Di Balik Kejatuhan Nicolas Maduro, Ada Orang Dalam yang Diam-diam Rapat di Doha
Jatuhnya Nicolas Maduro dari puncak kekuasaan Venezuela disebut tidak semata-mata dipicu tekanan Amerika Serikat (AS), melainkan juga melibatkan manuver senyap dari lingkaran elite Caracas sendiri.
Dugaan tersebut menguat setelah muncul informasi tentang pertemuan tertutup di luar negeri yang membahas masa depan Venezuela tanpa kehadiran Maduro.
Dalam pusaran isu ini, nama Wakil Presiden Delcy Rodriguez mencuat sebagai tokoh sentral dalam skema transisi kekuasaan.
Rapat rahasia di Doha
Sejumlah pejabat Venezuela disebut menggelar pembicaraan tertutup di Doha, Qatar, untuk mendiskusikan arah pemerintahan pasca-Maduro.
Pertemuan itu berlangsung tanpa kehadiran Maduro, sementara Wakil Presiden Delcy Rodriguez bersama saudaranya, Jorge Rodriguez, justru tampil memimpin dialog.
Seorang anggota senior keluarga kerajaan Uni Emirat Arab dikabarkan berperan sebagai perantara antara rezim Venezuela dan Presiden AS Donald Trump, di tengah meningkatnya tekanan militer Washington terhadap Caracas.
Menurut laporan Miami Herald, Delcy Rodriguez secara langsung menjalin komunikasi dengan pihak AS dan memosisikan diri sebagai figur yang dinilai “lebih dapat diterima” untuk memimpin Venezuela dibandingkan Maduro.
Langkah ini memicu spekulasi bahwa transisi kekuasaan telah dirancang dari dalam, bukan semata hasil tekanan eksternal.
“Madurismo tanpa Maduro”
Rangkaian informasi yang muncul sejak Oktober menggambarkan skenario pergantian kepemimpinan yang tetap mempertahankan struktur kekuasaan lama.
Konsep itu disebut sebagai “Madurismo tanpa Maduro”, yakni kelanjutan rezim dengan wajah baru agar transisi berlangsung tanpa gejolak besar, kerusuhan, atau pembongkaran total sistem negara.
Pada Sabtu (3/1/2026), Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa AS akan “mengelola” Venezuela melalui pemerintahan transisi yang dipimpin Delcy Rodriguez, sambil menyiapkan masuknya perusahaan minyak Amerika.
“Dia pada dasarnya bersedia melakukan apa yang kami anggap perlu untuk membuat Venezuela kembali besar,” ujar Trump kepada wartawan, merujuk pada Delcy Rodriguez yang sebelumnya pernah dikenai sanksi AS atas perannya dalam melemahkan demokrasi Venezuela.
Tuduhan Pengkhianatan dari Lingkaran Internal
Isu keterlibatan orang dalam semakin menguat setelah pernyataan mantan Wakil Presiden Kolombia, Francisco Santos Calderon.
Pada Minggu (4/1/2026), Santos menyebut penyingkiran Maduro sebagai operasi internal yang melibatkan Delcy Rodriguez.
Ia mengaku “sangat yakin” bahwa Maduro dibiarkan ditangkap oleh AS tanpa perlawanan berarti.
“Mereka tidak menyingkirkannya, mereka menyerahkannya,” kata Santos.
“Saya benar-benar yakin Delcy Rodriguez menyerahkannya. Semua informasi yang kami miliki, jika dirangkai, menunjukkan ini adalah operasi di mana mereka menyerahkannya,” ujarnya lagi.
Santos juga menegaskan bahwa Trump telah menunjuk Delcy Rodriguez sebagai pemimpin pemerintahan transisi.
“Dia sangat jelas tentang peran yang akan dimainkannya dan dia akan berusaha mendapatkan sedikit kemandirian,” kata Santos.
