Menkes Budi Ungkap 3 Tantangan Kesehatan Menuju Indonesia Emas 2045
– Indonesia tengah menyiapkan diri menuju Indonesia Emas 2045, sebuah visi besar untuk menjadikan bangsa ini sebagai negara maju dengan sumber daya manusia yang unggul, sehat, dan produktif.
Di balik optimisme tersebut, masih ada tantangan besar di sektor kesehatan yang perlu segera ditangani secara serius dan berkelanjutan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan, kualitas kesehatan ibu dan anak menjadi fondasi utama untuk memastikan tercapainya target tersebut.
3 Isu Utama yang Harus Diatasi untuk Mencapai Indonesia Emas 2045
Ia menekankan, masalah kesehatan bukan hanya soal angka statistik, tetapi sangat menentukan kualitas generasi masa depan dan daya saing bangsa secara ekonomi.
Menurut Budi, jika Indonesia ingin benar-benar mencapai visi Indonesia Emas 2045, maka perhatian besar harus diberikan pada tiga isu utama. Simak ulasan berikut ini.
1. Menurunkan angka kematian ibu
Ilustrasi
Tantangan pertama yang disoroti Menkes Budi adalah masih tingginya angka kematian ibu di Indonesia.
Ia menjelaskan, kematian ibu bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga berdampak langsung terhadap potensi ekonomi bangsa.
“Jika kita memiliki angka kematian ibu atau anak yang tinggi, maka jumlah orang yang produktif akan dikurangi. Kemungkinan pendapatan bisa yang mencapai 14.000 USD per kapital akan berkurang,” ujarnya.
Hal itu, ia katakan dalam acara “Bayer Perkuat Ekosistem Kesehatan Nasional: Resmikan Peningkatan Kapabilitas Lini Produksi MMS dan R&D” yang digelar di Depok, Jawa Barat, Rabu (14/1/2026),
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa kesehatan ibu memiliki korelasi langsung dengan kualitas generasi penerus.
Seorang ibu yang sehat memiliki peluang lebih besar melahirkan anak yang sehat, tumbuh optimal, dan kelak menjadi individu yang produktif secara ekonomi.
Lebih jauh, Menkes Budi menegaskan, angka kematian ibu yang tinggi mencerminkan masih adanya kesenjangan akses terhadap layanan kesehatan, terutama layanan kesehatan ibu hamil, persalinan yang aman, serta perawatan pascapersalinan.
Hal ini menjadi pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan bersama oleh pemerintah, tenaga kesehatan, dan sektor swasta.
Menurutnya, peningkatan kualitas layanan kesehatan ibu bukan sekadar target kesehatan, melainkan investasi jangka panjang bagi pembangunan nasional.
Tanpa perbaikan signifikan di sektor ini, Indonesia akan kesulitan mencapai standar negara maju yang diidamkan pada 2045.
2. Menurunkan angka kematian anak
Selain kematian ibu, angka kematian anak juga menjadi sorotan utama. Menkes Budi mengungkapkan fakta yang memprihatinkan tentang kondisi kesehatan bayi di Indonesia.
“Di Indonesia, setiap jamnya akan ada 3,7 bayi yang meninggal. Bayangkan berapa banyak generasi penerus yang meninggal setiap hari bahkan dalam satu tahun,” katanya.
Angka tersebut menunjukkan bahwa masalah kesehatan anak masih sangat serius. Kematian bayi dan anak usia dini berarti hilangnya potensi generasi penerus yang seharusnya bisa tumbuh menjadi sumber daya manusia unggul.
Ia juga menekankan, keberhasilan Indonesia Emas 2045 sangat bergantung pada kondisi kesehatan ibu dan anak saat ini.
“Jika ibu dan anaknya tidak sehat dan angka kematiannya terus meningkat, maka untuk mencapat generasi emas di tahun 2045 itu akan semakin sulit,” lanjutnya.
Kualitas generasi mendatang tidak bisa dilepaskan dari kondisi kesehatan dasar sejak masa kehamilan hingga usia balita.
Tanpa intervensi yang kuat, konsisten, dan merata, Indonesia akan menghadapi tantangan besar dalam mencetak generasi produktif di masa depan.
Upaya menurunkan angka kematian anak membutuhkan pendekatan yang komprehensif, mulai dari perbaikan gizi, imunisasi, akses air bersih, sanitasi, hingga edukasi kesehatan bagi keluarga.
3. Menekan angka stunting
Tantangan ketiga yang tidak kalah penting adalah stunting. Ia menyebut, meskipun angka stunting di Indonesia sudah berada di bawah 20 persen, jumlah tersebut masih tergolong sangat besar jika dilihat dari skala populasi kelahiran nasional.
“Terakhir ada stunting yang angkanya di indonesia kurang dari 20 persen. Tapi itu tetap jumlah yang sangat besar, sebab bayi yang lahir di indoesia itu 4,8 juta setiap tahun,” ujarnya.
Ia kemudian memberikan gambaran yang mudah dipahami mengenai besarnya angka tersebut.
“Angka tersebut hampir sama dengan populasi Singapura. Maka, stunting harus ditekan supaya tumbuh kembang anak Indonesia membaik dan menjadi generasi yang cerdas,” katanya.
Stunting tidak hanya berdampak pada tinggi badan anak, tetapi juga memengaruhi perkembangan otak, kecerdasan, dan produktivitas di masa dewasa.
Anak yang mengalami stunting berisiko lebih tinggi memiliki kemampuan belajar yang rendah dan produktivitas kerja yang terbatas ketika dewasa nanti.
Oleh karena itu, penanganan stunting bukan hanya soal kesehatan, melainkan juga soal pembangunan kualitas sumber daya manusia.
Menkes Budi menegaskan, upaya menekan stunting harus dilakukan secara serius, mulai dari pemenuhan gizi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif, makanan pendamping ASI yang berkualitas, hingga edukasi gizi bagi masyarakat.
Fondasi Indonesia Emas 2045 ada pada kesehatan ibu dan anak
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin dalam acara Bayer Perkuat Ekosistem Kesehatan Nasional: Resmikan Peningkatan Kapabilitas Lini Produksi MMS dan R&D”, di Depok, Jawa Barat, Rabu (14/1/2026).
Kesehatan ibu dan anak adalah fondasi utama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Jika ketiga tantangan besar tersebut tidak ditangani dengan baik, maka target besar Indonesia untuk menjadi negara maju dengan pendapatan per kapita tinggi akan sulit tercapai.
Ia menegaskan, menurunkan angka kematian ibu, menurunkan angka kematian anak, dan menekan angka stunting bukan hanya tugas Kementerian Kesehatan, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.
Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, tenaga kesehatan, serta masyarakat menjadi kunci untuk mempercepat pencapaian target tersebut.
Tag: #menkes #budi #ungkap #tantangan #kesehatan #menuju #indonesia #emas #2045