Produksi Telur Melimpah Bisa Bikin Harga Anjlok, Apa Jurus Kementan?
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan DKPPP Kota Cirebon memanen telur ayam di kandang yang mengusung konsep urban farming di halaman belakang kantor DKPPP pada Senin (13/4/2026) siang.(Kompas.com/ MUHAMAD SYAHRI ROMDHON)
12:04
10 Mei 2026

Produksi Telur Melimpah Bisa Bikin Harga Anjlok, Apa Jurus Kementan?

- Produksi telur ayam ras yang melimpah di Kabupaten Magetan memicu kekhawatiran peternak terhadap potensi anjloknya harga di tingkat kandang.

Pasokan yang terus meningkat membuat pemerintah mempercepat penyerapan telur agar surplus produksi tidak berubah menjadi tekanan bagi peternak rakyat.

Pemerintah menilai surplus produksi telur perlu dikelola secara cepat dan terukur agar tidak menekan harga di tingkat peternak.

Karena itu, percepatan penyerapan, distribusi, dan penguatan konsumsi terus didorong untuk menjaga stabilitas subsektor perunggasan nasional.

Baca juga: Harga Telur Anjlok, Kementan Janji Berpihak Ke Peternak

Langkah tersebut dibahas dalam rapat koordinasi antara Kementerian Pertanian (Kementan), Badan Pangan Nasional (Bapanas), Pemerintah Kabupaten Magetan, dan pelaku usaha pada Jumat (8/5/2026).

Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Makmun mengatakan, pemerintah terus memperkuat hilirisasi dan perluasan pasar hasil peternakan agar produksi peternak rakyat terserap optimal.

“Pemerintah terus memperkuat hilirisasi, distribusi, dan perluasan pasar agar hasil produksi peternak dapat terserap lebih optimal. Fokus utama kami adalah menjaga keberlanjutan usaha peternak rakyat sekaligus memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi,” ujar Makmun dalam keterangan pers.

Kementan juga meminta pemerintah daerah mengatur dan menertibkan pedagang maupun peternak yang menjual telur jauh di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP).

Pemerintah menilai pengendalian di tingkat daerah penting agar harga telur tetap berada dalam rentang HAP sehingga peternak masih memperoleh keuntungan dan mampu menjaga produksi.

Sesuai arahan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman, pemerintah memastikan perlindungan terhadap peternak rakyat tetap menjadi prioritas di tengah dinamika pasar.

Pemerintah optimistis penguatan penyerapan telur, distribusi antardaerah, pengendalian biaya produksi, dan peningkatan konsumsi protein hewani mampu menjaga stabilitas subsektor perunggasan nasional.

Baca juga: Harga Telur di Magetan Anjlok, BGN: SPPG Optimalkan Menu Telur

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan Nur Haryani mengatakan, pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah langkah untuk membantu penyerapan produksi telur peternak.

“Pemerintah daerah akan memfasilitasi penyerapan telur melalui gerakan pembelian telur oleh ASN serta kampanye konsumsi telur kepada masyarakat. Ini menjadi langkah awal yang bisa segera dilakukan untuk membantu peternak,” ujar Nur Haryani.

Pemerintah Kabupaten Magetan juga memperkuat penyerapan telur melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), bantuan sosial, dan program pemenuhan gizi masyarakat lainnya.

Menurut dia, penyerapan telur melalui MBG akan ditingkatkan dari sebelumnya satu kali menjadi tiga kali dalam seminggu agar produksi peternak rakyat lebih banyak terserap.

“Penyerapan telur melalui Program MBG akan kami tingkatkan dari sebelumnya satu kali menjadi tiga kali dalam seminggu. Harapannya, produksi peternak bisa lebih banyak terserap,” katanya.

Pemerintah daerah juga memperkuat program konsumsi telur melalui kegiatan posyandu, Pemberian Makanan Tambahan (PMT), pencegahan stunting, dan program sosial lainnya.

Langkah tersebut diharapkan membantu menjaga harga telur di tingkat peternak sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap protein hewani.

Untuk menekan biaya produksi, bantuan jagung subsidi melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) mulai disalurkan pada Sabtu (9/5/2026).

Bantuan tersebut diharapkan membantu meringankan biaya pakan dan menjaga keberlanjutan usaha peternak rakyat.

Harga telur ayam di tingkat peternak dilaporkan turun dalam beberapa waktu terakhir akibat melimpahnya produksi nasional yang tidak diimbangi penyerapan pasar.

Peternak juga menilai rendahnya serapan telur untuk program MBG ikut memperparah penurunan harga.

Presidium PINSAR Petelur Nasional Yudianto Yosgiarso mengatakan, produksi telur ayam nasional saat ini mencapai sekitar 18.000 ton atau setara 280 juta butir per hari.

Produksi yang tinggi tersebut dinilai tidak sebanding dengan daya serap pasar, terutama saat daya beli masyarakat melemah.

Harga telur di tingkat kandang kini turun dari sekitar Rp 26.500 per kilogram menjadi Rp 21.000 per kilogram.

Menurut peternak, harga tersebut sudah berada di bawah biaya operasional produksi.

Tag:  #produksi #telur #melimpah #bisa #bikin #harga #anjlok #jurus #kementan

KOMENTAR