Profil Delcy Rodriguez
Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez, membuat gestur di depan potret mendiang Presiden Venezuela Hugo Chavez dan pembebas Simon Bolivar selama presentasi anggaran tahun fiskal 2026 di Kongres Nasional di Caracas pada 4 Desember 2025. Pemerintah Venezuela memaparkan anggaran untuk tahun 2026 pada 4 Desember 2025, yang jika dihitung dalam dolar, sebesar 12 persen lebih rendah dari anggaran yang disetujui untuk tahun 2025, sambil mengecam ?penempatan pasukan militer AS yang mengerikan? di Karibia. Terpisah, ia kini menjabat sebagai pemimpin sementara Venezuela setelah AS menangkap Maduro pada Sabtu (3/1/2026).
Delcy Rodriguez, 56 tahun, merupakan seorang pengacara dengan kedekatan kuat pada sektor minyak.
Ia menduduki posisi wakil presiden sejak 2018 dan telah menjadi bagian dari pemerintahan sejak Hugo Chavez terpilih pada 1999.
Rekam jejaknya mencakup jabatan menteri luar negeri, ketua majelis konstituante, serta menteri minyak dan keuangan.
Pakar Amerika Latin dari Atlantic Council, Geoff Ramsey, menilai Delcy Rodriguez mampu mempertahankan citra kiri ideologisnya sekaligus “menjadi wajah dari liberalisasi ekonomi relatif”.
Kebijakan tersebut dinilai membantu Venezuela keluar dari krisis ekonomi parah hingga 2021, ketika ekonomi negara itu menyusut hingga tiga perempat dan hampir delapan juta warganya meninggalkan tanah air.
Capaian itu membuat Delcy mendapat dukungan dari sebagian kalangan bisnis yang dekat dengan pemerintah.
“Mereka mulai melihatnya sebagai figur yang dapat diprediksi dan efektif,” ujar analis risiko politik Venezuela, Pedro Garmendia.
Dinamika kekuasaan di dalam rezim
Latar belakang keluarga Delcy Rodriguez juga memberi pengaruh besar dalam politik internal Venezuela.
Ayahnya dikenal sebagai tokoh revolusioner yang pernah memimpin operasi penculikan seorang pengusaha Amerika dalam jaringan gerilya komunis.
Sementara itu, saudaranya, Jorge Rodriguez, kini menjabat ketua parlemen dan menjadi aktor penting dalam negosiasi dengan AS.
“Delcy dan Jorge adalah duo kuat dalam rezim,” kata Garmendia.
“Keduanya belajar bertahan dan berkembang di bawah tekanan dan sanksi Amerika Serikat.”
Meski demikian, Ramsey mengingatkan bahwa Delcy Rodriguez menghadapi tantangan besar untuk menjaga koalisi internal dan menghindari cap sebagai “boneka AS”.
“Menjaga semua pihak tetap bersatu tidak akan mudah. Sejauh ini dia tampak mampu melakukannya, tetapi kita bisa berasumsi tidak semua berjalan baik di dalam partai,” ujarnya.
Bagaimana masa depan Venezuela?
Trump menyatakan, tidak akan mengirim pasukan ke Venezuela selama Delcy Rodriguez memenuhi keinginan AS.
Namun, arah kebijakan Washington terhadap pemerintahan transisi itu masih belum sepenuhnya jelas.
Pejabat AS menegaskan bahwa hubungan bilateral akan sangat bergantung pada sejauh mana kepentingan Amerika diakomodasi, seraya mengingatkan opsi militer tetap terbuka.
Di sisi lain, Delcy Rodriguez muncul di televisi pemerintah dengan sikap menantang, menuntut pembebasan segera Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.
Pada saat yang sama, Trump disebut telah menyingkirkan pemimpin oposisi Maria Corina Machado dengan alasan minimnya dukungan, terutama dari militer.
Situasi ini memperkuat anggapan bahwa perubahan kekuasaan di Venezuela lebih ditentukan oleh kompromi elite dan manuver orang dalam, bukan oleh kemenangan oposisi atau gelombang revolusi rakyat.
Tag: #balik #kejatuhan #nicolas #maduro #orang #dalam #yang #diam #diam #rapat #doha