Perdagangan Iran dan China Beralih ke Kereta Api di Tengah Blokade Selat Hormuz
Ilustrasi rel kereta api. (THINKSTOCKPHOTOS)
11:56
10 Mei 2026

Perdagangan Iran dan China Beralih ke Kereta Api di Tengah Blokade Selat Hormuz

- Iran mulai meningkatkan perdagangan dengan China melalui jalur kereta api untuk mengurangi dampak blokade Amerika Serikat (AS) terhadap pelabuhan-pelabuhannya.

Langkah itu dilakukan ketika tekanan ekonomi terhadap Teheran makin besar akibat perang dan pembatasan perdagangan internasional.

Menurut sumber yang mengetahui pengiriman tersebut, jumlah kereta barang dari Xi’an, China, menuju Teheran meningkat tajam sejak blokade dimulai pada 13 April 2026.

Sebelum konflik, hanya ada sekitar satu kereta per pekan. Kini, kereta berangkat setiap tiga hingga empat hari sekali.

Baca juga: AS Sanksi Entitas di China dan Timur Tengah yang Dituding Bantu Militer Iran

Biaya logistik juga melonjak. Tarif pengiriman satu kontainer standar 40 kaki di jalur tersebut kini mencapai 7.000 dollar AS atau sekitar Rp 121,6 juta, dengan kurs Rp 17.377 per dollar AS.

Nilai itu sekitar 40 persen lebih mahal dibanding tarif normal.

Jalur kereta tersebut melewati Kazakhstan dan Turkmenistan sebelum masuk ke Iran.

Meski begitu, kapasitas jalur darat dinilai masih jauh dari cukup untuk menggantikan jalur laut yang terganggu akibat blokade AS.

Baca juga: Perang Iran Dinilai Ubah Sistem Energi Dunia, Industri Migas Bersiap Hadapi Era Baru

Blokade tekan ekonomi Iran

Operasi angkatan laut AS yang dimulai sekitar tiga pekan lalu membuat Iran kesulitan mengekspor minyak dan mengimpor kebutuhan penting seperti gandum.

Tekanan terhadap ekonomi Iran mulai terlihat dari nilai tukar rial yang terus melemah. Situasi itu juga memperbesar ketergantungan Iran terhadap China. Saat ini, Beijing menjadi pembeli utama minyak Iran.

Untuk sementara, perdagangan lewat jalur kereta masih didominasi pengiriman barang dari China ke Iran.

Muatan kereta antara lain suku cadang otomotif, generator listrik, hingga produk elektronik.

Pejabat Iran juga mulai mempertimbangkan penggunaan jalur kereta untuk ekspor petrokimia dan bahan bakar pada masa mendatang.

“Sebelumnya kereta-kereta ini tidak pernah beroperasi sama sekali selama beberapa minggu. Sekarang sudah penuh dipesan untuk bulan Mei,” kata Direktur Pelaksana Silkroad-Avrasya Multimodal Logistics, Altan Dursun.

Menurut dia, kapasitas tambahan juga sedang disiapkan mulai Juni.

Satu rangkaian kereta dari Xi’an membawa sekitar 50 kontainer 40 kaki.

Jumlah itu jauh lebih kecil dibanding kapal kontainer besar yang mampu mengangkut ribuan kontainer sekaligus.

Perusahaan Kereta Api Republik Islam Iran belum memberikan komentar terkait peningkatan aktivitas tersebut.

China jaga keseimbangan politik

Sejak perang pecah pada akhir Februari 2026 akibat serangan AS dan Israel terhadap Iran, China berulang kali menyerukan gencatan senjata.

Beijing juga membantah mengirim senjata ke Iran.

Dalam beberapa hari terakhir, diplomasi China di kawasan Timur Tengah meningkat menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping pekan depan.

China baru saja menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz “sesegera mungkin”.

Sehari setelahnya, Senator Partai Republik AS Steve Daines menyampaikan terima kasih kepada China atas upayanya mendorong penghentian perang.

Analis menilai posisi China cukup rumit karena Beijing juga memiliki hubungan dagang besar dengan negara-negara Teluk Persia lainnya.

Selama dua dekade terakhir, China telah membangun investasi dan proyek konstruksi senilai sekitar 270 miliar dollar AS atau sekitar Rp 4.691 triliun di kawasan tersebut.

Iran bangun jalur alternatif

Jalur Xi’an merupakan bagian dari strategi jangka panjang Iran untuk memperluas koridor logistik dan mengurangi ketergantungan pada jalur laut.

Pada Oktober 2025, Iran mulai mengekspor solar lewat jalur kereta menuju Afghanistan melalui rel Khaf-Herat sepanjang 225 kilometer.

Kemudian pada Februari 2025, China meresmikan jalur kereta barang langsung menuju Hairatan di Afghanistan utara.

Uzbekistan dan Afghanistan juga mengumumkan rencana memperpanjang jalur kereta hingga Herat, kota yang hanya berjarak sekitar 130 kilometer dari perbatasan Iran.

Media pemerintah Iran, Press TV, sebelumnya menyebut jalur Xi’an sebagai “solusi penting untuk berjaga-jaga agar perdagangan bilateral terhindar dari cengkeraman hegemoni AS”.

Selain ke China, Iran juga tengah mempercepat proyek koridor utara-selatan yang menghubungkannya dengan Rusia.

Ketua komite kontainer asosiasi pelayaran Iran, Kambiz Etemadi, mengatakan sekitar 40 persen perdagangan laut Iran berpotensi dialihkan ke jalur darat.

Permintaan truk dari Turki menuju Iran juga meningkat sejak blokade dimulai.

Sebagian besar mengangkut bahan pangan dan minyak bunga matahari.

Iran juga mulai memperkuat kerja sama logistik dengan Pakistan.

Duta Besar Iran untuk Pakistan bertemu dengan menteri perkeretaapian Pakistan pekan ini untuk membahas peningkatan volume pengiriman barang.

Tekanan ekonomi di dalam negeri

Terputusnya sebagian besar akses pelabuhan Iran membuat jalur impor alternatif menjadi sangat penting untuk menjaga pasokan domestik.

Pelemahan nilai tukar rial juga memicu lonjakan inflasi dan keresahan sosial.

Protes besar sempat terjadi pada Januari 2026 setelah mata uang Iran jatuh ke titik terendah baru terhadap dollar AS.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu menuduh sejumlah pedagang melakukan penimbunan dan mencari keuntungan di tengah krisis.

Ia menegaskan pemerintah akan mengambil “tindakan serius terhadap setiap pelanggaran yang mengganggu perdamaian masyarakat.”

Tag:  #perdagangan #iran #china #beralih #kereta #tengah #blokade #selat #hormuz

KOMENTAR