Pola Makan Tak Bisa Disamaratakan, Ini Penjelasan Food Genomics Menurut Dokter
Pernah mendengar mengenai food genomics?
Ilmu nutrisi berbasis genetika ini menekankan bahwa kebutuhan nutrisi setia individu berbeda, tergantung pada kode genetik masing-masing.
Dokter Spesialis Gizi Klinik di Primaya Hospital Bekasi Barat, dr. Davie, menjelaskan bahwa food genomics merupakan terapi nutrisi yang disesuaikan dengan profil genetik seseorang.
Pendekatan ini diharapkan mampu membantu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara lebih tepat sasaran.
“Food genomics dapat menjadi alat pendukung dalam menentukan pola makan yang lebih personal, sehingga berkontribusi pada perbaikan tren kesehatan masyarakat Indonesia dalam sepuluh tahun ke depan,” kata dr. Davie, dikutip dari Antara, Sabtu (10/1/2026).
Food genomics bekerja dengan memahami bagaimana variasi gen memengaruhi respons tubuh terhadap makanan.
Perbedaan genetik ini berperan dalam proses metabolisme, penyerapan nutrisi, hingga potensi munculnya intoleransi atau alergi makanan.
Karena itu, satu pola makan tertentu bisa memberikan hasil yang berbeda pada setiap orang.
“Tidak ada satu pola makan yang cocok untuk semua orang. Perbedaan kode genetik memengaruhi cara tubuh merespons nutrisi, sehingga pendekatan ini bersifat sangat personal,” ujarnya pula.
Bagaimana tes food genomics dilakukan?
Tes food genomics umumnya dilakukan melalui pengambilan sampel darah atau air liur.
Sampel tersebut kemudian dianalisis untuk melihat variasi gen yang berkaitan dengan metabolisme nutrisi.
Proses analisis memerlukan waktu sekitar satu hingga dua minggu.
Hasil tes selanjutnya akan diinterpretasikan oleh dokter spesialis gizi klinik.
Dari sana, pasien akan mendapatkan rekomendasi nutrisi yang lebih spesifik, mulai dari pengaturan makronutrien seperti karbohidrat, protein, dan lemak, hingga kebutuhan mikronutrien tertentu.
Rekomendasi yang diberikan juga dapat mencakup asupan vitamin, seperti vitamin D, lemak esensial omega-3, serta saran aktivitas fisik yang sesuai dengan kondisi tubuh masing-masing individu.
Tidak berubah, tetapi tetap perlu disesuaikan
Secara genetik, hasil tes nutrigenomik bersifat relatif tetap karena kode genetik seseorang tidak berubah.
Namun, dalam penerapannya, pendekatan ini tetap perlu mempertimbangkan faktor lain di luar genetik.
“Secara teori, hasil nutrigenomik tidak berubah karena genetik seseorang bersifat tetap. Tetapi pada penerapannya tetap perlu mempertimbangkan faktor epigenetik dan lingkungan, seperti pola hidup, stres, dan aktivitas fisik. Karena itulah diet yang berhasil pada satu orang belum tentu efektif pada orang lain,” tambah dr. Davie.
Faktor epigenetik dan lingkungan tersebut dapat memengaruhi cara gen bekerja, sehingga rekomendasi nutrisi tetap perlu disesuaikan secara berkala dengan kondisi kesehatan dan gaya hidup individu.
Membantu mengenali risiko intoleransi makanan
Selain menyusun pola makan yang lebih personal, panel nutrigenomik juga dapat memberikan gambaran mengenai potensi alergi atau intoleransi terhadap jenis makanan tertentu.
Informasi ini penting untuk membantu individu menghindari asupan yang berisiko memicu gangguan kesehatan, seperti gangguan pencernaan atau peradangan.
Meski demikian, dr. Davie menegaskan bahwa food genomics bukanlah pengganti prinsip dasar hidup sehat.
Pendekatan ini lebih berperan sebagai alat pendukung dalam perencanaan nutrisi yang lebih presisi.
Masyarakat tetap dianjurkan untuk memulai dari langkah-langkah sederhana, seperti makan secara teratur, tidak melewatkan waktu makan, serta memastikan komposisi makanan yang lengkap dan seimbang.
Pola hidup aktif, pengelolaan stres, dan istirahat yang cukup juga tetap menjadi fondasi utama kesehatan.
Dengan pendekatan yang semakin personal, food genomics membuka peluang baru dalam dunia nutrisi untuk membantu masyarakat memahami kebutuhan tubuhnya secara lebih mendalam, tanpa meninggalkan prinsip dasar hidup sehat.
Tag: #pola #makan #bisa #disamaratakan #penjelasan #food #genomics #menurut #dokter