Memar di Tangan Donald Trump Disebut Akibat Aspirin Dosis Tinggi, Dokter Ingatkan Risikonya
Memar yang terlihat di tangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu perhatian publik setelah ia mengaitkannya dengan kebiasaan mengonsumsi aspirin dosis tinggi setiap hari.
Trump mengaku rutin mengonsumsi aspirin 325 miligram dan menyebut obat tersebut membuatnya lebih mudah memar, meski dokter telah menyarankan dosis yang lebih rendah.
Kasus ini kemudian memunculkan pembahasan medis lebih luas tentang risiko aspirin jangka panjang, terutama pada kelompok usia lanjut.
Aspirin dan memar, apa penjelasan medisnya?
Dalam laporan CNN, aspirin dijelaskan bekerja dengan menghambat fungsi trombosit, sel darah yang berperan penting dalam proses pembekuan.
Efek ini bermanfaat untuk mencegah pembentukan bekuan darah penyebab serangan jantung dan stroke, tetapi sekaligus membuat perdarahan kecil lebih mudah terjadi, termasuk di bawah kulit.
Ahli jantung dari George Washington University, Dr. Jonathan Reiner, menegaskan bahwa aspirin kerap disalahpahami sebagai obat yang “mengencerkan darah.”
“Aspirin tidak membuat darah menjadi cair, tetapi membuat darah lebih sulit membeku,” ujar Reiner, seperti dikutip dari The Hill.
Dosis tinggi tidak selalu memberi manfaat tambahan
Ilustrasi obat. Memar yang dikaitkan Donald Trump dengan konsumsi aspirin dosis tinggi membuka diskusi medis tentang meningkatnya risiko perdarahan, terutama pada kelompok usia lanjut.
Dokter kepresidenan Trump, Sean Barbabella, mengonfirmasi bahwa Trump mengonsumsi aspirin 325 miligram per hari.
Namun, dosis rendah aspirin yang umum digunakan berada di kisaran 75–100 miligram, dengan 81 miligram sebagai dosis yang paling sering direkomendasikan.
Reiner menilai tidak ada dasar medis kuat untuk menggunakan aspirin dosis tinggi secara rutin.
“Dosis 325 miligram meningkatkan risiko perdarahan, tetapi tidak meningkatkan efektivitas perlindungan terhadap pembekuan darah,” katanya.
Risiko pada usia lanjut
Dokter spesialis jantung Dr. Rahul Sharma menjelaskan bahwa memar akibat aspirin merupakan efek langsung dari mekanisme kerja obat tersebut.
“Aspirin menghambat trombosit, sehingga darah lebih mudah merembes ke jaringan sekitar, bahkan akibat benturan ringan yang sering tidak disadari,” ujar Sharma, seperti dikutip dari India Today.
Ia menambahkan bahwa risiko tersebut meningkat seiring bertambahnya usia.
“Pada usia lanjut, kulit menjadi lebih tipis dan pembuluh darah lebih rapuh, sehingga memar lebih mudah terlihat,” katanya.
Aspirin harian kini makin dibatasi
Sejumlah dokter yang diwawancarai Reuters menyebutkan bahwa penggunaan aspirin harian kini tidak lagi direkomendasikan secara luas, terutama untuk pencegahan pertama penyakit jantung pada orang berusia di atas 70 tahun.
Risiko perdarahan dinilai lebih besar dibandingkan manfaatnya, sehingga aspirin hanya dianjurkan pada pasien dengan indikasi medis yang jelas dan di bawah pengawasan dokter.
Pesan kesehatan di balik kasus tangan memar
Laporan Times Now News menyebutkan bahwa memar yang tampak sepele bisa menjadi tanda awal efek samping obat yang perlu dievaluasi lebih lanjut.
Dokter mengingatkan bahwa aspirin adalah obat dengan efek sistemik yang kuat, bukan sekadar pereda nyeri biasa.
Penggunaannya, terutama dalam dosis tinggi dan jangka panjang, perlu dipertimbangkan secara hati-hati, terutama pada kelompok usia lanjut.
Tag: #memar #tangan #donald #trump #disebut #akibat #aspirin #dosis #tinggi #dokter #ingatkan #risikonya