Dari Iran sampai Venezuela, Kenapa Trump Suka Cawe-cawe Negara Lain?
- Serangan Amerika Serikat ke Venezuela pada Sabtu (3/1/2026) mengulang kejadian campur tangan pemerintahan Presiden Donald Trump ke urusan negara lain.
Sebelumnya, Trump memerintahkan pengeboman fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025 untuk membantu sekutunya, Israel.
Kedua kejadian itu bahkan bukan hal asing bagi Trump, yang memang terkenal sering cawe-cawe kepentingan mancanegara.
Di pemilu Honduras, misalnya, Presiden ke-47 AS itu secara terang-terangan mendukung kandidat dari kubu konservatif kanan, Nasry Asfura.
Ia pun mengancam Honduras akan mendapat konsekuensi serius jika otoritas pemilu terbukti menguntungkan lawan Asfura.
Padahal, Honduras adalah negara kecil yang secara geopolitik relatif tidak signifikan bagi "Negeri Paman Sam".
Ingin dunia bergerak sesuai kepentingannya
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat melakukan konferensi pers mengenai serangan AS ke Venezuela, di Palm Beach, Negara Bagian Florida, Sabtu (3/1/2026). Pengakuan Donald Trump soal konsumsi aspirin dosis tinggi selama puluhan tahun memicu peringatan dokter tentang risiko perdarahan dan bahaya meniru kebiasaan medis tanpa konsultasi.Menurut Cathryn Cluver-Ashbrook, pakar transatlantik dari Yayasan Bertelsmann-Stiftung, Trump melihat posisinya sebagai orang nomor satu di Gedung Putih secara imperial.
Ia disebut menikmati saat dunia bergerak mengikuti kepentingan pribadinya, bukan semata-mata berdasarkan prinsip kebijakan luar negeri klasik AS.
“Dia memahami perannya di Gedung Putih hampir secara imperial, dan ia senang ketika dunia bergerak sesuai kepentingannya, khususnya di belahan bumi Barat. Dan perlu ditekankan bahwa itu kepentingannya pribadi, bukan kepentingan klasik kebijakan luar negeri Amerika,” ujar Cluver-Ashbrook, dikutip dari DW Indonesia.
Salah satu kawasan yang menjadi fokus dominan dalam kebijakan luar negeri Trump adalah Amerika Latin.
Politisi Partai Republik itu disebut kerap menggunakan pendekatan tekanan militer dan diplomasi koersif di wilayah tersebut.
“Operasi militer di dekat Venezuela, intimidasi terhadap kepala negara Kolombia, rekomendasi pemilu di Honduras disertai ancaman,” tambah Cluver-Ashbrook.
Pakar itu juga menyinggung soal pertukaran mata uang senilai 20 miliar dollar AS (Rp 334,32 triliun) antara Amerika dan Argentina yang diprakarsai Trump, untuk membantu Presiden Javier Milei mengatasi krisis likuiditas negaranya.
“Ini menunjukkan munculnya kebijakan baru yang sudah lama tidak dilakukan AS terhadap negara-negara tetangganya di Amerika Latin dan Selatan,” ujarnya.
Eropa juga kena
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (kiri) saat berdebat sengit mengenai kesepakatan mineral langka di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, AS, Jumat (28/2/2025).Namun, intervensi Trump tidak hanya terjadi di Amerika Latin.
Di Eropa, Trump secara terbuka mendukung sejumlah pemimpin dan partai nasionalis yang kerap berseberangan dengan kebijakan Uni Eropa.
Di Polandia ia mendukung Karol Nawrocki, sedangkan di Hongaria Trump menyatakan dukungan bagi Viktor Orban.
Di Jerman, hubungan antara Pemerintah AS dan partai sayap kanan Alternatif untuk Jerman (AfD) disebut semakin dekat.
Bahkan, Washington disebut menginstruksikan diplomatnya di Eropa untuk mendorong diberlakukannya kebijakan migrasi lebih ketat.
Organisasi konservatif yang dekat dengan gerakan Make America Great Again (MAGA) seperti Heritage Foundation, juga aktif melobi untuk melawan kebijakan iklim Uni Eropa.
Organisasi ini dikenal luas sebagai pihak yang menerbitkan Project 2025, dokumen yang memuat skenario perombakan sistem pemerintahan AS jika Trump menjabat kembali.
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping berbincang saat meninggalkan bandara setelah pertemuan bilateral di Bandara Internasional Gimhae, di sela-sela KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC), di Busan, Korea Selatan, Rabu (30/10/2025).Cluver-Ashbrook menilai bahwa dokumen tersebut mencerminkan pengideologian kebijakan luar negeri AS yang semakin kental.
“Menurut dokumen tersebut, kebijakan luar negeri AS harus jauh lebih didasarkan pada nilai-nilai konservatif yang ketat,” jelasnya.
Sementara itu, Celia Belin dari European Council on Foreign Relations (ECFR) dalam studinya menyebut bahwa Trump tidak memisahkan antara kebijakan dalam negeri dan luar negeri.
“Kaum kiri dan Demokrat adalah musuh di dalam; terutama orang Eropa dianggap sebagai kepanjangan tangan mereka di luar negeri,” tulis Belin.
Dalam pandangan Trump, Uni Eropa kerap digambarkan sebagai entitas yang mengambil keuntungan dari Amerika Serikat.
Persepsi ini sejalan dengan narasi Trump terhadap Partai Demokrat di dalam negeri, yang ia nilai melemahkan kekuatan nasional.
Mantan penasihat Trump, Steve Bannon, bahkan menyebut Rusia sebagai bangsa yang taat agama dan sekutu tradisional AS.
Pandangan ini menandai pergeseran ideologis yang signifikan dalam kebijakan luar negeri AS, jauh dari prinsip-prinsip lama yang mendasari hubungan internasional Amerika.
Dengan kecenderungan ini, pemerintahan Trump disebut benar-benar meninggalkan fondasi utama kebijakan luar negeri AS dan bergerak menuju model yang lebih ideologis dan strategis.
Sumber: Kompas.com (Penulis: Danur Lambang Pristiandaru | Editor: Danur Lambang Pristiandaru)
Tag: #dari #iran #sampai #venezuela #kenapa #trump #suka #cawe #cawe #negara #lain