Penyebab Terlalu Sering Kentut Menurut Dokter
- Setiap manusia pasti pernah kentut. Bahkan, rata-rata seseorang bisa kentut sekitar 14 kali dalam sehari.
Meskipun kentut adalah aktivitas alami manusia, beberapa orang mungkin merasa bahwa frekuensi mereka kentut, jauh lebih tinggi dari angka normal tersebut.
Apa yang membuat seserang terlalu sering kentut, dan kapan harus mewaspadainya? Berikut jawaban para ahli, dilansir dari Huff Post, Minggu (8/2/2026).
Baca juga: Rahasia di Balik Bunyi Kentut, Kenapa Ada yang Senyap dan Nyaring?
Mengapa seseorang kentut?
Profesor program studi Kedokteran di Medical College of Georgia, Augusta University, Dr. Satish Rao, menuturkan bahwa kentut adalah fenomena fisiologis yang merupakan produk sampingan dari proses fermentasi di usus besar.
Fermentasi tersebut menghasilkan gas yang terdiri dari nitrogen, oksigen, karbon dioksida, metana, hidrogen, dan berbagai gas lainnya.
Fakta menariknya, lebih dari 99 persen kentut sebenarnya tidak berbau. Bau tak sedap muncul karena adanya senyawa sulfur dalam jumlah sangat kecil. Sayangnya, hidung manusia sangat peka terhadap sulfur, bahkan dalam kadar mikroskopis.
"Setelah gas terbentuk, hanya ada dua jalur keluarnya. Sebagian gas akan diserap dari dinding usus besar ke aliran darah, lalu dikeluarkan lewat napas,” tutur Rao.
“Namun, jalur lainnya adalah kentut. Gas pada akhirnya akan keluar. Jika jumlahnya banyak, dan terbentuk terlalu cepat, tubuh tidak sempat menyerapnya, sehingga gas tersebut terdorong keluar lewat anus," sambung dia.
Secara umum, kentut beberapa kali sehari bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan, menurut peneliti pascadoktoral dari Monash University dan Hudson Institute of Medical Research, Dr. Cait Welsh.
“Dalam banyak kasus, keluarnya gas justru menandakan pencernaan dan mikrobiota usus bekerja dengan baik dan sehat," ujar Welsh.
Meski gas diproduksi sepanjang hari, seseorang lebih mudah kentut saat tidur. Hal ini terjadi karena sfingter anus menjadi lebih rileks, sehingga gas lebih mudah keluar.
Baca juga: Dosen IPB Ungkap Penyebab Ubi Bikin Kentut dan Siapa yang Harus Batasi Konsumsinya
Siapa yang paling sering kentut?
Siapa pun bisa ketut, termasuk publik figur terpandang. Mereka yang mengonsumsi makanan berkarbohidrat setiap hari, pasti akan kentut setiap hari.
Namun, profesor madya program studi Kedokteran di University of Caligornia Los Angeles Dr. Folasade P. May mengungkapkan, memang ada orang-orang yang menghasilkan gas lebih banyak dibanding yang lain.
“Orang yang sering mengunyah permen karet, minum minuman berkarbonasi, atau makan terlalu cepat, cenderung menelan lebih banyak udara, yang dapat menyebabkan kentut,” jelas dia.
“Selain itu, ada juga orang yang memiliki bakteri usus penghasil gas lebih banyak. Pola makan, kecepatan pencernaan, hingga obat-obatan, juga memengaruhi seberapa banyak gas yang diproduksi dan dikeluarkan," lanjut May.
Lebih lanjut, situasi yang membuat hidup tertekan juga bisa meningkatkan frekuensi kentut. May menerangkan, stres dan kecemasan karena apapun, dapat memengaruhi sistem pencernaan.
“Terutama pada orang dengan sindrom iritasi usus besar atau gangguan fungsional saluran cerna lainnya, stres bisa mengubah cara dan kecepatan tubuh mencerna makanan, sehingga kentut terasa lebih parah,” ucap dia.
Makanan yang bisa meningkatkan frekuensi kentut
Dokter spesialis gastroenterolog anak dan profesor madya pediatri di Monash University, Dr. Ed Giles, mengatakan, kelompok makanan yang paling dikenal sebagai pemicu gas adalah makanan FODMAP, singkatan dari Fermentable Oligosaccharides, Disaccharides, Monosaccharides, dan Polyols.
Giles menuturkan, kata kuncinya adalah "fermentable". Artinya, makanan tersebut mudah difermentasi dan menghasilkan gas.
“Makanan ini menjadi sumber makan bakteri usus, lalu bakteri tersebut memproduksi gas, termasuk metana yang berbau,” ujar dia.
May menyebut beberapa contoh makanan FODMAP yang sering jadi biang kentut, seperti kacang-kacangan, lentil, bawang bombay, bawang putih, sayuran seperti brokoli dan kubis, serta beberapa jenis gandum utuh dan buah-buahan.
“Bagi orang yang tidak toleran laktosa, konsumsi produk susu juga bisa meningkatkan produksi gas,” kata May.
Baca juga: 12 Hal yang Bisa Jadi Penyebab Kamu Kentut Terus
Kapan kentut perlu diwaspadai?
Gas mulai menjadi masalah ketika disertai rasa nyeri, mengganggu aktivitas, atau terasa sangat berbeda dari pola biasanya.
Jika seseorang kentut lebih dari 23 atau 24 kali sehari secara rutin dan hal ini menimbulkan keluhan, kondisi tersebut layak diperiksa lebih lanjut.
Meski demikian, pada sebagian orang, frekuensi yang lebih tinggi masih bisa tergolong normal, tergantung pola makan dan kondisi kesehatannya.
“Yang terpenting, jika kentut berlebihan berlangsung terus-menerus atau disertai nyeri, penurunan berat badan, diare, atau adanya darah pada tinja, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis. Dokter dapat membantu menelusuri penyebabnya,” kata May.
Beberapa kondisi yang biasanya perlu disingkirkan antara lain penyakit celiac, penyakit radang usus, sindrom iritasi usus besar, intoleransi laktosa atau makanan lain, kekurangan enzim pankreas, serta pertumbuhan bakteri berlebih di usus halus.
Gangguan jaringan ikat seperti sindrom Ehlers-Danlos dan penyakit lain seperti multiple sclerosis, juga dapat disertai peningkatan produksi gas.
Dokter mungkin akan meminta pasien untuk mencatat asupan makanan harian dan, ya, bahkan menghitung jumlah kentut setiap hari.
Pada akhirnya, perlu diingat bahwa setiap orang pernah mengalami kentut di waktu yang kurang tepat dan tetap baik-baik saja.
Jadi, selama kentut tidak disertai rasa sakit atau gejala mencurigakan, kemungkinan besar itu hanyalah bagian normal dari tubuh yang bekerja sebagaimana mestinya.
Baca juga: Tanda-tanda Kentut Tidak Normal yang Harus Diwaspadai