Taiwan Jadi Pusat Konflik Utama AS dan China, Mengapa?
Kapal induk China Shandong (kiri) diawasi oleh kapal perang Taiwan kelas Keelung di Selat Taiwan pada 13 September 2023.(KEMENTERIAN PERTAHANAN TAIWAN via AFP)
17:06
14 Mei 2026

Taiwan Jadi Pusat Konflik Utama AS dan China, Mengapa?

- Saat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bertemu Pemimpin China Xi Jinping di Beijing, dengan Taiwan jadi isu paling penting.

Dikutip dari CBS News, Rabu (13/5/2026), Beijing menyebut Taiwan sebagai inti dari kepentingan utama China, dengan reunifikasi, bahkan dengan kekerasan, sebagai pusat agenda Xi.

Dalam banyak hal, China dan Taiwan memiliki kesamaan, terutama dalam sejarah, bahasa, dan budaya.

Baca juga: Bertemu Xi Jinping, Trump Bungkam Ditanya Wartawan soal Taiwan 


Namun, selama hampir 80 tahun terakhir, Taiwan telah berkembang menjadi sesuatu yang bukan dimiliki China.

Taiwan, sebuah pulau yang memiliki pemerintahan sendiri, merupakan negara demokrasi yang berkembang pesat dengan ekonomi kapitalis yang dinamis.

Saat ini, Taiwan termasuk kekuatan ekonomi dengan PDB per kapita yang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Baca juga: Peringatan Xi Jinping, AS-China Bisa Perang karena Masalah Taiwan

Taiwan jadi pusat konflik AS-China

Taiwan merupakan salah satu titik rawan konflik terbesar antara AS dan China, satu-satunya wilayah di mana peperangan terbuka antara dua kekuatan militer raksasa itu mungkin terjadi.

Taiwan sangat penting bagi perekonomian AS. Negara ini memproduksi lebih dari 90 persen semikonduktor tercanggih di dunia.

Hal itu sangat penting untuk mendukung kecerdasan buatan (AI) dan pertahanan, sehingga menjadikannya tak tergantikan dalam rantai pasokan global.

"Ada banyak sekali hal yang dipertaruhkan dalam hubungan ini," kata Jonathan Czin, peneliti di John L. Thornton China Center di Brookings Institution, mengenai hubungan AS-Taiwan.

Baca juga: Jalur Maritim Jadi Senjata, Selat Malaka dan Taiwan Bisa Lebih Bahaya dari Hormuz

Sementara itu, China telah menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri pada 1949, ketika kaum nasionalis kalah dalam Perang Saudara melawan komunis dan melarikan diri dari daratan utama.

Beijing ingin mengeklaim kepemilikan dan secara rutin menggelar latihan militer di sekitar Taiwan sebagai bentuk unjuk kekuatan yang terus-menerus.

Meski demikian, Washington tetap teguh dalam membela sekutu kecil di Asia ini dari raksasa tetangganya tersebut.

Namun, ada kekhawatiran yang semakin meningkat bahwa Presiden Trump dapat mengubah hal itu, yang akan berdampak di seluruh dunia.

Baca juga: Taiwan Tuduh China Selundupkan Sayur Lewat Vietnam

Ada kekhawatiran soal kesepakatan AS dan China

Presiden AS Donald Trump (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Balai Besar Rakyat di Beijing pada 14 Mei 2026. AFP/Kenny Holston Presiden AS Donald Trump (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Balai Besar Rakyat di Beijing pada 14 Mei 2026.

Selama beberapa dekade, AS menolak mengakui klaim Partai Komunis China atas Taiwan dan telah memasok senjata senilai miliaran dolar setiap tahunnya ke pulau tersebut untuk mempertahankan diri.

Namun, paket persenjataan baru senilai 14 miliar dollar AS (Rp 245 triliun) untuk Taiwan masih menunggu tanda tangan Trump selama berbulan-bulan.

Dan banyak orang di Taiwan khawatir Xi akan menggunakan kesepakatan perdagangan untuk melemahkan dukungan AS atau mengubah status quo.

Baca juga: Xi Jinping Sambut Era Baru Hubungan China dan AS yang Stabil

Ditambah komentar Trump baru-baru ini bahwa ia bersedia membahas penjualan senjata AS ke Taiwan dengan Xi Jinping, memicu kekhawatiran tersebut.

"Tentu ada kekhawatiran dia (Trump) akan menukar penjualan senjata itu dengan sesuatu yang lain, Anda tahu, apakah itu bantuan untuk Iran, atau semacam konsesi ekonomi," ujar Czin.

"Pendekatan transaksional Presiden Trump adalah bahwa semuanya dapat dinegosiasikan."

Baca juga: Xi Jinping kepada Trump: Kita Seharusnya Jadi Mitra, Bukan Saingan

Sebagian besar warga Taiwan menolak reunifikasi dengan China

Menurut survei, kurang dari 10 persen penduduk Taiwan mendukung reunifikasi dengan China, dan kekhawatiran jatuh di bawah kendali Komunis semakin meningkat.

"Sejak demokratisasi, kami telah menikmati kebebasan berbicara, demokrasi, dan masyarakat yang beragam," kata wakil menteri luar negeri Taiwan, Chen Ming-chi, kepada CBS News dalam sebuah wawancara awal bulan ini.

Dia menyebut, Taipei telah melewati masa lalu yang otoriter dan melihat demokrasi sebagai sesuatu yang telah mereka raih.

Baca juga: Perang Iran Bikin Taiwan Ragukan Senjata AS, Tak Yakin Bisa Lawan China

“Rakyat Taiwan sangat menghargai hal itu. Jadi kami tidak akan pernah menerima satu negara, dua sistem," tambahnya.

Menlu Chen mengatakan bahwa ia memandang AS sebagai sekutu yang dapat diandalkan dan tidak khawatir AS akan meninggalkan Taiwan.

"AS dapat mengandalkan kami sebagaimana kami dapat mengandalkan AS," tegas Chen.

"Apakah kami percaya pada komitmen AS? Ya. Mereka adalah mitra kami yang dapat diandalkan. Mungkin mitra yang paling dapat diandalkan," sambungnya.

Tag:  #taiwan #jadi #pusat #konflik #utama #china #mengapa

KOMENTAR