Kasus Lula Lahfah Jadi Pengingat, dr Vito Damay Ungkap Beda Nyeri GERD dan Serangan Jantung
Lula Lahfah. (Instagram @lulalahfah)
13:48
25 Januari 2026

Kasus Lula Lahfah Jadi Pengingat, dr Vito Damay Ungkap Beda Nyeri GERD dan Serangan Jantung

 

- Meninggalnya selebgram Lula Lahfah, Sabtu (24/1), akibat henti jantung menyita perhatian publik. Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa edukasi kesehatan dasar masih sangat dibutuhkan masyarakat.

Salah satu kekeliruan yang kerap terjadi adalah menyamakan nyeri ulu hati akibat GERD dengan gejala serangan jantung. Padahal, keduanya memang bisa tampak mirip di awal, tetapi risikonya sangat berbeda.

Kepada JawaPos.com, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Dr. dr. Vito A. Damay, SpJP(K), FIHA, FAsCC, FICA, mengatakan kemiripan gejala inilah yang sering membuat orang lengah. “Banyak pasien datang terlambat karena mengira keluhannya hanya GERD atau maag biasa,” ujarnya.

Pada GERD, keluhan umumnya berupa rasa panas di dada hingga leher atau nyeri perih di ulu hati. Gejala ini sering muncul setelah makan, saat berbaring, atau pada malam hari.

GERD juga kerap disertai mual, rasa asam di mulut, hingga sesak mendadak. Keluhan tersebut biasanya berkaitan dengan posisi tubuh dan aktivitas lambung.

Sementara itu, serangan jantung memiliki karakter nyeri yang berbeda. Rasa tidak nyaman di dada umumnya berat, tertekan, atau terasa seperti dihimpit.

Meski demikian, serangan jantung juga bisa disertai nyeri ulu hati dan mual. Kondisi inilah yang membuat banyak orang keliru menafsirkan tanda bahaya.

Menurut dr Vito, ada ciri penting yang lebih mengarah ke serangan jantung. “Biasanya disertai keringat dingin, sesak napas, dan nyeri yang bisa menjalar ke lengan, leher, atau punggung,” katanya.

Pada sebagian orang, gejala serangan jantung bahkan tidak muncul sebagai nyeri dada. Hal ini sering terjadi pada perempuan, lansia, atau penderita diabetes.

Pada kelompok tersebut, serangan jantung bisa terasa seperti gangguan lambung biasa. Akibatnya, penanganan sering terlambat dan risiko komplikasi meningkat.

Pertanyaan lain yang sering muncul di masyarakat adalah soal nyeri tekan di ulu hati. Banyak yang beranggapan, jika ditekan terasa sakit berarti hanya GERD.

Dr Vito menjelaskan bahwa anggapan tersebut memang ada benarnya. Namun, hal itu tidak bisa dijadikan patokan tunggal.

“Nyeri karena GERD sering bertambah saat ulu hati ditekan, tetapi ada pasien yang memiliki GERD kronis dan pada saat bersamaan juga mengalami serangan jantung,” jelasnya. Dua kondisi ini dapat terjadi bersamaan dan saling menutupi gejala.

Hal paling penting yang perlu dipahami, kata dr Vito, adalah bahwa GERD dan penyakit jantung merupakan dua penyakit yang berbeda. “GERD tidak menyebabkan sumbatan jantung, dan sumbatan jantung tidak menyebabkan GERD,” tegasnya.

GERD juga tidak menyebabkan henti jantung. Sebaliknya, serangan jantung dapat berujung pada henti jantung yang fatal.

Karena itu, nyeri ulu hati tidak boleh langsung dianggap sebagai masalah lambung. Terutama jika disertai keringat dingin, mual hebat, muntah, atau sesak napas.

Kewaspadaan harus lebih tinggi pada orang dengan faktor risiko. Di antaranya tekanan darah tinggi, diabetes, obesitas, kolesterol tinggi, dan kebiasaan merokok.

Dalam kondisi ragu, langkah paling aman adalah segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Pemeriksaan klinis dan EKG diperlukan untuk memastikan diagnosis.

Lebih baik dinyatakan hanya GERD setelah diperiksa. Daripada menyesal karena terlambat menangani serangan jantung. Jika ragu, jangan menebak-nebak. Pemeriksaan lebih dini bisa menyelamatkan nyawa.

Editor: Dhimas Ginanjar

Tag:  #kasus #lula #lahfah #jadi #pengingat #vito #damay #ungkap #beda #nyeri #gerd #serangan #jantung

KOMENTAR