Survei WEF Ungkap 5 Tantangan Ekonomi Dunia, Indonesia Perlu Waspada?
Laporan World Economic Forum (WEF) bertajuk Global Risks Report 2026 melaporkan minimnya peluang ekonomi atau lack of economic opportunity menjadi sebagai salah satu dari sepuluh risiko global terbesar dalam jangka pendek.
Risiko ini berkaitan dengan kondisi pengangguran, masalah gaji, hingga sulitnya mobilitas pekerja muda.
Berdasarkan laporan tersebut, secara umum dunia digambarkan tengah menghadapi ancaman krisis iklim, konfrontasi geopolitik, hingga bayang-bayang krisis ketenagakerjaan yang serius.
Ilustrasi ekonomi, perekonomian. Laporan tersebut memberikan sinyal peringatan bagi negara-negara berkembang atau kerap disebut global south, termasuk Indonesia.
Pasalnya, transformasi teknologi dan tekanan makroekonomi berpotensi memperlebar jurang ketimpangan tenaga kerja.
Global south atau belahan bumi selatan sendiri merupakan istilah geopolitik yang digunakan untuk menyebut negara-negara berkembang yang mencakup beberapa negara di Asia, Afrika, hingga Amerika Latin.
Adapun, salah satu sorotan utama dalam laporan ini adalah dampak ganda dari adopsi akal imitasi (AI) terhadap pasar kerja.
Meskipun beberapa pihak optimistis AS akan menciptakan efisiensi, tetapi AI diprediksi akan mendisrupsi struktur pekerjaan secara masif.
"Sekitar 54 persen eksekutif bisnis memperkirakan bahwa AI akan menggantikan pekerjaan yang ada, sementara hanya 24 persen yang memperkirakan akan ada penciptaan pekerjaan baru," tulis laporan WEF tersebut, dikutip Minggu (25/1/2026).
Dengan demikian, kondisi ini menuntut adaptasi cepat dari angkatan kerja yang ada. WEF memperingatkan adanya risiko kemajuan yang tersendat (stalled progress).
Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Hal ini ditandai dengan laju adopsi teknologi berlari jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan sistem pendidikan untuk mencetak talenta yang relevan.
Ancaman kesenjangan keterampilan bagi pekerja Indonesia
Bagi Indonesia yang tengah menikmati bonus demografi, temuan ini menjadi sebuah peringatan.
Laporan yang sama menyebutkan bahwa hampir separuh, atau tepatnya 44 persen, dari keterampilan inti (core skills) pekerja saat ini diprediksi akan terganggu atau tidak lagi relevan pada 2027.
Adapun, ketika hal tersebut tidak dapat diantisipasi dengan program pelatihan ulang (reskilling) yang masif, kesenjangan keterampilan (skills gap) ini dapat memicu tingkat pengangguran struktural.
Di sisi lain, pada negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah, persepsi terhadap dampak AI cenderung skeptis.
Tercatat, hanya sepertiga responden di kelompok negara ini yang yakin teknologi tersebut akan membawa dampak positif, di tengah kekhawatiran hilangnya mata pencaharian tanpa jaring pengaman sosial yang memadai.
Tekanan ekonomi makro
Selain faktor teknologi, pasar tenaga kerja juga diproyeksikan akan dihantui oleh risiko ekonomi makro. Laporan WEF menyoroti bahwa inflasi yang persisten dan penurunan ekonomi (economic downturn) menjadi risiko baru yang mengancam stabilitas pekerjaan.
Tekanan biaya hidup dan perlambatan pertumbuhan dapat memaksa perusahaan melakukan efisiensi ketat.Hal ini berpotensi berujung pada pembekuan rekrutmen atau pemutusan hubungan kerja (PHK), yang pada akhirnya memperburuk risiko kurangnya peluang ekonomi bagi masyarakat.
Laporan ini menegaskan bahwa tanpa intervensi kebijakan yang tepat untuk menciptakan peluang kerja yang layak, krisis ekonomi ini dapat memicu dampak sosial turunan.
"Seperti meningkatnya aktivitas ekonomi ilegal sebagai alternatif mata pencaharian masyarakat yang terdesak," ungkap laporan tersebut.
Tag: #survei #ungkap #tantangan #ekonomi #dunia #indonesia #perlu #waspada