



Mengenal Penyebab dan Gejala Autisme, Apakah Bisa Disembuhkan?
Autisme atau yang dikenal sebagai autism spectrum disorder (ASD), adalah kondisi perkembangan pada anak yang mengakibatkan gangguan dalam kemampuan komunikasi dan interaksi sosial.
Meskipun belum ada penjelasan pasti tentang penyebab autisme, namun diperkirakan bahwa faktor genetik dan lingkungan seperti paparan racun, efek samping obat-obatan, infeksi virus, dan pola hidup yang tidak sehat selama kehamilan dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan autisme.
Dikutip dari halodoc.com, Selasa (2/4), autisme spectrum disorder (ASD) atau autisme adalah gangguan perkembangan neurologis yang mempengaruhi kemampuan bahasa anak.
Hal ini menyebabkan kesulitan dalam berkomunikasi, berinteraksi, dan berperilaku, termasuk sindrom Asperger, sindrom Heller, dan gangguan perkembangan pervasif (PPD-NOS).
Ini bukan penyakit, tetapi kondisi di mana otak berfungsi secara berbeda. Penderita autisme kesulitan memahami pikiran dan perasaan orang lain serta kesulitan dalam ekspresi diri.
Mereka juga mengalami kesulitan belajar dan keterampilan mereka mungkin tidak berkembang sepenuhnya.
Autism infantil adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan autisme yang terjadi pada masa kanak-kanak, yang kini dikenal sebagai autisme pada spektrum.
Penyebab Autisme
Penyebab autisme masih belum dipahami sepenuhnya, namun beberapa gen telah diidentifikasi berkaitan dengan ASD. Gen-gen ini kadang-kadang muncul dan bermutasi secara spontan atau diwarisi dari orang tua.
Pada anak kembar, risiko autisme bisa tinggi jika salah satu memiliki gangguan ini. Perubahan di area otak juga terkait dengan ASD, memengaruhi bicara dan perilaku.
Faktor lingkungan seperti paparan zat kimia berbahaya dan infeksi selama kehamilan juga memainkan peran, meskipun bukan satu-satunya penyebab, berbeda dengan mitos tentang pola asuh, vaksinasi, dan makanan.
Gejala Autisme
Dilansir dari siloamhospitals.com, pada sebagian kasus, anak dengan autisme mengalami perkembangan normal pada tahun-tahun pertama kehidupannya, namun gejala autisme muncul saat usia 2 atau 3 tahun.
Meskipun demikian, beberapa tanda autisme bisa terlihat lebih awal, seperti penurunan kontak mata atau kurang merespon saat dipanggil, sehingga diagnosis bisa dilakukan sejak usia 18 bulan.
Penelitian menunjukkan bahwa deteksi dini memiliki dampak positif bagi penanganan autisme di masa depan.
Gejala autisme bervariasi antara individu, tergantung pada tingkat keparahan kondisi. Beberapa gejala umum meliputi kesulitan dalam interaksi sosial dan komunikasi, kesulitan memahami perasaan orang lain, sensitivitas terhadap rangsangan seperti cahaya terang atau suara keras, serta kecenderungan melakukan rutinitas berulang.
Banyak individu dengan autisme cenderung kurang tertarik untuk berinteraksi sosial dan lebih nyaman bermain sendiri.
Meskipun mungkin mengalami kesulitan dalam memahami beberapa hal, tidak semua individu dengan autisme memiliki kecerdasan di bawah rata-rata; beberapa bahkan memiliki kecerdasan rata-rata atau di atas rata-rata.
Autisme seringkali disertai dengan kondisi-kondisi lain seperti ADHD, epilepsi, depresi, disleksia, dan gangguan kecemasan.
Diagnosis Autisme
Autisme sulit untuk terdeteksi karena tidak ada tes medis khusus yang dapat secara langsung mendiagnosisnya. Proses diagnosis biasanya melibatkan pemantauan perilaku dan perkembangan anak oleh dokter, serta wawancara dengan keluarga mengenai gejala yang mungkin terjadi.
Dalam menegakkan diagnosis, dokter menggunakan kriteria dari DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, edisi kelima) sebagai panduan.
Menurut DSM-5, ciri-ciri autisme mencakup kesulitan dalam berkomunikasi dan interaksi sosial, serta adanya pola perilaku, minat, dan aktivitas yang terbatas serta berulang.
Autisme biasanya dapat didiagnosis sejak usia 18 bulan, meskipun terkadang baru terdeteksi saat anak berusia 2-3 tahun. Namun, ada juga kasus di mana autisme tidak terdiagnosis hingga remaja atau dewasa, menyebabkan penundaan dalam penanganan yang lebih dini.
Apakah Autisme Bisa Sembuh?
Autisme, atau juga dikenal sebagai autis, merupakan kondisi yang tidak dapat disembuhkan. Meskipun demikian, ada berbagai metode yang dapat membantu individu yang mengalaminya untuk menyesuaikan diri lebih baik.
Salah satu pendekatan yang umum dilakukan adalah melalui terapi perilaku dan komunikasi, serta penggunaan obat untuk mengurangi gejala gangguan perilaku.
Selain itu, terdapat juga beberapa gaya hidup yang dapat membantu dalam mengelola autisme, antara lain:
-
Membuat rutinitas yang teratur dan bermanfaat di lingkungan rumah.
-
Mengikuti penggunaan obat sesuai dengan petunjuk dari dokter yang merawat.
-
Memperhatikan kebutuhan individu sesuai dengan kondisinya.
-
Bergabung dengan komunitas autis untuk mendapatkan dukungan dan informasi tambahan.
Sampai sekarang, belum ada pengobatan yang mampu menyembuhkan autisme. Meskipun demikian, ada beberapa jenis terapi yang dapat membantu anak dengan autisme meningkatkan keterampilannya. Dengan demikian, mereka dapat berpartisipasi dalam aktivitas sebagaimana anak-anak lainnya.
Penting untuk mengenali gejala autisme pada anak agar diagnosis dan perawatan yang sesuai dapat dimulai sejak dini. Jika Anda menemukan adanya tanda-tanda autisme pada anak, disarankan untuk segera membawanya ke dokter guna mendapatkan penanganan yang tepat.
***
Tag: #mengenal #penyebab #gejala #autisme #apakah #bisa #disembuhkan