Anggota DPR: Output Ekonomi dari Pariwisata Bisa Lebih Besar dari Tambang
- Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana, mengatakan, potensi ekonomi dari sektor pariwisata bisa lebih besar dari sektor pertambangan.
"Kalau kita bandingkan total dari sektor pariwisata di Bali itu output ekonominya dan juga tenaga kerja yang bergerak di bidang pariwisata itu bisa lebih besar ketimbang sektor pertambangan yang ada di Papua," kata Bonnie dalam rapat.
Hal ini ditegaskannya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panja Pelestarian Cagar Budaya Komisi X yang menghadirkan perwakilan Kementerian Pariwisata, Kementerian Ekonomi Kreatif, dan Kementerian Lingkungan Hidup di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Baca juga: Kritik Pakar UGM Soal Pembangunan Ekstraktif: Banjir Sumatera Bukti Lemahnya Daya Dukung Lingkungan
Bonnie pun memaparkan data, sumbangan pariwisata terhadap PDB nasional mencapai sekitar seribu triliun rupiah dan menyerap 25 juta pekerja.
Menurutnya, jika sektor pariwisata difokuskan, Indonesia tidak perlu lagi membuka pertambangan secara masif.
"Dengan kata lain, kalau kita mau serius atau mau menyeriusi pariwisata ini kita nggak perlu lagi membuka tambang secara masif. Karena pariwisata itu lebih sustainable dan tidak melakukan destruksi, kerusakan alam, lingkungan, dan juga bukan hal yang saya kira ekstraktif," ujarnya lagi.
Lebih lanjut, anggota Fraksi PDI-P ini juga menyoroti potensi besar sekaligus tantangan pengembangan destinasi berbasis cagar budaya, seperti Situs Muara Jambi yang ada di Jambi.
Ia mengungkapkan, kawasan cagar budaya seluas 3.000 hektare di sana bersinggungan dengan aktivitas batu bara.
"Bahkan ada beberapa temuan arkeologis di sana yang ketimbun sama stockpile-nya batu bara," ujarnya.
Ahli sejarah ini pun memandang Muara Jambi memiliki potensi besar karena merupakan pusat peradaban Buddha dan terkait dengan tokoh ternama seperti Atisha Dipankara.
"Dalam sebuah wawancara pernah Dalai Lama itu bicara bahwa guru kami itu dari Swarnadwipa, dari Sumatera, dari Muara Jambi. Bisa dibayangkan kalau kita kelola narasi itu secara profesional," kata dia.
Selain itu, Bonnie menekankan pentingnya membangun narasi yang kuat dan mengelola destinasi tempat wisata dengan tekun. Ia mencontohkan kisah fiksi Hans Brinker di Belanda yang berhasil menjadi daya tarik wisata utama.
"Kalau misalkan di Sumatera Barat kita punya, siapa namanya dulu? Siti Nurbaya. Maling Kundang. Nah ini kan kita tuh enggak tekun, kita tuh penyakitnya inisiatif banyak, tapi enggak tekun dikelola," katanya.
Tekankan faktor hospitality
Di kesempatan ini, ia menekankan salah satu faktor krusial tempat pariwisata adalah aspek hospitality atau keramahan masyarakat sekitar.
Bonnie juga mengkritik masih adanya praktik penembakan harga atau pungutan liar ada di tempat wisata.
Salah satu yang sempat viral terjadi di Carita, Banten. Hal ini dinilainya sebagai contoh buruk yang merusak pariwisata.
"Hospitality-nya gak ada. Itu syarat utama saya pikir dari pariwisata itu, hospitality," tegas Bonnie.
Tag: #anggota #output #ekonomi #dari #pariwisata #bisa #lebih #besar #dari #tambang