Pengumuman AI Zuckerberg Guncang Komunitas Ilmiah Global, Alarm Superinteligensi dan Krisis Sumber Daya Menguat
- Pernyataan terbaru dari Chief Executive Officer Meta Platforms, Inc. (Meta), Mark Zuckerberg, tentang ambisi membangun kecerdasan buatan (AI) yang bisa memperbaiki dirinya sendiri telah memicu kegelisahan di komunitas ilmiah internasional.
Di tengah optimisme investor, banyak ilmuwan dan pembuat kebijakan bereaksi dengan waspada. Wacana superinteligensi dianggap mengandung risiko besar bagi tenaga kerja dan sumber daya alam.
Laporan yang dirilis situs Kenmare Tyres menyebut AI telah mengubah pasar tenaga kerja global. Setidaknya 15 persen pekerjaan level pemula hilang atau berubah menjadi tugas gabungan yang dikerjakan manusia dan AI. Lulusan baru menjadi kelompok paling terdampak karena otomatisasi banyak mengambil alih peran awal karier.
Guncangan bukan hanya terjadi di dunia kerja. Dampak lingkungan ikut disorot. Pusat data tempat AI dilatih membutuhkan air dalam jumlah besar untuk pendinginan. Dua dari tiga pusat data terbaru sejak 2022 dibangun di wilayah yang sudah kekurangan air bersih. Hal ini membuat AI kini bukan sekadar isu teknologi, tetapi juga isu keberlanjutan sumber daya.
Dalam memo resminya, Mark Zuckerberg menulis, "Dalam beberapa bulan terakhir, kami mulai melihat tanda sistem AI kami bisa meningkatkan kemampuannya sendiri. Perubahannya masih lambat, tapi sudah jelas terlihat. Pengembangan superinteligensi kini sudah di depan mata." Pernyataan ini menandai fase baru di mana inovasi AI melaju lebih cepat dibanding kesiapan aturan global untuk memetakan risikonya.
Di kalangan ilmuwan, respons terlihat tajam. Profesor AI di New York University, Gary Marcus, menilai teknologi ini berkembang tanpa pagar yang cukup.
"Kita sedang mendorong mesin makin pintar, tapi belum punya sistem keamanan yang siap ketika semuanya menjadi otonom," ujarnya seperti dikutip The Guardian, menekankan potensi bahaya jika pengawasan tidak diperkuat.
Peringatan lain datang dari Yann LeCun. Dia menilai model AI saat ini belum benar-benar memahami dunia.
"Model berbasis bahasa hanya memproses kata, bukan realitas," katanya. Menurutnya, superinteligensi butuh pendekatan baru yang jauh lebih canggih, bukan hanya peningkatan model teks.
Di sisi perusahaan, langkah restrukturisasi ikut menarik perhatian. Meta Platforms, Inc. baru-baru ini memangkas sekitar 600 posisi di divisi AI dan memindahkan fokus ke laboratorium penelitian baru bernama Meta Superintelligence Labs. Ini memperjelas strategi baru Meta: mengejar frontier AI sambil merombak sumber daya internalnya.
Regulator global dinilai masih tertinggal. Banyak ilmuwan mendorong audit publik, batas penggunaan energi dan air, dan pengujian sebelum model dirilis. Kekhawatiran utamanya bukan hanya seberapa cepat AI menjadi pintar, tetapi siapa yang memastikan AI tetap aman saat bisa memperbarui dirinya sendiri.
Kini, memo Mark Zuckerberg dibaca sebagai alarm baru. AI bukan lagi soal chatbot yang lebih cepat, tetapi soal masa depan yang bisa mengubah tenaga kerja, ekosistem, dan kontrol manusia atas teknologi paling kuat di abad ini.
Tag: #pengumuman #zuckerberg #guncang #komunitas #ilmiah #global #alarm #superinteligensi #krisis #sumber #daya #menguat