Bisa Pilih IQ hingga Warna Mata, Melihat Teknologi ''Bayi Custom'' dari Silicon Valley
- Pernah terbayang bisa memilih tinggi badan, kecerdasan, hingga warna mata anak sebelum mereka lahir? Teknologi yang dulu hanya ada di film fiksi ilmiah kini menjadi kenyataan. Sebuah tren bernama optimasi genetik tengah menjadi perbincangan hangat di industri bioteknologi dunia.
Dikutip dari CBS News, Nucleus Genomics, perusahaan rintisan asal Silicon Valley, kini menawarkan layanan pemetaan genetik canggih yang memungkinkan orang tua "mengintip" potensi masa depan calon buah hati mereka saat masih berupa embrio.
Kian Sadeghi, pendiri sekaligus CEO Nucleus Genomics, menegaskan bahwa informasi genetik adalah bentuk pemberdayaan bagi orang tua. Baginya, mengetahui potensi anak sejak dini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai panduan hidup.
"Kami memberikan Anda berbagai informasi lengkap tentang calon anak Anda. Kami benar-benar berpikir bahwa orang tua berhak untuk mengetahuinya," ujar Sadeghi.
Ia berargumen bahwa keinginan orang tua untuk memberikan yang terbaik adalah hal yang manusiawi dan sudah ada sejak dulu. Teknologi ini dianggap sebagai evolusi dari pola asuh konvensional. Hidup sebagai orang tua tidak berhenti pada ‘saya ingin anak saya sehat'.
"Mereka ingin kita berolahraga, mereka ingin kita bersekolah di sekolah terbaik, mereka ingin kita sukses," kata Sadeghi.
Dari Risiko Depresi Hingga Skor IQ dalam Satu Klik
Melalui program bernama IVF+, Nucleus Genomics memindai DNA lengkap dari kedua orang tua dan hingga 20 embrio hasil bayi tabung (IVF). Dengan biaya sekitar 30.000 dolar AS (sekitar Rp500 juta), orang tua akan mendapatkan laporan digital yang sangat detail.
Layanan ini mencakup lebih dari 2.000 sifat genetik, antara lain:
- Ciri Fisik: Warna mata, rambut, hingga kecenderungan jerawat.
- Karakter Kompleks: Tingkat kecerdasan (IQ) dan tinggi badan.
- Kesehatan Mental: Prediksi risiko depresi, autisme, hingga bipolar.
Sadeghi mengeklaim bahwa data ini membantu orang tua mengambil keputusan berbasis data untuk meminimalkan risiko penyakit di masa depan.
Debat Etika: Inovasi atau Eugenika Modern?
Langkah Nucleus Genomics ini tak lepas dari kritik tajam. Banyak pihak khawatir teknologi ini akan mengarah pada praktik eugenika, yaitu upaya sistematis untuk menciptakan manusia "unggul" dan menyingkirkan yang dianggap "kurang".
Namun, Sadeghi dengan tegas membantah tuduhan tersebut.
"Ini bukan eugenika sama sekali, karena ini tentang memberdayakan orang tua dengan informasi," katanya.
Meski begitu, komunitas medis seperti American College of Medical Genetics and Genomics mengingatkan bahwa bukti ilmiah untuk seleksi embrio berdasarkan skor risiko poligenik masih sangat terbatas. Ada kekhawatiran bahwa ini akan menciptakan "kekacauan etis" dan ketimpangan sosial baru.
DNA Bukanlah Takdir Mutlak
Walaupun menawarkan teknologi canggih, Sadeghi tetap mengakui bahwa faktor lingkungan memegang peranan kunci. Ia mengeklaim model genetiknya mampu memprediksi umur panjang dengan sangat akurat, namun tetap ada batasan.
"Prediktor kami dapat memprediksi umur panjang dari DNA embrio dengan lebih baik daripada model genetik lain," ujarnya.
Ia mengingatkan bagi para orang tua bahwa kode genetik hanyalah satu bagian dari teka-teki kehidupan.
"DNA bukanlah takdir. Pengasuhan, pendidikan, kerja keras, dan keberuntungan tetap berperan besar," imbuh Sadeghi.
Tag: #bisa #pilih #hingga #warna #mata #melihat #teknologi #bayi #custom #dari #silicon #valley