perasaan mereka.

Adam Bakri, cucu keponakan dari pemilik warung, mengatakan bahwa ia merasa bangga menjadi generasi keempat dalam keluarga yang menjalankan usaha ini. Ia mulai membantu di warung sejak akhir 2024.

“Saya merasa seperti sebagian dari diri saya diambil,” ujar remaja 19 tahun itu melalui pesan teks. Ia menceritakan, banyak pelanggan yang sudah makan di Pariaman jauh sebelum dirinya lahir, kini datang kembali sambil mengenang pengalaman masa lalu mereka.

Salah satu pelanggan setia, Wini, mengenang momen ketika keluarganya diundang ke pernikahan anak pemilik warung pada akhir 1990-an. Acara digelar di depan warung dan jalanan ditutup agar tamu bisa menikmati santapan bersama.

Dari generasi kakeknya hingga anak-anaknya, keluarga Wini rutin menyantap hidangan favorit seperti ayam bakar, sotong gulai, rendang, dan begedil di Warung Pariaman.

“Saya pasti akan merindukan orang-orang dari Pariaman. Mereka sangat ramah dan menyenangkan,” kata perempuan berusia 40-an tahun ini.

Hal serupa disampaikan Darry Lim (69), pelanggan yang kerap mengajak teman dari luar negeri untuk mencicipi masakan di sana.

“Ikan bakarnya luar biasa, dan telur dadarnya lembut,” ujar Lim. “Pemiliknya sangat ramah. Senyumnya sama lezatnya dengan makanannya.”

Warisan rasa Minangkabau yang tak tergantikan

Ilustrasi nasi padang. Indonesia menempati peringkat 10 dari 100 negara dengan kuliner terbaik di dunia versi TasteAtlas.SHUTTERSTOCK/Michaelnero Ilustrasi nasi padang. Indonesia menempati peringkat 10 dari 100 negara dengan kuliner terbaik di dunia versi TasteAtlas.Menurut sejarawan kuliner Khir Johari, Warung Nasi Pariaman bukan sekadar tempat makan, tetapi simbol otentisitas dalam kuliner padang di Singapura.

“Ini bukan hanya soal label ‘otentik’, tetapi hubungan terhadap tradisi, teknik, dan komunitas,” kata Khir.

Ia menjelaskan bahwa sistem rasa dalam masakan Minangkabau membutuhkan kesabaran terhadap tahapan pengolahan seperti gulai, kalio, hingga rendang.

Menurutnya, Warung Pariaman adalah satu-satunya tempat di Singapura yang masih memegang teguh cara masak tradisional tersebut.

“Ini juga tentang rasa hormat. Ada pemahaman mendalam tentang makanan Minangkabau. Jadi saya benar-benar terpukul (oleh berita itu),” ucap Khir.

Ia juga mengenang dua pria Tionghoa lansia yang dulu bekerja di Kampong Glam dan masih rutin datang ke Warung Pariaman meski kini tinggal di Sengkang dan Hougang. Bagi mereka, rasa dan kenangan di tempat ini sulit tergantikan.

Dengan rencana penutupan yang tinggal hitungan hari, Warung Nasi Pariaman tak hanya meninggalkan jejak kuliner, tetapi juga warisan budaya dan kenangan mendalam bagi masyarakat Singapura.

Tag:  #sedihnya #warga #singapura #saat #warung #nasi #padang #tertua #tutup #teringat #sejuta #kenangan

KOMENTAR