Kemenkes Beri Layanan Skrining HPV Gratis Mulai Tahun 2026
Ilustrasi deteksi dini penyakit.(FREEPIK)
20:06
28 Januari 2026

Kemenkes Beri Layanan Skrining HPV Gratis Mulai Tahun 2026

- Kementerian Kesehatan RI memastikan bahwa layanan skrining HPV bagi perempuan bisa diakses secara gratis mulai tahun ini melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). 

Kebijakan ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi lebih banyak perempuan untuk melakukan deteksi dini tanpa terbebani biaya, sekaligus memperkecil risiko keterlambatan diagnosis.

Selama ini, kanker serviks masih menjadi masalah kesehatan serius. Setiap tahun diperkirakan terdapat lebih dari 36.000 kasus baru yang terdeteksi. 

Ironisnya, sekitar 70 persen dari kasus tersebut baru diketahui ketika sudah berada di stadium lanjut. Kondisi ini membuat peluang pengobatan menjadi lebih kecil dan risiko kematian meningkat secara signifikan.

Oleh karena itu, perluasan akses skrining menjadi salah satu langkah penting yang diambil pemerintah. 

Baca juga: Vaksinasi HPV Anak Jadi Prioritas Demi Eliminasi Kanker Serviks 2030

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid menegaskan, skrining kanker leher rahim kini telah terintegrasi dalam layanan kesehatan dasar pemerintah.

“Skrining kanker leher rahim itu sudah bagian dari Cek Kesehatan Gratis mulai tahun 2026 ini, hal ini juga sudah termasuk dengan pemeriksaan kanker payudara untuk perempuan di puskesmas,” katanya dalam Diseminasi Nasional Hasil Proyek Percontohan Skrining Kanker Leher Rahim dengan pendekatan DNA HPV dan model hub-and-spoke, di Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Selasa (27/1/2026).

Dengan integrasi ini, perempuan tidak hanya mendapat layanan skrining HPV, tetapi juga pemeriksaan kanker payudara dalam satu rangkaian layanan kesehatan. 

Pendekatan ini membuat puskesmas menjadi pusat layanan preventif yang lebih komprehensif bagi perempuan.

Baca juga: Curiga Gejala Kanker Payudara, Tes Apa Saja yang Perlu Dilakukan

Diseminasi Nasional Hasil Proyek Percontohan Skrining Kanker Leher Rahim dengan pendekatan DNA HPV dan model hub-and-spoke, di Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Selasa (27/1/2026).KOMPAS.com/DEVI PATTRICIA Diseminasi Nasional Hasil Proyek Percontohan Skrining Kanker Leher Rahim dengan pendekatan DNA HPV dan model hub-and-spoke, di Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Selasa (27/1/2026).

Masuk program CKG, akses skrining makin luas

Masuknya skrining kanker serviks ke dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi langkah strategis untuk memperluas jangkauan layanan. 

Selama ini, banyak perempuan yang belum pernah melakukan pemeriksaan karena keterbatasan akses, minimnya informasi, atau kendala biaya.

Selain itu, Nadia juga menyoroti bahwa pemeriksaan HPV DNA belum menjadi standar di banyak paket medical check-up (MCU) rumah sakit.

“Terkadang di beberapa rumah sakit itu paket MCU tidak ada pemeriksaan HPV DNA, hanya Pap Smear. Kami akan mendorong agar MCU bisa memasukan pemeriksaan HPV DNA agar lebih terpercaya,” ujarnya.

Baca juga: Mulailah Cek Mamografi untuk Kanker Payudara di Usia 40 Tahun

Komitmen pemerintah untuk menggeser pendekatan skrining dari metode konvensional menuju pemeriksaan berbasis DNA HPV yang dinilai lebih akurat dalam mendeteksi risiko kanker serviks sejak dini. 

Dengan demikian, kualitas skrining diharapkan semakin meningkat dan hasilnya bisa lebih dapat diandalkan.

Melalui kebijakan ini, perempuan tidak perlu lagi bingung mencari layanan skrining yang terjangkau. 

Pemerintah ingin memastikan bahwa pemeriksaan HPV DNA tidak hanya tersedia di fasilitas kesehatan tertentu, tetapi juga dapat diakses secara luas oleh masyarakat.

Baca juga: Self-Sampling HPV DNA: Terobosan Pencegahan Kanker Serviks

Solusi bagi perempuan yang merasa malu diperiksa

Salah satu tantangan terbesar dalam skrining kanker serviks adalah faktor psikologis. Banyak perempuan yang enggan melakukan pemeriksaan karena merasa malu atau tidak nyaman jika sampel harus diambil oleh orang lain.

Nadia menyebutkan, metode self sampling HPV DNA menjadi solusi atas persoalan tersebut.

“Self Sampling HPV DNA ini jadi solusi bagi para perempuan yang tidak mau periksa karena malu atau kurang nyaman jika sampelnya diambilkan orang lain,” jelasnya.

Setiap perempuan yang akan melakukan pengambilan sampel mandiri akan diedukasi agar memahami langkah-langkah yang harus dilakukan, sehingga proses skrining terasa lebih aman dan nyaman. 

Baca juga: HPV DNA Self-sampling, Cara Nyaman Deteksi Dini Kanker Serviks

Kesempatan yang harus dimanfaatkan

Perwakilan Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI), Dr. dr. Tofan Widya Utami, SpOG(K) menegaskan, kebijakan skrining HPV gratis ini adalah kesempatan besar yang tidak boleh disia-siakan.

“Tes HPV itu kalau biaya sendiri harganya bisa mencapai Rp 2 juta dan sekarang sudah gratis dibantu oleh pemerintah. Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin,” ujar dr.Tofan.

Selama ini, tingginya biaya pemeriksaan menjadi salah satu penghalang utama perempuan untuk melakukan tes HPV. 

Dengan harga yang bisa mencapai jutaan rupiah, skrining menjadi sesuatu yang dianggap mahal dan tidak prioritas, terutama bagi masyarakat dengan keterbatasan ekonomi. 

Baca juga: Bisa Sebabkan Kanker Serviks, Ketahui Gejala hingga Risiko Infeksi HPV

Ia juga meluruskan anggapan bahwa hasil positif HPV otomatis harus menjalani tindakan medis tertentu.

“Kalau hasil tes HPV positif, belum tentu harus di thermal ablasi, tapi kami akan lihat stratifikasi dan algoritmanya, lalu bisa menentukan pengobatan terbaik. Penyakit ini bisa dieliminasi,” katanya.

Hasil skrining akan dianalisis lebih lanjut untuk menentukan langkah medis yang paling tepat sesuai kondisi pasien. 

Baca juga: Penularan HPV Tidak Hanya lewat Hubungan Seksual, Ini Penjelasan Dokter

Tag:  #kemenkes #beri #layanan #skrining #gratis #mulai #tahun #2026

KOMENTAR